Penumpang Terlempar ke Atap Pesawat, Turbulensi Air India Ini Bikin Banyak Orang Merinding

Penerbangan Air India dari Phuket menuju Delhi mengalami turbulensi hebat yang menyebabkan 17 orang terluka. Kesaksian para penumpang menggambarkan betapa dahsyatnya guncangan hingga tubuh mereka terlempar ke atap kabin sebelum pesawat akhirnya mendarat dengan selamat.

By
Tim Redaksi
Tim Redaksi Bali Reporter adalah kumpulan orang yang masih belum pede wajahnya dipajang di halaman bio. Alasannya macam-macam: takut ketemu debt collector, mantan yang tiba-tiba ngajak...
Turbulensi Air India - A stock photo of Air India planes. Credit : Ritesh Shukla/Getty
Highlights
  • Pesawat Air India rute Phuket-Delhi mengalami turbulensi hebat saat berada di fase jelajah.
  • Sebanyak 17 orang terluka, termasuk empat awak kabin, setelah beberapa penumpang terlempar dari kursinya.
  • Seorang penumpang mengaku sempat mengira dirinya akan meninggal akibat guncangan yang sangat keras.

Kalau selama ini turbulensi hanya terdengar seperti pesawat berguncang beberapa detik, kisah dari penerbangan Air India ini mungkin akan mengubah cara banyak orang memandangnya.

Bayangkan sedang menikmati secangkir kopi di kursi pesawat. Tiba-tiba tubuhmu terangkat, membentur langit-langit kabin, lalu jatuh ke lantai. Bukan karena pesawat jatuh, melainkan karena satu hentakan yang datang begitu cepat hingga hampir tidak memberi waktu untuk bereaksi.

Itulah yang dialami sebagian penumpang Air India penerbangan AI2379 yang terbang dari Phuket, Thailand, menuju Delhi, India, pada Selasa, 4 Agustus.

Di dalam pesawat terdapat 137 penumpang dan delapan awak kabin. Di tengah perjalanan, pesawat tiba-tiba mengalami kehilangan ketinggian dalam waktu singkat saat berada di fase jelajah atau cruise, memicu turbulensi hebat yang membuat suasana kabin berubah menjadi kepanikan.

Foto stok bagian dalam pesawat Air India.
Richard Baker / In Pictures via Getty
Foto stok bagian dalam pesawat Air India.
Richard Baker / In Pictures via Getty

Akibat insiden itu, 17 orang terluka, terdiri dari 13 penumpang dan empat awak kabin. Seluruh korban langsung dibawa ke rumah sakit setelah pesawat berhasil mendarat dengan selamat di Delhi.

Yang membuat cerita ini terasa mengerikan bukan hanya jumlah korbannya.

Melainkan bagaimana para penumpang menggambarkan detik-detik ketika turbulensi terjadi.

Seorang penumpang menceritakan bahwa ayahnya sedang duduk di kursi lorong sambil memegang secangkir kopi. Dalam hitungan detik, sebuah guncangan besar membuat tubuhnya terlempar hingga membentur atap kabin sebelum jatuh ke lantai.

Ibunya mengalami benturan di kepala, sementara istri dan anak mereka yang baru berusia dua tahun ikut terpental ke lorong pesawat.

Penumpang lain asal Italia, Viviana, menggambarkan situasi itu jauh lebih dramatis.

Ia melihat saudara perempuannya terangkat dari kursi, ibunya mengalami benturan di kepala, sementara telepon genggamnya melayang entah ke mana. Beberapa penumpang di belakangnya mengalami luka serius hingga wajah mereka dipenuhi darah.

ā€œSaya benar-benar mengira akan meninggal,ā€ ungkapnya.

Setelah pesawat mendarat, Viviana mengaku masih gemetar dan menangis. Bahkan pendengarannya sempat terganggu akibat perubahan tekanan yang terjadi selama insiden.

Menurut laporan media India yang mengutip otoritas penerbangan sipil setempat, pesawat diduga kehilangan ketinggian sekitar 300 kaki hanya dalam waktu singkat. Meski angka itu terdengar kecil dibanding ketinggian jelajah pesawat komersial, perubahan mendadak tersebut cukup untuk membuat siapa pun yang tidak terlindungi sabuk pengaman kehilangan keseimbangan.

Yang menarik, pesawat sebenarnya tetap dapat melanjutkan penerbangan secara normal setelah turbulensi berlalu.

Air India memastikan pesawat akhirnya mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Indira Gandhi, Delhi, sekitar 43 menit lebih cepat dari jadwal semula.

Hingga malam hari, lima korban telah diizinkan pulang, sementara sisanya masih menjalani perawatan dan observasi medis. Maskapai juga menyatakan terus mendampingi seluruh korban serta bekerja sama dengan otoritas penerbangan India dalam proses penyelidikan.

Peristiwa ini kembali mengingatkan bahwa fase paling tenang dalam penerbangan ternyata belum tentu menjadi yang paling aman.

Banyak penumpang memilih melepas sabuk pengaman ketika lampu tanda sabuk dimatikan. Padahal, turbulensi hebat seperti ini sering datang tanpa peringatan yang cukup.

Dan mungkin, itulah pelajaran paling sederhana dari kejadian ini.

Sabuk pengaman di pesawat bukan hanya dipakai saat lepas landas atau mendarat. Kadang, benda kecil itulah yang menjadi satu-satunya pembeda antara tetap duduk di kursi atau terlempar hingga membentur langit-langit kabin.

Share This Article
Follow:
Tim Redaksi Bali Reporter adalah kumpulan orang yang masih belum pede wajahnya dipajang di halaman bio. Alasannya macam-macam: takut ketemu debt collector, mantan yang tiba-tiba ngajak balikan, atau mertua yang mendadak jadi pembaca setia. Di luar itu, kami juga sibuk mencari colokan, WiFi yang kencang, tempat ngopi yang enak, dan alasan kenapa deadline selalu datang lebih cepat daripada jam pulang. Sampai hari ini kami belum pernah sepakat soal tempat ngopi terbaik di Bali. Tapi untuk satu hal, kami selalu kompak: berita harus enak dibaca.