Bayangkan sudah delapan tahun jadi idola K-pop, dimulai sejak umur 14 tahun, dan tetap saja ada momen di mana kamu merasa jadi anak SMA biasa yang cuma pengen main HP saat istirahat syuting. Itulah yang terjadi pada Wonyoung, salah satu personel IVE, ketika kamera berhenti merekam sejenak di tengah proses pemotretan Vevo Studios di kawasan Arts District, Los Angeles.
- Album Baru, Genre Baru, dan Rasa Was-Was yang Ternyata Berbuah Manis
- Sorotan Publik yang Tidak Selalu Adil untuk Perempuan Muda
- Rei, Satu-Satunya Anggota Asing, dan Kesepian yang Perlahan Hilang
- Leeseo dan Pilihan yang Tidak Semua Orang Seusianya Punya
- Tur Dunia Show What I Am dan Persiapan yang Sangat Manusiawi
Enam anggota IVE, yaitu Yujin, Wonyoung, Gaeul, Rei, Liz, dan Leeseo, baru saja menyelesaikan beberapa take untuk pertunjukan live mereka. Di sela-sela itu, penampilan mereka yang biasanya terlihat sempurna sebagai superstar global tiba-tiba berubah jadi lebih santai.
Mengobrol satu sama lain, main ponsel, persis seperti anak muda kebanyakan. Padahal beberapa jam kemudian mereka harus tampil lagi di depan kamera untuk single terbaru mereka, āBang Bangā.
Yang menarik, ini justru pertama kalinya IVE melakukan syuting semacam ini di Amerika Serikat. Rei, yang dikenal sebagai anggota paling aktif di dunia maya, mengaku sempat menonton video-video pertunjukan serupa sebelumnya, dan ternyata studio aslinya lebih kecil dari yang ia bayangkan.
Meski begitu, ia bilang pengalaman kali ini terasa spesial, meskipun mereka sudah sering menampilkan āBang Bangā di Korea.
Album Baru, Genre Baru, dan Rasa Was-Was yang Ternyata Berbuah Manis
āBang Bangā adalah single pra-rilis dari album studio kedua mereka, Revive+, yang baru dirilis awal tahun ini. Menurut Gaeul, judul lagu ini benar-benar mencerminkan makna di balik nama albumnya sendiri, sebuah awal yang baru.
Tapi di balik lagu yang terdengar catchy itu, ternyata ada kegelisahan yang tidak banyak orang tahu. Yujin, sang leader grup, mengaku sempat khawatir karena āBang Bangā membawa mereka ke genre yang belum pernah mereka coba sebelumnya. Untungnya, respons publik jauh melampaui ekspektasi mereka, dan itu yang membuat semua risiko terasa sepadan.
Di sinilah letak menariknya karier IVE. Grup ini debut akhir tahun 2021 dengan modal yang sudah kuat sejak awal. Wonyoung dan Yujin datang sebagai veteran K-pop yang sempat bergabung di Iz*One lewat ajang Produce 48, Liz dengan vokal yang kuat, Gaeul sebagai rapper dan penulis lagu berbakat, Rei dengan karisma khasnya, dan Leeseo sebagai anggota termuda yang menggemaskan. Kombinasi ini yang membuat single debut mereka, āElevenā, langsung sukses besar tanpa perlu proses panjang untuk dikenal.

