Lagu Pro-Israel Boy George Picu Kontroversi, Kini Mundur dari Musikal Jesus Christ Superstar

Boy George membatalkan penampilannya dalam musikal Jesus Christ Superstar di London beberapa hari setelah merilis lagu pro-Israel yang memicu kontroversi. Kasus ini memperlihatkan bagaimana karya musik, AI, dan media sosial kini saling memengaruhi dalam dunia hiburan.

Giostanovlatto
By
Giostanovlatto
Giostanovlatto adalah pendiri Bali Reporter yang lebih sering bertanya "kenapa?" daripada "gimana?". Ia percaya berita yang bagus bukan yang paling cepat bikin heboh, tapi yang paling...
- Founder
Image Credit : Dave Benett/Getty Images for DKM
Highlights
  • Boy George batal tampil di musikal Jesus Christ Superstar setelah menuai kontroversi.
  • Keputusan itu muncul beberapa hari usai ia merilis lagu pro-Israel berjudul We Will Dance Again.
  • Lagu tersebut dibuat menggunakan AI dan memicu gelombang kritik di media sosial.
  • Kasus ini menunjukkan bagaimana opini publik di era digital bisa berdampak langsung pada karier seorang artis.

Hanya dalam hitungan hari, Boy George membuat dua keputusan besar yang langsung menjadi perbincangan.

Penyanyi legendaris sekaligus vokalis Culture Club itu lebih dulu merilis lagu baru bertema konflik Israel-Palestina. Tak lama setelah lagu tersebut menuai gelombang kritik di media sosial, ia memutuskan mundur dari produksi musikal Jesus Christ Superstar di London.

Banyak penggemar pun bertanya-tanya: apakah dua peristiwa itu saling berkaitan?

Boy George sejatinya dijadwalkan tampil sebagai King Herod dalam pertunjukan Jesus Christ Superstar di London Palladium pada 3–15 Agustus.

Namun melalui manajernya, Paul Kemsley, diumumkan bahwa sang penyanyi memilih tidak lagi terlibat dalam produksi tersebut. Menurut Kemsley, keputusan itu diambil agar perhatian publik tetap tertuju pada pertunjukan, bukan pada kontroversi yang sedang mengelilingi Boy George.

Ia juga meminta maaf kepada para penggemar yang sudah membeli tiket dengan harapan bisa menyaksikan penampilan sang musisi.

Kontroversi bermula ketika Boy George mengunggah lagu berjudul We Will Dance Again, yang memiliki judul dalam bahasa Ibrani. Lagu tersebut berisi lirik yang menunjukkan dukungan terhadap Israel di tengah konflik yang masih berlangsung di Gaza.

Salah satu bagian liriknya bahkan membandingkan tuduhan genosida dengan kondisi perang. Tak butuh waktu lama, lagu itu memicu kritik keras dari banyak pengguna media sosial.

Yang menarik, Boy George kemudian mengungkapkan bahwa lagu tersebut dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI). Pernyataan itu justru menambah diskusi baru, bukan hanya soal isi lagunya, tetapi juga tentang bagaimana AI kini mulai digunakan untuk menciptakan karya musik yang menyentuh isu politik dan kemanusiaan.

Hingga saat ini, Boy George belum secara langsung mengatakan bahwa pengunduran dirinya dari musikal berkaitan dengan kontroversi tersebut. Namun di akun X miliknya, ia mengaku situasi yang terjadi membuat hubungan dengan beberapa teman Yahudinya ikut memburuk.

Bagi penggemar di Indonesia, kasus ini menunjukkan bahwa dunia hiburan kini semakin sulit dipisahkan dari media sosial dan isu global. Sebuah lagu yang dirilis dalam hitungan menit bisa memicu perdebatan lintas negara, bahkan berdampak pada proyek besar yang sedang dijalani seorang artis.

Di era digital, perhatian publik bergerak sangat cepat. Dan terkadang, bukan panggung yang menentukan arah karier seorang selebritas, melainkan percakapan yang terjadi setelah mereka menekan tombol unggah.

Share This Article
Follow:
Giostanovlatto adalah pendiri Bali Reporter yang lebih sering bertanya "kenapa?" daripada "gimana?". Ia percaya berita yang bagus bukan yang paling cepat bikin heboh, tapi yang paling mudah dipahami. Kalau lagi nggak nulis, biasanya lagi surfing, ngopi, sunsetan, kadang liputan, kadang nyamar jadi CEO, curhat sama anjingnya, atau bengong di trotoar Renon sambil mencari ide. Belum pernah menang giveaway, tapi tetap optimis. Kalau chat-nya centang dua tapi nggak dibalas, anggap saja sedang mengejar rekor tidur.