Nolan Ternyata Nggak Bisa Berhenti Mikirin Film-Film Lamanya Sendiri di “The Odyssey”

hristopher Nolan mengisi film The Odyssey dengan berbagai referensi tersembunyi ke karya-karyanya sendiri, mulai dari Batman, Inception, Dunkirk, Oppenheimer, The Prestige, hingga Memento, membentuk semacam surat cinta untuk filmografinya sendiri.

By
Tim Redaksi
Tim Redaksi Bali Reporter adalah kumpulan orang yang masih belum pede wajahnya dipajang di halaman bio. Alasannya macam-macam: takut ketemu debt collector, mantan yang tiba-tiba ngajak...
Highlights
  • Kostum Agamemnon di The Odyssey mengingatkan langsung pada tampilan Batman di The Dark Knight
  • Jepitan rambut Penelope berfungsi seperti gasing Cobb di Inception, sebagai jangkar realitas
  • Momen menunggu di pantai sepanjang film punya nada yang sama dengan Dunkirk
  • Amnesia Odysseus disusun dengan struktur naratif yang mengingatkan pada Memento

Kalau kamu nonton ā€œThe Odysseyā€ garapan Christopher Nolan dan tiba-tiba merasa familiar dengan sosok Agamemnon, kamu nggak salah lihat. Helm melengkung yang menutupi hampir seluruh wajahnya, jubah hitam panjang yang berkibar, armor dada yang dibentuk sedemikian rupa, sampai suaranya yang berat dan serak.

Semua itu bikin banyak penonton diam-diam bertanya-tanya: ini Agamemnon atau Batman yang nyasar ke Troy?

Nolan sendiri sempat menjelaskan pilihan kostum itu ke Time. Katanya, masyarakat Mycenaean zaman dulu memang punya cara membuat perunggu yang dihitamkan untuk menunjukkan kekayaan dan kekuasaan, dengan mencampur perunggu, emas, perak, dan belerang. Alasan yang masuk akal secara historis, tapi rasanya terlalu kebetulan kalau hasil akhirnya persis mengingatkan pada karakter yang sudah ia sutradarai belasan tahun lalu.

Dan begitu kamu mulai memperhatikan, satu kemiripan itu ternyata cuma pintu masuk. Semakin dalam menonton ā€œThe Odysseyā€, semakin banyak jejak dari filmografi Nolan sendiri yang muncul di sana-sini.

Entah disengaja atau memang bawah sadarnya yang nggak bisa move on dari karya-karya lamanya, yang jelas film ini terasa seperti Nolan sedang menulis surat cinta panjang untuk dirinya sendiri.

Agamemnon yang Mirip Batman

Ini yang paling gampang ditangkap mata. Agamemnon, diperankan Bennie Safdie, tampil sebagai sosok kelam dan penuh dendam perang, dengan estetika yang mengingatkan langsung pada ā€œThe Dark Knightā€ yang Nolan sutradarai tahun 2008.

Bayangkan saja dia keluar dari gerbang Troy naik Batmobile, rasanya nggak akan terasa aneh sama sekali. Wajar kalau tim pemburu kesalahan sejarah jadi sibuk mempertanyakan anakronisme kostum ini, meskipun ya, mereka memang sedang banyak kerjaan belakangan ini.

Penelope, Layar Privasi, dan Bayang-Bayang Interstellar

Di sisi lain cerita, ada Penelope yang menunggu suaminya pulang selama bertahun-tahun sambil menghindari para pelamar yang mengepung rumahnya. Ia sering berlindung di balik semacam layar kisi-kisi, mengawasi keadaan dari jarak aman tanpa bisa mengendalikan apa yang terjadi di luar.

Kalau kamu pernah nonton ā€œInterstellarā€, momen ini langsung mengingatkan pada Cooper yang menyaksikan Murph dari balik rak-rak buku di dalam tesseract, sampai akhirnya menemukan cara mengirim pesan lewat debu yang jatuh.

Yang menarik, dua cerita ini sama-sama bermain dengan waktu sebagai alat perlawanan. Cooper menyusun debu pelan-pelan sampai bertahun-tahun terasa seperti hitungan jam. Penelope melakukan triknya secara terbalik, membongkar kembali tenunannya setiap malam supaya tenggat waktu untuk menikah lagi terus mundur.

Mungkin ini kebetulan, tapi keduanya sama-sama tentang menolak takluk pada waktu yang terus berjalan.

Lebih jauh lagi, perjalanan Odysseus yang terjebak jauh dari rumah dan kehilangan masa kecil anaknya, Telemachus, juga punya nada yang sama dengan Cooper yang kehilangan waktu bersama Murph karena efek relativitas. Dua ayah, dua misi jauh, dua cara berbeda untuk akhirnya menemukan jalan pulang.

Jepitan Rambut Penelope dan Gasing Cobb di Inception

Sebelum berangkat ke Troy, Penelope memberi Odysseus jepitan rambut emas berbentuk Dewi Athena. Bagian ini sebenarnya tidak ada dalam naskah asli Homer, jadi jelas ini tambahan Nolan sendiri. Fungsinya sebagai pengingat untuk pulang, sekaligus jaminan bahwa rumah itu nyata.