Sorotan Publik yang Tidak Selalu Adil untuk Perempuan Muda
Semakin besar nama sebuah grup, semakin besar juga tekanan yang menyertainya. Liz secara terbuka mengakui bahwa ada hal sederhana yang justru sulit ia lakukan sekarang, seperti bepergian bebas atau menjalani hidup sehari-hari tanpa banyak perhatian. Menurutnya, itu adalah risiko yang datang bersama semua cinta yang mereka terima, dan pada akhirnya mereka harus menerimanya sebagai bagian dari pilihan hidup ini.
Yang menarik, Liz juga menyinggung soal bagaimana banyak orang punya persepsi masing-masing tentang siapa itu IVE, dan kalau semua opini itu terlalu dipikirkan, seseorang bisa kehilangan kendali atas hidupnya sendiri. Gaeul menambahkan bahwa kesalahpahaman memang tidak bisa dihindari, tapi mereka memilih untuk tetap fokus menjalankan visi mereka sendiri.
Ini poin yang jarang dibahas ketika membicarakan idola K-pop. Publik sering melihat mereka sebagai sosok yang sudah terlatih dan sempurna di atas panggung, padahal di balik itu mereka tetap enam perempuan muda yang menghadapi tekanan sosial media seperti generasi seusianya, hanya dengan skala yang jauh lebih besar.
Rei, Satu-Satunya Anggota Asing, dan Kesepian yang Perlahan Hilang
Salah satu cerita yang cukup menyentuh datang dari Rei, satu-satunya anggota IVE yang bukan berasal dari Korea. Ia mengaku di awal debut banyak hal yang belum ia pahami, terutama soal bahasa. Karena posisinya sebagai anggota asing, ada masa di mana ia merasa cukup sendirian. Tapi menurutnya, anggota lain benar-benar merawatnya, dan kehangatan itu yang membuatnya semakin nyaman seiring waktu berjalan.
Kalau dipikir-pikir, ini justru menunjukkan sisi lain dari sebuah grup yang sudah bertahan hampir lima tahun. Bukan cuma soal chart musik atau jumlah penjualan album, tapi juga soal bagaimana enam orang dengan latar belakang berbeda belajar saling menjaga di tengah tekanan industri yang keras.

Leeseo dan Pilihan yang Tidak Semua Orang Seusianya Punya
Leeseo, anggota termuda IVE, sering ditanya soal bagaimana rasanya sudah berkarier lama di usia yang seharusnya baru mulai memikirkan masa depan. Jawabannya cukup jujur. Ada kalanya ia ingin menjalani hidup normal seperti teman-teman seusianya, tapi ia merasa lima anggota lainnya membuat semuanya terasa menyenangkan, sampai membuatnya yakin bahwa ini adalah jalan yang tepat untuknya.
Tur Dunia Show What I Am dan Persiapan yang Sangat Manusiawi

IVE kini kembali menyapa penggemar Amerika lewat tur dunia Show What I Am, yang akan mampir ke Kia Forum, Los Angeles, pada Sabtu, 1 Agustus. Ini jadi kembalinya mereka ke arena yang sama setelah terakhir tampil di sana tahun 2024. Kali ini, setiap anggota akan membawakan solo stage masing-masing, sejalan dengan konsep di album Revive+ yang memberi ruang solo untuk setiap personel.
Soal persiapan tur, jawaban Yujin justru sangat manusiawi. Ia menyiapkan banyak obat-obatan supaya tidak mudah sakit selama perjalanan, sambil mengingat betapa menyenangkannya tur sebelumnya. Wonyoung menambahkan bahwa menjaga kesehatan selalu jadi prioritas nomor satu bagi mereka, lewat tidur yang cukup dan makan yang teratur, jauh dari bayangan glamor yang biasa orang kaitkan dengan kehidupan idola.
Ada juga momen ringan yang sempat viral tahun lalu, ketika IVE mengunggah video menarikan koreografi āI Amā dengan lagu āGoldenā dari KPop Demon Hunters. Menurut Wonyoung, mereka merasa ada kemiripan nuansa antara dua lagu itu, jadi videonya dibuat murni karena mereka merasa terhubung dengan lagunya, bukan sekadar ikut tren.
Enam tahun sejak debut, IVE tetap berjalan dengan cara yang sama seperti awal mereka mulai: saling menjaga, terus mencoba hal baru meski dengan rasa was-was, dan tetap ingat bahwa di balik semua panggung besar itu, mereka cuma ingin dilihat sebagai diri mereka sendiri.







