Museum Bali Tutup hingga November untuk Renovasi Atap

Museum Bali tutup untuk wisatawan mulai 10 Agustus hingga akhir November 2026 demi renovasi atap tiga gedung cagar budaya, dengan anggaran Rp5 miliar dan tema baru saat kembali dibuka.

Lanio Giostanov
By
Lanio Giostanov
Lanio Giostanov
Permanent Writer
Lanio Giostanov adalah penulis termuda di Bali Reporter yang punya hubungan tidak sehat dengan tombol "Play Again." Dia mendedikasikan tulisannya untuk dunia game, dan hampir semua...
- Permanent Writer
Museum Bali tutup renovasi
Highlights
  • Museum Bali tutup total untuk wisatawan mulai 10 Agustus sampai akhir November demi renovasi atap ijuk
  • Material dan desain bangunan wajib sama persis karena status diduga cagar budaya sejak era kolonial
  • Anggaran renovasi capai Rp5 miliar, museum akan tampil dengan tema baru saat dibuka kembali

Kalau kamu sudah merencanakan mampir ke Museum Bali bulan depan, ada baiknya cek dulu jadwalnya sebelum berangkat.

Mulai Senin (10/8/2026), museum yang berlokasi di Jalan Mayor Wisnu, Denpasar ini resmi tutup untuk wisatawan. Bukan tutup sebentar, tapi sampai akhir November, hampir empat bulan penuh.

Tiga Gedung, Satu Material yang Sama Persis

Kepala UPTD Museum Bali, Ida Ayu Made Sutariani, menjelaskan ada tiga bangunan yang jadi sasaran renovasi kali ini: Gedung Buleleng, Tabanan, dan Karangasem.

ā€œKami akan mengganti atap bangunan itu dengan ijuk yang baru,ā€ ujarnya kepada detikBali, Selasa (4/8/2026).

Kedengarannya sederhana, ganti atap. Tapi masalahnya tidak semudah itu.

Museum Bali berstatus objek diduga cagar budaya, warisan dari masa ketika museum ini diinisiasi Asisten Residen Bali Selatan, W. F. J. Koon. Artinya, tim renovasi tidak bisa asal ganti material atau ubah desain sesuka hati.

ā€œJadi material bangunan dan ukurannya harus sama,ā€ tegas Dayu, sapaan akrabnya.

Di sinilah letak yang jarang dibahas soal renovasi bangunan cagar budaya. Proses yang seharusnya bisa cepat kalau memakai material modern, justru harus melalui jalur yang jauh lebih rumit, karena setiap detail wajib mempertahankan bentuk aslinya persis seperti dulu.

Layanan Penelitian Tetap Jalan, Cuma Rekreasi yang Berhenti

Meski tutup untuk wisatawan, bukan berarti seluruh operasional Museum Bali ikut mati suri.

Selama masa renovasi, administrasi, perpustakaan, dan layanan untuk penelitian tetap dibuka seperti biasa. Jadi kalau ada peneliti atau akademisi yang butuh akses ke koleksi arsip museum, mereka masih bisa datang seperti sebelumnya.

Yang berhenti sepenuhnya cuma aktivitas rekreasi wisatawan, alias kunjungan untuk sekadar melihat-lihat koleksi museum.

Anggaran Rp5 Miliar dan Tema Baru yang Menanti

Untuk proyek renovasi ini, Museum Bali menganggarkan Rp5 miliar.

Angka ini terasa cukup besar untuk sekadar ganti atap tiga gedung, tapi masuk akal kalau mengingat bahan ijuk tradisional dan proses pengerjaan yang harus mengikuti standar cagar budaya, bukan sekadar renovasi bangunan biasa.

Kabar baiknya, penantian hampir empat bulan ini tidak akan berakhir tanpa kejutan. Dayu menyebut Museum Bali akan menghadirkan tema baru saat kembali dibuka untuk para pelancong.

Belum ada detail lebih lanjut soal seperti apa tema baru itu nantinya. Tapi bagi wisatawan yang biasa menjadikan Museum Bali sebagai destinasi edukasi budaya di tengah kota Denpasar, penantian sampai akhir November ini sepertinya akan terbayar dengan pengalaman yang tidak sama seperti kunjungan-kunjungan sebelumnya.

Share This Article
Lanio Giostanov
Permanent Writer
Follow:
Lanio Giostanov adalah penulis termuda di Bali Reporter yang punya hubungan tidak sehat dengan tombol "Play Again." Dia mendedikasikan tulisannya untuk dunia game, dan hampir semua yang dia bahas sudah pernah dia mainkan sendiri. Jadi kalau suatu hari dia bilang sedang kerja, jangan heran kalau yang terdengar dari kamarnya justru suara ledakan, tembakan, atau teriakan, "Satu match lagi, habis itu nulis!" Tenang aja, kalau ada game yang belum dia ulas, biasanya bukan karena malas, tapi karena dompetnya masih loading.