Nike Punya Sandal yang Bisa Memijat Kaki, Harganya Rp4 Jutaan, Worth It?

Nike dan Hyperice meluncurkan Air Zoom Hyperslide, sandal pintar dengan teknologi pijat, pemanas, dan bantalan Air Zoom. Dirancang untuk membantu proses pemulihan setelah olahraga atau aktivitas padat, produk ini akan dijual mulai 29 September dengan harga sekitar Rp4 jutaan.

Lanio Giostanov
By
Lanio Giostanov
Lanio Giostanov
Permanent Writer
Lanio Giostanov adalah penulis termuda di Bali Reporter yang punya hubungan tidak sehat dengan tombol "Play Again." Dia mendedikasikan tulisannya untuk dunia game, dan hampir semua...
- Permanent Writer
Nike Air Zoom Hyperslide
Highlights
  • Nike dan Hyperice meluncurkan Air Zoom Hyperslide, sandal pintar dengan fitur pijat dan pemanas.
  • Dilengkapi tiga tingkat panas hingga 47°C dan tiga mode getaran yang bisa diatur lewat aplikasi.
  • Dirancang untuk membantu pemulihan setelah olahraga, traveling, atau berdiri seharian.

Kalau selama ini sandal cuma dipakai buat jalan ke minimarket atau dipakai habis olahraga, Nike sepertinya ingin mengubah cara kita melihat alas kaki.

Bayangkan selesai futsal, lari pagi, nge-gym, atau bahkan setelah seharian kerja dan kuliah. Alih-alih langsung mencari alat pijat, kamu cukup memakai sandal.

Bukan sandal biasa.

Nike baru saja memperkenalkan Air Zoom Hyperslide, hasil kolaborasi dengan perusahaan teknologi pemulihan otot Hyperice. Produk ini bukan dibuat untuk meningkatkan kecepatan lari atau membuat lompatan lebih tinggi, tetapi membantu tubuh pulih lebih cepat setelah beraktivitas.

Yang membuatnya menarik adalah teknologi di balik strap bagian atas sandal.

Nike Air Zoom Hyperslide
Nike Air Zoom Hyperslide
Nike Air Zoom Hyperslide

Di sana terdapat Hyperslide Pod, modul magnetik yang bisa dilepas dan berisi sistem pemanas sekaligus getaran pijat. Pengguna bisa memilih tiga tingkat panas hingga sekitar 47 derajat Celsius serta tiga mode getaran yang bekerja dalam siklus 15 menit. Semua pengaturannya bisa dilakukan langsung dari tombol pada sandal atau melalui aplikasi Hyperice di smartphone.

Kenapa teknologi seperti ini mulai bermunculan?

Karena pemulihan tubuh kini dianggap sama pentingnya dengan latihan itu sendiri.

Dulu, recovery identik dengan atlet profesional. Sekarang, siapa pun bisa membutuhkannya. Mulai dari orang yang sering jogging, bermain basket setiap akhir pekan, pekerja yang berdiri berjam-jam, sampai mereka yang sering bepergian dengan pesawat.

Nike bahkan mengatakan produk ini dikembangkan berdasarkan masukan dari atlet profesional maupun pengguna sehari-hari yang menginginkan kombinasi bantalan empuk, panas, dan pijatan dalam satu produk.

Selain teknologinya, desain Air Zoom Hyperslide juga terlihat futuristis.

Solnya menggunakan bantalan Air Zoom sepanjang kaki untuk memberikan pijakan yang lebih empuk, sementara bagian bawah memakai outsole karet dengan pola traksi agar tetap stabil digunakan di berbagai permukaan. Pilihan warnanya dibuat minimalis, yaitu hitam dan abu-abu, sehingga mudah dipadukan dengan gaya kasual maupun sporty.

Bagi anak muda Indonesia, mungkin pertanyaan pertama bukan soal fiturnya, melainkan harganya.

Nike Air Zoom Hyperslide
Nike Air Zoom Hyperslide
Nike Air Zoom Hyperslide

Air Zoom Hyperslide dibanderol US$250, atau sekitar Rp4 jutaan, dan akan mulai dipasarkan pada 29 September melalui Nike, Hyperice, dan sejumlah toko pilihan di berbagai negara.

Memang terdengar mahal untuk ukuran sebuah sandal.

Namun yang dijual bukan hanya alas kaki. Nike mencoba menawarkan pengalaman baru, di mana proses recovery bisa dimulai bahkan sebelum kamu sampai di rumah.

Kalau tren ini sukses, bukan tidak mungkin beberapa tahun ke depan sandal pintar dengan fitur kesehatan akan menjadi hal yang biasa. Sama seperti smartwatch yang dulu dianggap barang mewah, tetapi sekarang sudah dipakai oleh banyak orang.

Mungkin kita memang sedang memasuki era ketika alas kaki tidak lagi sekadar dipakai berjalan, tetapi juga membantu tubuh kembali siap melangkah.

Share This Article
Lanio Giostanov
Permanent Writer
Follow:
Lanio Giostanov adalah penulis termuda di Bali Reporter yang punya hubungan tidak sehat dengan tombol "Play Again." Dia mendedikasikan tulisannya untuk dunia game, dan hampir semua yang dia bahas sudah pernah dia mainkan sendiri. Jadi kalau suatu hari dia bilang sedang kerja, jangan heran kalau yang terdengar dari kamarnya justru suara ledakan, tembakan, atau teriakan, "Satu match lagi, habis itu nulis!" Tenang aja, kalau ada game yang belum dia ulas, biasanya bukan karena malas, tapi karena dompetnya masih loading.