Melihat antrean panjang di gerai makanan atau minuman favorit sering memunculkan satu pertanyaan.
āKalau saya buka franchise ini, apakah bisa seramai itu?ā
Banyak orang tertarik membeli franchise karena bisnisnya terlihat lebih aman dibanding membangun merek dari nol. Nama sudah dikenal, sistem operasional sudah tersedia, bahkan pelatihan biasanya ikut disiapkan.
Masalahnya, membeli franchise hampir selalu membutuhkan modal yang tidak sedikit.
Karena itu, sebelum buru-buru membayar biaya kemitraan, ada satu hal yang wajib dipahami: dari mana modalnya akan berasal?
Jangan Langsung Mengandalkan Tabungan
Menggunakan tabungan pribadi memang menjadi pilihan paling sederhana.
Namun jika seluruh uang habis untuk membeli franchise, bagaimana dengan biaya operasional beberapa bulan pertama?
Bisnis baru membutuhkan waktu untuk menghasilkan keuntungan. Karena itu, penting menyisakan dana cadangan agar arus kas tetap sehat saat penjualan belum stabil.
Pinjaman Bank Bisa Jadi Pilihan
Banyak calon pebisnis memilih pinjaman bank untuk mendapatkan modal.
Keunggulannya, bunga umumnya lebih rendah dibanding beberapa jenis pembiayaan lainnya.
Namun bank biasanya meminta syarat yang cukup ketat, seperti riwayat kredit yang baik, jaminan, hingga rencana bisnis yang jelas.
Artinya, bukan sekadar punya uang muka, tetapi juga harus mampu meyakinkan bank bahwa bisnis tersebut layak dibiayai.
Cari Investor, Tapi Siap Berbagi Kepemilikan
Pilihan lain adalah menggandeng investor.
Cara ini dapat membantu mengurangi beban modal pribadi, tetapi biasanya ada konsekuensinya.
Investor umumnya menginginkan bagian kepemilikan bisnis atau hak tertentu dalam pengambilan keputusan. Jadi, sebelum menerima dana, pastikan semua kesepakatan dibuat secara jelas sejak awal.
Manfaatkan Pembiayaan dari Pemilik Franchise
Yang menarik, tidak semua orang tahu bahwa beberapa perusahaan franchise juga menawarkan program cicilan atau pembiayaan langsung kepada calon mitranya.
Skema ini memungkinkan pembayaran dilakukan secara bertahap tanpa harus mencari pinjaman ke lembaga lain.
Namun, tetap baca seluruh syaratnya dengan teliti. Jangan hanya tergiur karena prosesnya terlihat lebih mudah.
Jangan Fokus pada Biaya Awal Saja
Kesalahan yang sering dilakukan calon franchisee adalah hanya menghitung biaya membeli lisensi.
Padahal setelah bisnis berjalan masih ada berbagai pengeluaran lain, seperti sewa lokasi, renovasi, peralatan, stok awal, gaji karyawan, biaya promosi, hingga royalti yang harus dibayarkan secara berkala kepada pemilik merek.
Kalau semua itu tidak masuk dalam perhitungan, modal bisa habis lebih cepat dari yang diperkirakan.
Pelajari Merek Sebelum Menandatangani Kontrak
Franchise yang terkenal belum tentu cocok untuk semua orang.
Cari tahu bagaimana sistem kerjanya, berbicara dengan mitra franchise yang sudah lebih dulu bergabung, dan pahami target yang harus dicapai.
Jangan ragu membaca dokumen perjanjian secara menyeluruh. Jika ada bagian yang kurang dipahami, konsultasikan dengan akuntan, konsultan bisnis, atau penasihat hukum sebelum menandatangani kontrak.
Kalau dipikir-pikir, membeli franchise bukan sekadar membeli hak memakai sebuah merek.
Kamu juga sedang membeli sebuah sistem bisnis beserta seluruh tanggung jawabnya. Karena itu, semakin matang perencanaan modal yang disiapkan, semakin besar peluang bisnis tersebut bertahan dan berkembang dalam jangka panjang.







