Ingin Beli Franchise? Jangan Keluar Modal Sebelum Paham Cara Membiayainya

Membeli franchise membutuhkan lebih dari sekadar modal awal. Pahami berbagai pilihan pembiayaan, mulai dari pinjaman bank, investor, hingga cicilan dari pemilik franchise, serta biaya tersembunyi yang sering terlupakan sebelum menandatangani kontrak.

Giostanovlatto
By
Giostanovlatto
Giostanovlatto adalah pendiri Bali Reporter yang lebih sering bertanya "kenapa?" daripada "gimana?". Ia percaya berita yang bagus bukan yang paling cepat bikin heboh, tapi yang paling...
- Founder
Cara Membiayai Bisnis Franchise

Melihat antrean panjang di gerai makanan atau minuman favorit sering memunculkan satu pertanyaan.

ā€œKalau saya buka franchise ini, apakah bisa seramai itu?ā€

Banyak orang tertarik membeli franchise karena bisnisnya terlihat lebih aman dibanding membangun merek dari nol. Nama sudah dikenal, sistem operasional sudah tersedia, bahkan pelatihan biasanya ikut disiapkan.

Masalahnya, membeli franchise hampir selalu membutuhkan modal yang tidak sedikit.

Karena itu, sebelum buru-buru membayar biaya kemitraan, ada satu hal yang wajib dipahami: dari mana modalnya akan berasal?

Jangan Langsung Mengandalkan Tabungan

Menggunakan tabungan pribadi memang menjadi pilihan paling sederhana.

Namun jika seluruh uang habis untuk membeli franchise, bagaimana dengan biaya operasional beberapa bulan pertama?

Bisnis baru membutuhkan waktu untuk menghasilkan keuntungan. Karena itu, penting menyisakan dana cadangan agar arus kas tetap sehat saat penjualan belum stabil.

Pinjaman Bank Bisa Jadi Pilihan

Banyak calon pebisnis memilih pinjaman bank untuk mendapatkan modal.

Keunggulannya, bunga umumnya lebih rendah dibanding beberapa jenis pembiayaan lainnya.

Namun bank biasanya meminta syarat yang cukup ketat, seperti riwayat kredit yang baik, jaminan, hingga rencana bisnis yang jelas.

Artinya, bukan sekadar punya uang muka, tetapi juga harus mampu meyakinkan bank bahwa bisnis tersebut layak dibiayai.

Cari Investor, Tapi Siap Berbagi Kepemilikan

Pilihan lain adalah menggandeng investor.

Cara ini dapat membantu mengurangi beban modal pribadi, tetapi biasanya ada konsekuensinya.

Investor umumnya menginginkan bagian kepemilikan bisnis atau hak tertentu dalam pengambilan keputusan. Jadi, sebelum menerima dana, pastikan semua kesepakatan dibuat secara jelas sejak awal.

Manfaatkan Pembiayaan dari Pemilik Franchise

Yang menarik, tidak semua orang tahu bahwa beberapa perusahaan franchise juga menawarkan program cicilan atau pembiayaan langsung kepada calon mitranya.

Skema ini memungkinkan pembayaran dilakukan secara bertahap tanpa harus mencari pinjaman ke lembaga lain.

Namun, tetap baca seluruh syaratnya dengan teliti. Jangan hanya tergiur karena prosesnya terlihat lebih mudah.

Jangan Fokus pada Biaya Awal Saja

Kesalahan yang sering dilakukan calon franchisee adalah hanya menghitung biaya membeli lisensi.

Padahal setelah bisnis berjalan masih ada berbagai pengeluaran lain, seperti sewa lokasi, renovasi, peralatan, stok awal, gaji karyawan, biaya promosi, hingga royalti yang harus dibayarkan secara berkala kepada pemilik merek.

Kalau semua itu tidak masuk dalam perhitungan, modal bisa habis lebih cepat dari yang diperkirakan.

Pelajari Merek Sebelum Menandatangani Kontrak

Franchise yang terkenal belum tentu cocok untuk semua orang.

Cari tahu bagaimana sistem kerjanya, berbicara dengan mitra franchise yang sudah lebih dulu bergabung, dan pahami target yang harus dicapai.

Jangan ragu membaca dokumen perjanjian secara menyeluruh. Jika ada bagian yang kurang dipahami, konsultasikan dengan akuntan, konsultan bisnis, atau penasihat hukum sebelum menandatangani kontrak.

Kalau dipikir-pikir, membeli franchise bukan sekadar membeli hak memakai sebuah merek.

Kamu juga sedang membeli sebuah sistem bisnis beserta seluruh tanggung jawabnya. Karena itu, semakin matang perencanaan modal yang disiapkan, semakin besar peluang bisnis tersebut bertahan dan berkembang dalam jangka panjang.

Share This Article
Follow:
Giostanovlatto adalah pendiri Bali Reporter yang lebih sering bertanya "kenapa?" daripada "gimana?". Ia percaya berita yang bagus bukan yang paling cepat bikin heboh, tapi yang paling mudah dipahami. Kalau lagi nggak nulis, biasanya lagi surfing, ngopi, sunsetan, kadang liputan, kadang nyamar jadi CEO, curhat sama anjingnya, atau bengong di trotoar Renon sambil mencari ide. Belum pernah menang giveaway, tapi tetap optimis. Kalau chat-nya centang dua tapi nggak dibalas, anggap saja sedang mengejar rekor tidur.