Bayangkan seseorang yang setiap bulan kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, tapi tetap menyisihkan uang untuk membeli rokok seharga Rp40 ribu per bungkus.
Kedengarannya kontradiktif. Tapi itulah yang justru terjadi di Bali, terekam jelas lewat data terbaru Badan Pusat Statistik.
Angka Kemiskinan Bali Naik, Tapi Masih yang Terendah di Indonesia
BPS Provinsi Bali mencatat persentase penduduk miskin pada Maret 2026 mencapai 3,44 persen, naik 0,02 poin dibandingkan September 2025 yang sebesar 3,42 persen.
Kalau dilihat dari jumlah orang, angka ini setara 162,01 ribu jiwa, bertambah sekitar 1,92 ribu orang dari periode sebelumnya yang tercatat 160,09 ribu orang.
Kepala BPS Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan, menjelaskan kenaikan ini erat kaitannya dengan pola musiman. Maret biasanya jadi periode low season pariwisata, berbeda dengan September yang menjadi puncak kunjungan wisatawan.
āKondisi pariwisata yang memang September itu peaknya, di Maret itu sedikit turun karena awal tahun biasanya memang low season. Kemudian, produksi padi pada September juga jauh lebih tinggi dibandingkan triwulan pertama,ā ujarnya, Rabu (5/8/2026).
Meski naik, Agus menegaskan Bali tetap jadi provinsi dengan tingkat kemiskinan terendah di Indonesia, jauh di bawah angka kemiskinan nasional yang mencapai 8,07 persen. Artinya, kondisi ekonomi Bali secara keseluruhan masih relatif lebih baik dibanding rata-rata provinsi lain, meski tren kenaikan ini tetap layak diwaspadai.
Rokok, Barang Mahal yang Justru Jadi Prioritas
Di sinilah bagian paling menarik dari data ini.
BPS mencatat komoditas makanan jadi penyumbang terbesar garis kemiskinan di Bali, sebesar 69,17 persen. Sisanya, 30,83 persen, datang dari komoditas bukan makanan.
Masalahnya, di antara semua komoditas makanan, rokok justru menempati posisi penyumbang terbesar kedua setelah beras. Bukan susu, bukan telur, bukan sayur, tapi rokok.
Agus menegaskan fenomena ini bukan kebetulan. āRokok menjadi barang yang dikonsumsi oleh banyak masyarakat miskin,ā imbuhnya.

Beda Kota, Beda Porsi, Tapi Pola Sama
Menariknya, pola ini konsisten baik di perkotaan maupun perdesaan, meski dengan porsi yang sedikit berbeda.
| Wilayah | Beras | Rokok Kretek Filter |
|---|---|---|
| Perkotaan | 21,74% | 7,09% |
| Perdesaan | 26,80% | 5,95% |
Di wilayah perkotaan, rokok kretek filter menyumbang 7,09 persen dari garis kemiskinan, sementara di perdesaan porsinya sedikit lebih rendah, 5,95 persen. Tapi di kedua wilayah, posisinya tetap sama: nomor dua setelah beras, mengalahkan komoditas pangan lain yang seharusnya lebih esensial.
Yang membuat fakta ini terasa lebih berat, harga rokok jauh lebih mahal dibanding beras per satuan konsumsi harian.
āHasil surveinya itu ya, salah satu pengeluaran mereka yang besar itu justru untuk beli rokok. Kan rokok itu lebih mahal dari beras. Rp 20 ribu, Rp 30 ribu, Rp 40 ribu,ā jelas Agus.
Di sinilah letak konteks yang jarang dibahas soal kemiskinan. Bukan cuma soal berapa besar pendapatan seseorang, tapi juga soal bagaimana pendapatan terbatas itu dialokasikan, dan rokok ternyata konsisten mengambil porsi besar dari uang yang seharusnya bisa dipakai untuk kebutuhan gizi atau tabungan darurat.
Agus berharap konsumsi rokok di kalangan masyarakat miskin bisa berkurang, mengingat besarnya beban yang ditimbulkan terhadap pengeluaran rumah tangga. Kalau pola ini terus berlanjut tanpa intervensi berarti, penurunan angka kemiskinan di Bali ke depan mungkin tidak akan secepat yang diharapkan, sekalipun sektor pariwisata terus tumbuh setiap tahunnya.







