Di Bali, tidak semua hubungan antara wisatawan dan laki-laki lokal dimulai dari aplikasi kencan.
Sebagian justru dimulai dengan cara yang jauh lebih sederhana, bertemu di beach club, ngobrol di kafe, berselancar bareng, atau sekadar berkenalan ketika matahari mulai turun di ufuk barat. Dari obrolan santai semacam itu, kadang muncul ketertarikan.
Kadang berhenti sebagai teman minum. Kadang menjadi cerita satu malam yang tak pernah diceritakan ke siapa pun.
Dan menurut seorang pria lokal yang bicara kepada Bali Reporter, kadang ada uang yang berpindah tangan di antara semua itu.
Bukan Profesi, Tapi Kebiasaan yang Terjadi Begitu Saja
Ia tidak menyebut dirinya sebagai gigolo dalam kehidupan sehari-hari.
Lingkungannya adalah pantai, papan selancar, dan pergaulan santai dengan wisatawan asing. Ia juga tidak pernah memasang iklan atau menawarkan jasa secara terbuka lewat cara apa pun.
āBiasanya ya ketemu saja. Tidak ada saya pasang iklan atau cari tamu. Kalau cocok, ya cocok,ā katanya.
Menurutnya, istilah gigolo sering membuat orang membayangkan sesuatu yang sangat terencana, lengkap dengan tarif dan daftar pelanggan. Padahal dalam pengalamannya, kebanyakan pertemuan justru bermula dari ketertarikan biasa antar dua orang dewasa.
āKadang memang cuma minum. Kadang suka sama suka. Kadang ada yang kasih uang setelahnya. Jadi tidak selalu dari awal sudah bicara harga,ā jelasnya.
Tidak Ada Tarif Baku, Semua Tergantung Situasi
Soal nilai uang yang berpindah tangan, ia mengaku tidak ada standar yang pasti.
Kadang hanya sebatas dibayari minuman. Di kasus lain, bisa mencapai ratusan dolar AS, dengan yang paling royal pernah menyentuh angka sekitar 500 dolar AS.
āTidak ada standar. Tergantung orangnya, situasinya, dan seberapa royal dia,ā ujarnya.

Bukan Cuma Turis Muda yang Datang Mendekat
Ada satu hal yang menurutnya cukup berbeda dari bayangan kebanyakan orang soal fenomena ini.
Wisatawan perempuan yang ia temui tidak selalu berusia muda. Justru, katanya, banyak di antaranya berusia 35 tahun ke atas, datang dari berbagai negara, dengan wisatawan asal Amerika Serikat termasuk yang cukup sering ia temui.
Alasan mereka pun beragam. Ada yang memang tertarik dengan laki-laki lokal Bali. Ada yang penasaran dengan pengalaman lintas budaya. Ada pula yang sekadar ingin menikmati momen liburan tanpa membawa hubungan itu pulang ke kehidupan mereka sehari-hari.
āBanyak yang bilang mereka cuma ingin merasakan sesuatu yang berbeda selama di Bali. Setelah pulang, ya sudah,ā katanya.
Jaringan Pertemanan Ikut Berperan
Pertemuan semacam ini menurutnya tidak butuh tempat khusus.
Klub malam, kafe, pantai, sampai titik-titik kumpul wisatawan bisa jadi awal perkenalan. Kadang jaringan pertemanan juga ikut berperan, ia mengaku pernah dikenalkan lewat teman sesama anak pantai, atau lewat staf hotel yang sudah mengenalnya.
āKadang teman yang kenalkan. Kadang ada orang hotel yang sudah kenal saya,ā ujarnya.
Tapi ia menegaskan, dirinya tidak bekerja seperti jasa yang punya daftar pelanggan. Tidak ada katalog, tidak ada tarif yang ditempel, tidak ada akun khusus untuk menawarkan layanan. Semuanya bergantung pada pertemuan spontan dan kesepakatan antara orang dewasa yang terlibat.
āUang Bukan Berarti Orang Bisa Melakukan Apa Sajaā
Bagi pria ini, bagian tersulit justru bukan soal bertemu wisatawan.
Menurutnya, yang lebih penting adalah mengetahui batas diri sendiri. Sebab begitu uang mulai masuk dalam sebuah hubungan, situasinya bisa berubah dengan cepat.
āKalau saya merasa tidak nyaman, ya saya tidak mau. Uang bukan berarti orang bisa melakukan apa saja,ā tegasnya.
Dan mungkin di situlah cerita ini menjadi lebih rumit daripada sekadar istilah gigolo Bali. Di balik citra pulau ini sebagai destinasi liburan, ada hubungan-hubungan singkat yang lahir dari pertemuan spontan antara dua orang asing, tanpa rencana, tanpa ekspektasi, dan sering kali tanpa nama yang benar-benar diingat.
Sebagian mungkin hanya berlangsung sampai pagi. Sebagian lagi selesai begitu pesawat wisatawan itu lepas landas meninggalkan Bali. Dan bagi sebagian orang, memang tidak pernah ada yang perlu dibawa pulang selain cerita.
Catatan redaksi: Artikel ini merupakan hasil wawancara dengan satu narasumber dan mencerminkan pengalaman serta sudut pandang pribadinya. Bali Reporter tidak bermaksud menggeneralisasi atau menghakimi individu maupun kelompok tertentu. Nama narasumber sengaja tidak dicantumkan untuk melindungi privasinya.







