Di depan keluarga, kami adalah pasangan biasa.
Kami bekerja, menjalani rutinitas, sesekali bepergian ketika ada kesempatan, lalu pulang ke rumah yang sama setiap hari. Dari luar, tidak ada yang akan menyangka ada sesuatu yang berbeda dalam pernikahan kami.
Keluarga kami sendiri pun tidak tahu. Mereka tidak tahu bahwa istri saya bekerja sebagai escort. Dan mungkin bagian yang paling sulit dijelaskan dari semua ini adalah: saya mendukungnya, tapi saya juga cemburu. Dua hal itu, entah bagaimana, bisa hidup berdampingan dalam diri saya setiap hari.
Nama saya Spencer, 38 tahun, tinggal di Kanada. Istri saya, Jenny, 37 tahun. Nama dan sejumlah detail dalam kisah ini sudah saya ubah demi menjaga privasi kami berdua.
Saya dan Jenny saling kenal sejak sekolah menengah, saat saya 15 tahun dan dia 14 tahun. Kami berasal dari komunitas imigran yang konservatif dan religius, jadi hubungan kami sejak awal sudah terasa serius, seolah tidak ada ruang untuk main-main. Kami berpacaran, tumbuh bersama, lalu menikah. Tapi perjalanan kami ternyata tidak sesederhana yang orang lain lihat dari luar.
Awal dari Sebuah Fantasi

Semuanya bermula saat kuliah. Jenny mulai bicara soal keinginannya menjalin hubungan dengan pria lain. Awalnya hanya percakapan ringan, sekadar berbagi isi kepala. Lama-kelamaan, fantasi itu menyusup ke kehidupan intim kami, sampai suatu hari Jenny berkata ia ingin benar-benar mencobanya. Ia merasa terlalu cepat menetap dalam hubungan serius, dan ingin merasakan sesuatu yang selama ini cuma ia bayangkan.
Saya ragu. Tapi akhirnya kami membuka hubungan kami.
Bagi Jenny, perubahan itu terjadi cepat. Ia mulai bertemu pria lain, dan sesekali saya tahu, bahkan menyaksikannya langsung. Bagi saya, ada sesuatu yang aneh dari pengalaman itu, tapi bukan sekadar rasa kehilangan. Ada bagian dari diri saya yang justru menikmati kenyataan bahwa istri saya punya pengalaman berbeda, sementara hubungan kami tetap utuh. Tapi perasaan manusia memang tidak pernah sesederhana itu. Seseorang bisa merasa senang dan takut di waktu yang sama.
Ketika Semuanya Berubah Jadi Pekerjaan

Perubahan besar berikutnya datang saat seorang teman Jenny memperkenalkannya pada dunia sugar dating. Awalnya kami berdua sama-sama menolak. Jenny merasa hubungan yang melibatkan uang akan mengubah sesuatu yang selama ini ia anggap murni personal. Tapi gagasan itu tidak benar-benar hilang, dan beberapa waktu kemudian, ia mencobanya juga.
Jenny lalu menjalin beberapa hubungan dengan pria yang lebih tua. Salah satunya bertahan jauh lebih lama dari yang lain, bahkan berkembang jadi kedekatan emosional yang melampaui sekadar fisik. Saya sendiri kenal pria itu, dan itulah salah satu hal yang membuat situasi kami semakin rumit.
Setelah lulus kuliah, Jenny berhenti dari dunia itu. Kami menikah, ia membangun karier di dunia korporasi. Tapi pernikahan kami tetap punya satu kesepakatan yang beda dari kebanyakan pasangan lain: kami masih menjalani hubungan terbuka. Dan itu bahkan bukan rahasia terbesar kami. Rahasia terbesar kami adalah keluarga tidak tahu sama sekali soal ini.
Jenny sebenarnya tidak berniat kembali ke pekerjaan itu, sampai seorang pria dari masa lalunya muncul lagi dan menawarinya sejumlah uang yang sangat besar hanya untuk bertemu. Jenny awalnya menolak, tapi akhirnya menerima. Pengalaman itu membuatnya kembali memikirkan pertanyaan yang selama ini mengendap di kepalanya: apakah pekerjaan korporasi benar-benar hidup yang ia inginkan?
Selama berbulan-bulan pikirannya berubah-ubah. Kadang ia merasa dunia escort benar-benar cocok untuknya. Di waktu lain, ia takut pekerjaan itu akan membuatnya kelelahan, mendapat stigma, dan suatu hari merusak kehidupan yang sudah kami bangun bersama. Pada akhirnya, ia memilih kembali, kali ini bukan sebagai sugar baby, tapi sebagai escort profesional. Ia membangun identitasnya sendiri, membuat situs, mulai menerima klien.
Saya mendukungnya. Tapi kali ini rasanya berbeda.
Rasa Cemburu yang Tidak Pernah Benar-benar Hilang

