Ariana Grande Tampil Lebih Jujur di Album Petal, Tak Lagi Takut Menunjukkan Amarah

Lewat Petal, Ariana Grande berhenti berpura-pura baik-baik saja dan mulai berbicara lebih jujur.

By
Tim Redaksi
Tim Redaksi Bali Reporter adalah kumpulan orang yang masih belum pede wajahnya dipajang di halaman bio. Alasannya macam-macam: takut ketemu debt collector, mantan yang tiba-tiba ngajak...
Highlights
  • Petal menampilkan Ariana Grande yang lebih tenang, tetapi emosinya jauh lebih tajam.
  • Album ini lebih menekankan perjalanan emosional daripada mengejar lagu pop cepat.
  • Lagu seperti Oh Well, Petal, dan Like I Do menjadi pusat perubahan karakter Ariana.
  • Penutup album memperlihatkan Ariana yang akhirnya menerima bahwa cinta selalu datang bersama risiko.

Kalau selama ini Ariana Grande identik dengan lagu-lagu pop yang ringan, catchy, dan mudah menempel di kepala, Petal justru mengambil jalan yang berbeda. Album studio kedelapannya ini memang masih berbicara tentang cinta, patah hati, dan hubungan yang rumit. Bedanya, kali ini Ariana tidak lagi terdengar seperti seseorang yang sedang mencari jawaban. Ia terdengar seperti seseorang yang akhirnya berhenti meminta maaf atas semua yang ia rasakan.

Setelah Eternal Sunshine (2024) dan versi extended Brighter Days Ahead (2025), banyak yang mengira Ariana akan kembali dengan gebrakan besar. Yang terjadi justru sebaliknya. Petal bergerak lebih pelan, lebih tenang, tetapi emosinya terasa jauh lebih tajam. Tidak ada lagu yang sengaja diciptakan untuk mengejar klub malam atau radio pop. Hampir seluruh album memilih membiarkan lirik dan suasana berbicara lebih keras daripada dentuman beat.

Bukan Tentang Patah Hati Lagi, Tapi Tentang Berdamai

album Petal Ariana Grande

Perubahan itu sudah terasa sejak Kiss Me, lagu pembuka yang membawa pendengar masuk ke dunia synth-pop lembut khas Ariana. Lagu ini bukan tentang hubungan yang sedang dimulai atau diakhiri, melainkan tentang momen canggung ketika dua orang sama-sama tahu sesuatu sedang retak, tetapi belum siap mengakuinya.

Nuansa itu berlanjut di Stay, yang terdengar seperti fase paling manis dalam sebuah hubungan. Ariana bernyanyi penuh harapan, seolah kali ini semuanya akan berjalan berbeda. Namun harapan itu tidak bertahan lama.

Di sinilah Oh Well mengambil alih cerita.

Lagu ini menjadi titik balik emosional album. Ariana tidak lagi mempertanyakan mengapa semuanya berakhir. Ia juga tidak sibuk mencari siapa yang salah. Untuk pertama kalinya, ia terdengar menerima bahwa tidak semua luka harus diselesaikan dengan rasa bersalah. Ada kemarahan, ada sarkasme, tetapi semuanya disampaikan dengan kepala yang jauh lebih dingin.

Saat Ariana Berhenti Menjadi Korban

album Petal Ariana Grande

Kalau ada satu benang merah yang menghubungkan hampir seluruh lagu di Petal, jawabannya adalah perubahan cara Ariana melihat dirinya sendiri.

Lagu Petal, yang menjadi judul album, memakai metafora bunga yang tetap tumbuh meski harus menembus retakan aspal. Gambaran itu terasa seperti ringkasan perjalanan karier Ariana sendiri. Industri musik, sorotan publik, hingga kehidupan pribadinya seolah terus menuntutnya untuk tetap tersenyum di tengah tekanan.

Namun kali ini ia memilih narasi yang berbeda. Di verse keduanya, Ariana menolak terus diposisikan sebagai korban. Ia mengaku lelah memainkan peran yang bukan dirinya dan akhirnya memilih menerima hidup apa adanya. Bukan karena semua masalah sudah selesai, tetapi karena ia tidak lagi merasa harus menjelaskan semuanya kepada orang lain.

