Sepatu Justin Bieber Terjual Rp430 Juta, Ternyata Bukan karena Dipakai di Piala Dunia Saja

Sepatu Justin Bieber yang dikenakan saat halftime show Final Piala Dunia FIFA laku sekitar Rp430 juta dalam lelang amal. Seluruh hasil penjualan, ditambah donasi dari brand SKYLRK, digunakan untuk mendukung pendidikan dan sepak bola bagi anak-anak di berbagai negara.

Lanio Giostanov
By
Lanio Giostanov
Lanio Giostanov
Permanent Writer
Lanio Giostanov adalah penulis termuda di Bali Reporter yang punya hubungan tidak sehat dengan tombol "Play Again." Dia mendedikasikan tulisannya untuk dunia game, dan hampir semua...
- Permanent Writer
Sepatu Justin Bieber Terjual Rp430 Juta
Highlights
  • Sepatu yang dipakai Justin Bieber saat tampil di final Piala Dunia FIFA terjual sekitar Rp430 juta dalam lelang amal.
  • Seluruh hasil lelang disumbangkan untuk program pendidikan dan sepak bola anak-anak di berbagai negara.
  • Brand milik Justin Bieber, SKYLRK, bahkan menyamai nilai hasil lelang untuk menambah donasi.

Bayangkan ada seseorang rela mengeluarkan lebih dari Rp430 juta hanya untuk membeli sepasang sepatu bekas dipakai Justin Bieber selama beberapa menit.

Kalau dipikir-pikir, yang dibeli sebenarnya bukan sekadar sneaker.

Yang dibeli adalah sebuah momen.

Sepatu itu dikenakan Justin Bieber saat tampil membawakan lagu Everything Hallelujah di halftime show Final Piala Dunia FIFA, sebuah pertunjukan yang disaksikan jutaan orang di seluruh dunia. Setelah acara selesai, Bieber tidak menyimpannya sebagai koleksi pribadi. Ia justru menyerahkannya ke rumah lelang Christie’s untuk dilelang demi kegiatan amal.

Awalnya, banyak yang memperkirakan sneaker tersebut hanya akan terjual sekitar US$2.000 hingga US$4.000.

Namun hasil akhirnya jauh melampaui ekspektasi.

Saat proses lelang ditutup, sepatu tersebut laku dengan harga US$26.400, atau sekitar Rp430 juta.

Yang membuat ceritanya semakin menarik, uang itu tidak masuk ke kantong Justin Bieber.

Seluruh hasil penjualan disumbangkan melalui program One Goal, sebuah inisiatif yang mendukung FIFA Global Citizen Education Fund. Program ini menargetkan dana hingga US$100 juta untuk membantu anak-anak mendapatkan akses pendidikan yang lebih baik sekaligus kesempatan bermain sepak bola melalui berbagai organisasi di seluruh dunia.

Bahkan, brand fashion milik Justin Bieber, SKYLRK, ikut menambah donasi dengan memberikan dana senilai hasil lelang tersebut. Artinya, kontribusi yang diberikan menjadi dua kali lipat.

Sneaker yang dilelang pun bukan sepatu biasa.

Model tersebut berasal dari lini Matter Daddy milik SKYLRK dengan warna latte yang hingga kini belum dijual ke publik. Mulai dari pakaian, aksesori, hingga earpiece yang dikenakan Bieber saat tampil juga merupakan desain khusus yang tidak tersedia di pasaran.

Di balik angka fantastis itu, ada pelajaran menarik buat anak muda.

Dulu, sneaker mungkin hanya dianggap pelengkap gaya berpakaian. Sekarang, sepatu bisa menjadi bagian dari budaya populer, koleksi bernilai tinggi, bahkan alat untuk menggalang dana sosial.

Fenomena ini juga menunjukkan bagaimana kolaborasi antara musik, olahraga, fashion, dan aksi kemanusiaan semakin sulit dipisahkan. Barang yang memiliki cerita kuat sering kali jauh lebih bernilai daripada barang yang sekadar mahal.

Bieber dan sepatu kets SKYLRK-nya. (Foto oleh David Ramos/Getty Images)
Bieber dan sepatu kets SKYLRK-nya. (Foto oleh David Ramos/Getty Images)

Justin Bieber bukan satu-satunya artis yang menyumbangkan memorabilia untuk lelang tersebut. Penyanyi Shakira dan grup BTS juga ikut menyumbangkan koleksi eksklusif mereka dalam acara yang sama.

Jadi, mungkin pertanyaan yang lebih menarik bukan lagi, ā€œKenapa ada orang mau membeli sepatu bekas sampai ratusan juta rupiah?ā€

Melainkan, ā€œKalau sebuah barang bisa membantu membuka akses pendidikan bagi banyak anak, bukankah nilainya memang menjadi jauh lebih besar daripada sekadar sepasang sepatu?ā€

Share This Article
Lanio Giostanov
Permanent Writer
Follow:
Lanio Giostanov adalah penulis termuda di Bali Reporter yang punya hubungan tidak sehat dengan tombol "Play Again." Dia mendedikasikan tulisannya untuk dunia game, dan hampir semua yang dia bahas sudah pernah dia mainkan sendiri. Jadi kalau suatu hari dia bilang sedang kerja, jangan heran kalau yang terdengar dari kamarnya justru suara ledakan, tembakan, atau teriakan, "Satu match lagi, habis itu nulis!" Tenang aja, kalau ada game yang belum dia ulas, biasanya bukan karena malas, tapi karena dompetnya masih loading.