Kamu Pernah Di-ghosting? Ini 5 Alasan Kenapa Orang Memilih Menghilang Tanpa Kabar

Para terapis hubungan mengungkap lima alasan seseorang memilih ghosting, mulai dari kurang matang secara emosional, takut konflik, budaya serba cepat, gaya keterikatan menghindar, hingga mengejar kepuasan instan.

Giostanovlatto
By
Giostanovlatto
Giostanovlatto adalah pendiri Bali Reporter yang lebih sering bertanya "kenapa?" daripada "gimana?". Ia percaya berita yang bagus bukan yang paling cepat bikin heboh, tapi yang paling...
- Founder
alasan seseorang melakukan ghosting
Highlights
  • Ghosting sering terjadi karena kurangnya kematangan emosional dalam menyampaikan perasaan
  • Gaya keterikatan menghindar membuat seseorang memilih kabur daripada menunjukkan kerentanan
  • Budaya serba cepat turut membentuk ghosting sebagai kebiasaan yang dianggap normal

Rasanya menyebalkan sekali ketika seseorang yang tadinya rajin membalas chat, tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa penjelasan.

Fenomena ini punya nama, ghosting, dan hampir semua orang pernah mengalaminya dari sisi manapun, entah sebagai korban yang ditinggalkan tanpa kabar, atau bahkan sebagai pelaku yang memilih diam daripada bicara. Yang menarik, ternyata ada alasan psikologis di balik perilaku ini, dan para terapis hubungan sudah lama mempelajarinya.

Bukan Soal Jahat, Tapi Soal Belum Siap Secara Emosional

Alasan pertama ini mungkin terdengar klise, tapi ternyata cukup mendasar.

Mengatakan langsung bahwa perasaan sudah berubah bukan percakapan yang mudah dilakukan. Butuh keterampilan komunikasi dan kematangan emosional yang tidak semua orang punya.

ā€œGhosting sering terjadi ketika seseorang tidak memiliki keterampilan yang cukup untuk mengelola emosinya dan menyampaikan kebutuhannya dengan cara yang sehat,ā€ kata terapis berlisensi Taylor Chodash, mengutip laman Brides.

Lari dari Konflik Terasa Lebih Mudah Ketimbang Menghadapinya

Di sinilah letak alasan kedua yang cukup masuk akal, meski tetap menyakitkan buat yang ditinggalkan.

Ghosting sering jadi strategi pasif untuk menghindari konfrontasi. Daripada berhadapan langsung dengan kemungkinan penolakan atau perdebatan, sebagian orang memilih jalan pintas, menghilang tanpa jejak.

ā€œBuat orang itu menjauh mungkin terasa lebih mudah daripada mengungkapkannya secara langsung karena takut mendapat penolakan atau perdebatan,ā€ ujar Chodash.

Budaya Serba Cepat Ikut Andil Membentuk Kebiasaan Ini

Alasan ketiga ini menarik karena menunjukkan bahwa ghosting bukan cuma soal individu, tapi juga cerminan gaya hidup zaman sekarang.

Media sosial, tuntutan pekerjaan, tanggung jawab keluarga, sampai derasnya arus informasi membuat banyak orang kehabisan waktu dan energi mental. Ketika sebuah hubungan tidak berjalan sesuai harapan, ghosting akhirnya dianggap sebagai jalan tercepat untuk mengakhirinya.

Terapis pernikahan Brittany Jenkins bahkan menyebut pola ini sudah merambah dunia kerja.

ā€œBahkan di dunia kerja, perusahaan sering menghilang begitu saja setelah proses rekrutmen dan tidak memberi kabar kepada pelamar. Perilaku ini akhirnya menjadi sesuatu yang dianggap normal,ā€ katanya.

Takut Terlihat Rentan, Jadi Memilih Kabur

Alasan keempat ini lebih personal dan berkaitan dengan gaya keterikatan seseorang dalam hubungan.

Menurut Chodash, orang dengan gaya keterikatan menghindar atau avoidant attachment style cenderung menarik diri saat mulai merasa terlalu dekat secara emosional dengan orang lain. Daripada menunjukkan kerentanan dan membicarakan perasaan yang rumit, mereka memilih mengakhiri hubungan dengan cara menghilang begitu saja.

Kecenderungan ini biasanya bukan muncul begitu saja, tapi berakar dari pengalaman masa kecil atau pola hubungan yang dialami seseorang saat tumbuh dewasa.

Mencari Kepuasan Instan, Ogah Berinvestasi Waktu

Alasan terakhir ini terasa relevan banget dengan gaya hidup masa kini.

Sebagian orang kurang bersedia berinvestasi dalam proses membangun hubungan jangka panjang. Mereka lebih tertarik mencari kecocokan instan dan kepuasan cepat, mirip pola konsumsi konten di media sosial yang serba instan.

Akibatnya, begitu hubungan mulai terasa rumit, membingungkan, atau menimbulkan stres, ghosting jadi pilihan yang dianggap lebih praktis daripada berusaha menyelesaikan masalah atau menghadapi kecemasan yang muncul.

Memahami lima alasan ini setidaknya bisa membantu kita melihat ghosting bukan semata soal kejahatan personal, tapi juga cerminan dari kombinasi kematangan emosional, pola attachment, dan budaya serba cepat yang membentuk cara kita berhubungan satu sama lain hari ini.

Share This Article
Follow:
Giostanovlatto adalah pendiri Bali Reporter yang lebih sering bertanya "kenapa?" daripada "gimana?". Ia percaya berita yang bagus bukan yang paling cepat bikin heboh, tapi yang paling mudah dipahami. Kalau lagi nggak nulis, biasanya lagi surfing, ngopi, sunsetan, kadang liputan, kadang nyamar jadi CEO, curhat sama anjingnya, atau bengong di trotoar Renon sambil mencari ide. Belum pernah menang giveaway, tapi tetap optimis. Kalau chat-nya centang dua tapi nggak dibalas, anggap saja sedang mengejar rekor tidur.