Perubahan itu juga terdengar jelas di Freak. Lagu yang dibuka dengan gitar dan synth yang lebih cerah ini perlahan berubah menjadi pernyataan tentang kendali atas hidup sendiri. Ariana menolak terus hidup mengikuti ekspektasi orang lain, dan memilih menentukan arah hidupnya sendiri.

Kemarahan yang Akhirnya Keluar

album Petal Ariana Grande

Kalau selama ini Ariana dikenal halus dalam menyampaikan emosi, Like I Do menjadi pengecualian.

Ia sendiri mengaku kepada Apple Music bahwa sebagian materi Petal lahir dari kemarahan yang selama ini tidak pernah benar-benar ia keluarkan. Lagu ini menjadi ledakan terbesar di album. Bass yang berat, synth yang kasar, dan cara bernyanyinya terdengar jauh lebih berani dibanding karya-karyanya sebelumnya.

Namun yang menarik, kemarahan itu tidak terasa meledak tanpa arah. Justru terdengar seperti seseorang yang akhirnya berhenti memendam semuanya.

Interlude Warning Signs kemudian menjadi jeda yang memperlihatkan sisi rapuh Ariana. Dalam waktu kurang dari satu menit, ia mengakui pernah mengabaikan begitu banyak tanda peringatan hanya karena terlalu ingin mempertahankan hubungan yang sebenarnya sudah tidak sehat.

Ariana Masih Bisa Bercanda

album Petal Ariana Grande

Meski banyak membahas luka, Petal tidak pernah tenggelam sepenuhnya dalam kesedihan.

Big Feelings membawa kembali sisi genit dan percaya diri yang selama ini menjadi ciri khas Ariana. Permainan katanya tetap nakal, tetapi tidak terasa dipaksakan.

Lalu ada Never Get Over Me, yang menghadirkan nuansa R&B awal 2000-an. Di sini Ariana terdengar percaya diri sekaligus jujur. Ia tahu hubungan itu sudah selesai, tetapi juga sadar bahwa beberapa orang memang meninggalkan jejak yang tidak mudah dihapus.

Energi album kembali naik lewat Bad Thing (Bunny Hop), lagu dengan tempo paling cepat di Petal. Ariana menyanyikan godaan untuk jatuh cinta lagi meski tahu risikonya sama besarnya seperti sebelumnya. Ia tahu itu mungkin keputusan yang buruk, tetapi tetap memilih melangkah.

Penutup yang Tidak Menjanjikan Akhir Bahagia

Ariana Grande
Ariana Grande returns with ā€˜Petal.’ @katiatemkin

Album ini ditutup oleh Nowhere, Nobody, lagu yang terdengar seperti penerimaan. Ariana tidak lagi mencari hubungan yang sempurna. Ia sadar setiap cinta selalu membawa kemungkinan untuk terluka.

Namun kali ini ia memilih tetap melangkah.

Bukan karena yakin semuanya akan baik-baik saja, tetapi karena merasa perjalanan itu tetap layak dijalani.

Itulah yang membuat Petal terasa berbeda dari album-album Ariana sebelumnya. Ia tidak sedang mencoba menjadi sosok yang lebih kuat, lebih sempurna, atau lebih bijaksana. Ia hanya terdengar jauh lebih jujur.

Dan mungkin, justru di situlah kekuatan terbesar album ini. Petal bukan album yang dibuat untuk membuat orang berdansa. Ini adalah album tentang seseorang yang akhirnya berhenti berpura-pura baik-baik saja, lalu mengubah semua kemarahan, penyesalan, dan harapannya menjadi musik.

Share This Article
Follow:
Tim Redaksi Bali Reporter adalah kumpulan orang yang masih belum pede wajahnya dipajang di halaman bio. Alasannya macam-macam: takut ketemu debt collector, mantan yang tiba-tiba ngajak balikan, atau mertua yang mendadak jadi pembaca setia. Di luar itu, kami juga sibuk mencari colokan, WiFi yang kencang, tempat ngopi yang enak, dan alasan kenapa deadline selalu datang lebih cepat daripada jam pulang. Sampai hari ini kami belum pernah sepakat soal tempat ngopi terbaik di Bali. Tapi untuk satu hal, kami selalu kompak: berita harus enak dibaca.