Ini langsung mengingatkan pada gasing milik Cobb di ā€œInceptionā€. Diputar, kalau jatuh berarti dia sadar, kalau terus berputar berarti dia masih di dalam mimpi. Jepitan rambut Odysseus punya fungsi serupa, jadi semacam jangkar pribadi yang membuktikan bahwa rumah bukan sekadar cerita yang ia yakinkan pada dirinya sendiri agar tetap kuat bertahan.

Begitu Calypso akhirnya mengembalikan jepitan itu, Odysseus seperti tersadar dari mantra dan diingatkan lagi pada janji yang harus ia tepati.

Pantai yang Tak Pernah Habis Menunggu, Ala Dunkirk

Kalau diperhatikan, ada banyak sekali momen menunggu di pantai sepanjang ā€œThe Odysseyā€. Dari pasukan Yunani yang berkamp di luar tembok Troy selama bertahun-tahun sebelum akhirnya menemukan trik kuda kayu, sampai anak buah Odysseus yang gagal kembali ke kapal saat dikejar raksasa Laestrygonian, dengan garis pantai yang berubah jadi merah darah.

Puncaknya, ketika Odysseus dan anak buahnya terdampar di pulau dewa matahari, kelaparan dan tak bisa pergi ke mana-mana sampai arah angin berubah. Rasanya sulit tidak teringat pada ā€œDunkirkā€, saat pasukan terjebak di pantai, lapar dan cemas, menunggu kapal-kapal Inggris datang menjemput.

Sepertinya Nolan memang punya obsesi tersendiri dengan pantai sebagai ruang liminal, bukan medan perang, bukan juga rumah, hanya tempat untuk terjebak dan menunggu.

Tatapan ā€œApa yang Baru Saja Kulakukanā€ dari Oppenheimer

Ada satu momen setelah Perang Troy usai, ketika Odysseus terjatuh kebingungan di anak tangga dan menatap ngeri kobaran api dari kota yang baru saja ia hancurkan sendiri.

Tatapan itu terasa familiar, dan begitu dipikir-pikir, ini mirip sekali dengan ekspresi Cillian Murphy sebagai Oppenheimer di awal film, saat membayangkan kekuatan penghancur dari bom atom yang baru saja ia ciptakan.

Dua tokoh ini sama-sama arsitek kehancuran besar, terdorong oleh ambisi dan rasa tanggung jawab, yakin betul bahwa yang mereka lakukan memang harus dilakukan, sampai akhirnya nyala api itu benar-benar membuktikan sebaliknya.

Cincin Elpenor dan Bayangan The Prestige

Karakter Eurylochus, diperankan Himesh Patel, mengambil cincin dari jari Elpenor, kawan yang tewas dan terpaksa ditinggalkan di gua Cyclops. Cincin itu terus muncul sepanjang film sebagai simbol dari semua teman yang sudah gugur, dan di satu titik ia bahkan menyerahkannya ke tangan Odysseus sebagai beban atas semua nyawa yang hilang. Bagian ini pun tidak ada dalam versi Homer.

Kalau dibandingkan, ini mengingatkan pada cincin pernikahan istri Angier di ā€œThe Prestigeā€, yang selalu dikenakan oleh setiap klon dirinya sebagai cara mengingat sang istri. Bedanya, cincin Angier terikat pada satu duka yang spesifik, sementara cincin Elpenor tumbuh jadi sesuatu yang lebih besar, pengingat atas setiap orang yang hilang di sepanjang jalan.

Christopher Nolan Laurent KOFFEL/Gamma-Rapho via Getty Image
Christopher Nolan Laurent KOFFEL/Gamma-Rapho via Getty Image

Amnesia dan Gaya Memento

Bunga lotus milik Calypso menghapus ingatan Odysseus tentang perang, anak buahnya, sampai istri dan anaknya sendiri. Ia baru bisa menyusun kembali ingatan tentang para anak buahnya lewat cerita yang perlahan ia rangkai ulang, sementara ingatannya tentang Penelope pulih justru lewat sentuhan benda dari masa lalunya, kemungkinan besar jepitan rambut yang sama.

Bagian amnesia ini memang ada dalam Homer, tapi cara Nolan menyusunnya terasa sangat dekat dengan struktur ā€œMementoā€, di mana Leonard tidak bisa membentuk ingatan baru dan harus merekonstruksi jati dirinya lewat jangkar-jangkar fisik seperti foto, catatan, dan tato, karena pikirannya sendiri tak lagi bisa dipercaya untuk menyimpan apa pun.

Pada akhirnya, semua kemiripan ini bikin satu hal jadi jelas. Nolan mungkin sudah pindah dari satu semesta cerita ke semesta lain, dari gedung pencakar langit Gotham ke pantai Troy yang berdebu, tapi obsesinya tentang waktu, ingatan, dan beban yang dibawa manusia ke mana pun mereka pergi, ternyata nggak pernah benar-benar ia tinggalkan.

Share This Article
Follow:
Tim Redaksi Bali Reporter adalah kumpulan orang yang masih belum pede wajahnya dipajang di halaman bio. Alasannya macam-macam: takut ketemu debt collector, mantan yang tiba-tiba ngajak balikan, atau mertua yang mendadak jadi pembaca setia. Di luar itu, kami juga sibuk mencari colokan, WiFi yang kencang, tempat ngopi yang enak, dan alasan kenapa deadline selalu datang lebih cepat daripada jam pulang. Sampai hari ini kami belum pernah sepakat soal tempat ngopi terbaik di Bali. Tapi untuk satu hal, kami selalu kompak: berita harus enak dibaca.