Antrean jagung bakar pinggir jalan biasanya cuma soal siapa datang duluan.
Tapi di Canggu, akhir pekan lalu, urusan sepele itu berujung jauh lebih ricuh dari yang dibayangkan siapa pun yang sedang lewat.
Sebuah video pendek mendadak ramai di media sosial. Dua perempuan warga negara asing terlihat adu mulut sengit, lalu saling jambak dan melayangkan pukulan di pinggir jalan dekat Sand Bar, salah satu titik yang selalu ramai wisatawan lokal maupun mancanegara.
Yang Sebenarnya Terjadi
Kericuhan itu pecah tepat di depan gerobak penjual jagung bakar.
Seorang pria yang kebetulan berada di lokasi berusaha melerai, memisahkan keduanya agar pergulatan tidak merembet ke pengunjung lain yang sedang menonton.
Menurut informasi yang beredar, pemicunya sesederhana perselisihan saat antre membeli jagung bakar. Masalahnya, di tempat wisata seramai Canggu, kejadian sekecil apa pun bisa langsung viral hanya dalam hitungan jam, apalagi kalau melibatkan aksi fisik di tempat umum.
Kapolsek Kuta Utara, Kompol I Ketut Sukadana, membenarkan pihaknya sudah mendatangi lokasi pada Sabtu (1/8/2026). Personel piket UKL Polsek Kuta Utara turun langsung begitu laporan keributan itu masuk.
Di Balik Video yang Viral
Setelah petugas tiba, situasi di sekitar lokasi kembali aman dan terkendali.
Tidak ada keterangan lebih lanjut soal identitas kedua perempuan tersebut atau apakah ada tindak lanjut hukum yang diambil.
Yang jarang dibahas dari video-video semacam ini adalah bagaimana insiden kecil di ruang publik, yang sebenarnya bisa terjadi di antara siapa saja, tiba-tiba jadi bahan pembicaraan luas begitu melibatkan turis asing. Bukan berarti kejadian ini otomatis mewakili citra wisatawan secara keseluruhan, tapi momen semacam ini memang lebih mudah menyulut reaksi warganet dibanding perkelahian biasa antarwarga lokal.
Sukadana sendiri mengingatkan, siapa pun yang berada di Bali, baik warga maupun wisatawan asing, wajib menjaga ketertiban umum dan mematuhi norma yang berlaku selama beraktivitas di sini.
Video berdurasi singkat itu mungkin akan hilang ditelan linimasa dalam beberapa hari. Tapi ia menyisakan satu pertanyaan yang terus berulang setiap kali insiden serupa muncul: seberapa jauh sebenarnya jarak antara keramaian yang menyenangkan dan kericuhan yang bisa pecah kapan saja, di sudut-sudut kecil Bali yang setiap hari dipadati orang dari berbagai penjuru dunia.







