Kalau kamu sering nongkrong di kafe-kafe Canggu atau Seminyak belakangan ini, kamu pasti sadar satu hal. PastΓ©is de nata, si kue tart telur asal Portugis itu, lagi ada di mana-mana.
Dari kafe kecil di gang sempit sampai brand besar yang bikin antrean panjang tiap pagi, semua ikut latah menjual kue mungil bertekstur renyah karamel dengan isian custard lembut ini. Jadi ketika Santa Nata, brand asal London yang memang lahir dari resep asli Portugis, baru saja membuka toko flagship pertamanya di Asia, kabar ini otomatis jadi perhatian, bukan cuma buat pecinta pastry di Hong Kong, tapi juga buat siapa pun di Bali yang sudah kadung jatuh cinta sama pastΓ©is de nata.
Toko ke-10 di Dunia, Tapi Baru Pertama di Asia


Santa Nata resmi membuka gerainya di kawasan Central, Hong Kong. Ini bukan cabang biasa, tapi flagship pertama mereka di Asia sekaligus toko ke-10 secara global.
Brand ini didirikan di London pada 2019 oleh Francisco Oliveira, seorang perantau asal SantarΓ©m, Portugal, yang keluarganya sudah tiga generasi jadi pembuat roti. Resep yang dipakai bukan sembarang resep, tapi warisan tradisional berusia 300 tahun yang dijaga ketat keasliannya.
Yang menarik, meski memegang teguh tradisi, Oliveira tetap menyesuaikan rasa khusus untuk pasar Hong Kong. Jadi bukan sekadar menjual resep lama, tapi meracik ulang harmoni antara Portugis asli dan lidah lokal.
Dapur Terbuka dan Roti yang Keluar Setiap Dua Jam


Toko di Central ini sengaja dibuat intim, hanya delapan kursi duduk ditambah ruang berdiri untuk delapan tamu lagi. Tapi yang jadi daya tarik utama justru dapur terbukanya, tempat pengunjung bisa menyaksikan langsung proses pembuatan setiap batch secara manual.
Menu andalannya ada tiga. Pastel de Nata yang jadi ikon utama, PΓ£o de Deus yang merupakan roti manis khas Portugis dengan sentuhan lokal ala pillow-bun Jepang dan pasta kelapa yang terinspirasi coconut bun Hong Kong, serta Santa Nata Brioche yang dibentuk mirip croissant Prancis.
Soal kesegaran, mereka cukup serius. Batch baru keluar dari oven lima kali sehari, jam 10 pagi, 12 siang, 2 sore, 4 sore, dan 6 sore, masing-masing ditandai dentang lonceng butik. Jadi kalau ke sana asal-asalan waktu, ada kemungkinan kamu cuma kebagian sisa batch sebelumnya.
Kenapa Ini Relevan Buat Bali dan Indonesia


Masalahnya, tren pastΓ©is de nata di Indonesia, khususnya di Bali, sebenarnya bukan barang baru. Sejak beberapa tahun terakhir, kue ini jadi salah satu comfort food favorit wisatawan dan ekspatriat, sampai memicu munculnya banyak kafe lokal yang khusus menjual variasi pastΓ©is de nata dengan berbagai topping kreatif.
Di sinilah letak yang jarang dibahas soal fenomena ini. Sejarah kuliner Indonesia sebenarnya punya jejak Portugis yang cukup dalam, terutama di wilayah timur seperti Flores dan sekitar Larantuka, warisan dari masa penjelajahan Portugis berabad-abad lalu. Jadi ketika pastΓ©is de nata jadi tren global lagi, ada semacam benang merah historis yang membuat kue ini terasa tidak sepenuhnya asing bagi lidah sebagian orang Indonesia.
Dengan ekspansi Santa Nata yang kini merambah Asia lewat Hong Kong, pertanyaan yang mulai muncul di kalangan pecinta kuliner Bali adalah, apakah brand sekelas ini akan melirik pasar Indonesia berikutnya. Mengingat besarnya basis penggemar pastΓ©is de nata di Bali dan tingginya trafik wisatawan internasional yang datang, Indonesia sebenarnya jadi pasar yang cukup masuk akal untuk ekspansi berikutnya.
Sambil menunggu kabar itu, sepertinya masih aman untuk terus menikmati versi lokal pastΓ©is de nata favorit di kafe-kafe Bali, sambil diam-diam berharap suatu hari lonceng butik Santa Nata juga berbunyi di salah satu sudut Seminyak atau Ubud.







