Dulu Dibayar Mahal, Kini Profesi Ini Mulai Tergeser karena AI

Chatbot AI mulai mengambil alih peran konsultan penerimaan perguruan tinggi di China dengan memberikan rekomendasi kampus dalam hitungan menit. Fenomena ini menjadi sinyal bahwa profesi berbasis informasi, termasuk di Indonesia, harus mulai beradaptasi dengan kecerdasan buatan.

By
Tim Redaksi
Tim Redaksi Bali Reporter adalah kumpulan orang yang masih belum pede wajahnya dipajang di halaman bio. Alasannya macam-macam: takut ketemu debt collector, mantan yang tiba-tiba ngajak...
Image Credits: SHOX ART

Bayangkan Anda baru lulus SMA dan harus menentukan jurusan kuliah yang akan memengaruhi masa depan.

Beberapa tahun lalu, banyak keluarga rela membayar mahal konsultan pendidikan demi mendapatkan saran terbaik. Hari ini, cukup buka chatbot AI, masukkan nilai ujian, pilih jurusan yang diminati, lalu dalam hitungan menit rekomendasi kampus langsung muncul.

Yang berubah bukan hanya caranya. Sebuah profesi yang dulu sangat diburu kini mulai kehilangan panggung.

AI Kini Jadi ā€œKonsultan Kampusā€ Baru

Di China, sekitar 10 juta siswa setiap tahun menghadapi ujian masuk perguruan tinggi atau Gaokao. Setelah hasil keluar, mereka hanya punya waktu singkat untuk menentukan universitas dan jurusan.

Momen inilah yang dulu menjadi ladang kerja para konsultan pendidikan.

Namun kini, perusahaan teknologi seperti Alibaba, Tencent, ByteDance, dan Baidu menghadirkan chatbot AI yang mampu memberikan rekomendasi kampus secara gratis.

Pengguna cukup memasukkan nilai ujian, minat karier, lokasi kampus yang diinginkan, hingga kemampuan finansial. AI kemudian menyusun pilihan kampus menjadi tiga kategori: target utama, pilihan aman, dan cadangan.

Konsultan Mulai Berubah, Bukan Menghilang

Yang menarik, AI ternyata tidak sepenuhnya ā€œmemecatā€ para konsultan.

Banyak dari mereka justru mulai memakai AI untuk mempercepat riset dan menyusun rekomendasi awal. Setelah itu, mereka fokus pada hal-hal yang belum bisa dilakukan mesin, seperti berdiskusi dengan orang tua, memahami kondisi psikologis siswa, hingga membantu mengambil keputusan besar.

Karena pada akhirnya, memilih jurusan bukan hanya soal angka.

Ada mimpi, tekanan keluarga, kondisi ekonomi, hingga kepribadian yang sering kali tidak bisa dibaca sempurna oleh chatbot.

Indonesia Bisa Mengalami Hal yang Sama

Kalau dipikir-pikir, perubahan ini juga mulai terasa di Indonesia.

Semakin banyak siswa menggunakan ChatGPT, Gemini, Claude, atau AI lainnya untuk mencari informasi tentang kampus, prospek kerja, hingga jurusan yang sesuai dengan minat mereka.

Artinya, profesi yang selama ini hidup dari menjual informasi kemungkinan harus beradaptasi. Nilai mereka bukan lagi pada seberapa banyak data yang dimiliki, melainkan seberapa baik mereka membantu seseorang memahami pilihan hidupnya.

Masa Depan Bukan Milik AI atau Manusia, Tapi Keduanya

Para ahli masih mengingatkan bahwa AI belum selalu benar. Chatbot masih bisa memberikan informasi yang keliru, salah memahami kebutuhan pengguna, atau mengabaikan faktor-faktor penting yang tidak tertulis dalam sebuah prompt.

Di situlah peran manusia tetap dibutuhkan.

Yang berubah bukan sekadar teknologi, melainkan definisi sebuah profesi. Di era AI, pekerjaan yang hanya mengandalkan informasi akan semakin mudah digantikan. Sementara pekerjaan yang membutuhkan empati, pengalaman, dan kemampuan memahami manusia justru menjadi semakin berharga.

Share This Article
Follow:
Tim Redaksi Bali Reporter adalah kumpulan orang yang masih belum pede wajahnya dipajang di halaman bio. Alasannya macam-macam: takut ketemu debt collector, mantan yang tiba-tiba ngajak balikan, atau mertua yang mendadak jadi pembaca setia. Di luar itu, kami juga sibuk mencari colokan, WiFi yang kencang, tempat ngopi yang enak, dan alasan kenapa deadline selalu datang lebih cepat daripada jam pulang. Sampai hari ini kami belum pernah sepakat soal tempat ngopi terbaik di Bali. Tapi untuk satu hal, kami selalu kompak: berita harus enak dibaca.