Kalimat ini mungkin terdengar aneh, tapi begitulah yang saya rasakan: saya tidak cemburu karena ia bersama pria lain. Saya sudah lama terbiasa dengan gagasan itu. Yang membuat semuanya berbeda saat ia menjadi escort adalah skalanya. Ini bukan lagi sesuatu yang sesekali terjadi. Ini pekerjaan. Ia bisa bertemu beberapa klien dalam satu minggu, sebagian hanya sekali, sebagian lain kembali lagi.
Dan ketika jumlah orang yang terlibat makin banyak, pikiran-pikiran yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya mulai muncul. Bagaimana kalau keluarga kami tahu? Bagaimana kalau seseorang mengenalinya di jalan? Bagaimana kalau pekerjaan ini lama-lama terasa seperti pekerjaan biasa, dan diam-diam mengubah cara kami memandang satu sama lain? Saya bahkan pernah bertanya pada diri sendiri, apakah suatu hari saya akan mulai membenci semua ini.
Sejauh ini, itu belum terjadi. Jenny justru menghasilkan lebih banyak uang dibanding saat ia bekerja di dunia korporasi. Pekerjaannya juga membawanya bepergian ke berbagai negara. Tapi uang bukan satu-satunya persoalan.
Saya tidak ingin berpura-pura semuanya mudah. Ada rasa cemburu. Ada rasa malu. Ada rasa tidak nyaman. Semua itu bisa muncul bersamaan dengan rasa percaya, bahkan kebahagiaan.
Salah satu momen yang paling mengganggu saya adalah saat seorang klien mengajak Jenny bepergian sepuluh hari ke Tokyo. Tokyo adalah kota yang sudah lebih dari satu dekade ingin kami kunjungi bersama, terutama saat musim bunga sakura. Dan sekarang, istri saya justru ke sana bersama orang lain.
Saya tidak bilang padanya bahwa saya kecewa. Saya ingin dia menikmati perjalanan itu, dan tentu saja, bayarannya juga besar. Tapi dia tahu saya sedang gelisah, dan kami akhirnya membicarakannya. Mungkin justru itulah yang membuat hubungan kami masih bertahan sampai sekarang. Kami tidak selalu sepakat soal perasaan masing-masing, tapi kami selalu membicarakannya.
Dua Kehidupan yang Kami Jaga

Ada satu bagian dari pernikahan kami yang mungkin paling melelahkan: menyimpan semuanya sebagai rahasia. Di lingkungan sosial kami, kami terlihat seperti pasangan normal. Tidak ada yang tahu kehidupan pribadi kami sebenarnya. Keluarga kami berasal dari lingkungan konservatif dan religius, dan saya yakin sebagian dari mereka akan sulit menerima cara kami menjalani pernikahan ini. Karena itu, kami belajar memisahkan dua kehidupan: yang diketahui orang lain, dan yang hanya diketahui kami berdua.
Ironisnya, semakin lama kami menjalani ini, semakin saya sadar rahasia itulah yang justru jadi bagian paling berat dari hubungan kami. Bukan karena saya tidak menerima pekerjaan Jenny, tapi karena saya tahu dunia di luar rumah mungkin tidak akan menerima kami berdua.
Saya tidak sedang bilang cara kami menjalani pernikahan adalah sesuatu yang harus ditiru. Saya juga tidak berharap semua orang paham pilihan kami. Pernikahan kami hanya bekerja dengan caranya sendiri, dengan batas, aturan, percakapan, dan rasa percaya yang mungkin tidak dimiliki pasangan lain. Tapi bukan berarti saya kebal dari rasa cemburu. Saya masih bisa merasa malu. Saya masih bisa merasa takut. Dan saya masih sering bertanya-tanya, apakah suatu hari nanti semuanya akan berubah.
Yang berubah dari waktu ke waktu bukan perasaan itu sendiri, tapi cara saya menghadapinya. Dulu saya pikir cemburu berarti hubungan kami sedang gagal. Sekarang saya paham, seseorang bisa mencintai pasangannya, mempercayainya, mendukung pilihannya, sekaligus tetap merasakan cemburu di saat yang sama. Manusia memang tidak pernah hanya memiliki satu perasaan dalam satu waktu.
Ketika kami berjalan bersama di depan keluarga atau teman, tidak ada yang melihat sesuatu yang berbeda. Kami hanya pasangan biasa. Mereka tidak tahu pekerjaan Jenny, tidak tahu kesepakatan yang kami miliki, dan tidak tahu berapa banyak percakapan yang harus kami lakukan setiap hari agar semuanya tetap berjalan.
Mungkin memang tidak semua hal dalam pernikahan harus diketahui dunia. Tapi satu hal yang saya pelajari dari semua ini: pernikahan bukan cuma soal siapa yang kita cintai. Pernikahan juga soal batas yang kita sepakati, rahasia yang sanggup kita tanggung bersama, dan kejujuran yang berani kita bicarakan saat tidak ada orang lain yang melihat.
Saya tidak tahu berapa lama kehidupan kami akan seperti ini. Saya juga tidak tahu apakah suatu hari keluarga kami akan tahu semuanya. Untuk sekarang, kami masih menjalani kehidupan yang sama seperti biasa. Di luar rumah, kami pasangan biasa. Di dalam rumah, hanya kami berdua yang tahu betapa rumitnya cerita yang kami simpan.
Kisah ini merupakan adaptasi dari esai personal yang sebelumnya dipublikasikan Esquire, disadur dan disesuaikan ke dalam Bahasa Indonesia oleh redaksi Bali Reporter. Nama dan sejumlah detail dalam kisah ini telah diubah oleh sumber asli untuk menjaga privasi narasumber.







