The Changcuters Diadili di DCDC Pengadilan Musik, Tur ke London Jadi Bukti Mimpi yang Terwujud

The Changcuters menjadi sorotan dalam DCDC Pengadilan Musik edisi ke-65. Perjalanan 20 tahun mereka, tur ke Inggris yang mewujudkan lirik Hijrah ke London, hingga cerita di balik album WOW MA dibahas dalam persidangan penuh humor tersebut.

By
Tim Redaksi
Tim Redaksi Bali Reporter adalah kumpulan orang yang masih belum pede wajahnya dipajang di halaman bio. Alasannya macam-macam: takut ketemu debt collector, mantan yang tiba-tiba ngajak...
Foto The Changcuters menjadi sorotan dalam DCDC Pengadilan Musik edisi ke-65.

Ada satu lirik The Changcuters yang dulu terdengar seperti candaan. Bertahun-tahun kemudian, candaan itu justru berubah menjadi kenyataan.

Lewat lagu Hijrah ke London yang dirilis pada 2006, mereka pernah bernyanyi tentang tampil di ibu kota Inggris. Dua puluh tahun setelah band ini berdiri, mimpi itu akhirnya benar-benar terwujud.

Momen itulah yang menjadi salah satu ā€œbarang buktiā€ saat The Changcuters duduk di kursi terdakwa dalam DCDC Pengadilan Musik edisi ke-65, program yang dikenal menggabungkan komedi dengan obrolan serius tentang perjalanan musisi.

DCDC Pengadilan Musik Bedah Perjalanan The Changcuters

Digelar di Yess CafƩ, Bandung, persidangan dipimpin komedian senior Denny Chandra sebagai hakim, dengan Pidi Baiq dan Budi Dalton bertindak sebagai jaksa penuntut.

Sementara itu, The Changcuters didampingi tim pembela yang diperkuat Yash Budaya, vokalis Alone At Last, serta komika Kamal Ocon.

Meski dikemas layaknya ruang sidang penuh canda, pembahasan yang muncul justru membawa penonton melihat perjalanan band asal Bandung itu selama lebih dari dua dekade di industri musik.

Tur Inggris Jadi Jawaban dari Lirik Lama

Salah satu momen yang paling menarik muncul ketika pembahasan beralih ke lagu Hijrah ke London.

Apa yang dulu hanya menjadi lirik dalam album Mencoba Sukses akhirnya benar-benar terjadi saat The Changcuters menggelar tur di Newcastle, Edinburgh, dan London pada April 2026.

Tur tersebut sekaligus menjadi bagian dari perayaan 20 tahun perjalanan mereka.

Cerita itu menjadi pengingat bahwa tidak semua mimpi harus terwujud dengan cepat. Ada yang membutuhkan waktu puluhan tahun sebelum akhirnya menjadi kenyataan.

Kisah Nama Band dan Album WOW MA

Persidangan juga membongkar cerita yang selama ini sering membuat penggemar penasaran, yaitu asal-usul nama The Changcuters.

Menurut Tria, nama tersebut bukan dipilih karena arti katanya, melainkan berasal dari sebuah momen yang sangat berkesan bagi kelima personelnya.

Selain itu, album terbaru mereka WOW MA ikut menjadi bahan pembahasan.

Tria dan Erick menjelaskan bahwa judul tersebut berasal dari seruan ā€œOmaā€ atau ā€œOmakā€ yang dulu sering digunakan di lingkungan kos Dipa sebagai ungkapan kagum. Lama-kelamaan, seruan itu berubah menjadi penyemangat sebelum naik panggung hingga akhirnya dipilih sebagai nama album sekaligus label independen mereka.

Akhir Sidang yang Membuat Penggemar Tersenyum

Seperti tradisi DCDC Pengadilan Musik, persidangan berakhir dengan putusan yang tidak biasa.

Setelah menjawab berbagai ā€œdakwaanā€ tentang perjalanan karier mereka, The Changcuters akhirnya dinyatakan bebas dari seluruh dakwaan.

Di balik seluruh candaan yang mengisi persidangan, ada satu hal yang terasa jelas. Selama lebih dari 20 tahun, The Changcuters berhasil mempertahankan identitas mereka tanpa kehilangan semangat untuk terus berkembang. Dan jika tur ke London menjadi bukti bahwa mimpi lama akhirnya tercapai, bukan tidak mungkin masih ada kejutan lain yang sedang mereka siapkan untuk para Changcut Rangers.

Share This Article
Follow:
Tim Redaksi Bali Reporter adalah kumpulan orang yang masih belum pede wajahnya dipajang di halaman bio. Alasannya macam-macam: takut ketemu debt collector, mantan yang tiba-tiba ngajak balikan, atau mertua yang mendadak jadi pembaca setia. Di luar itu, kami juga sibuk mencari colokan, WiFi yang kencang, tempat ngopi yang enak, dan alasan kenapa deadline selalu datang lebih cepat daripada jam pulang. Sampai hari ini kami belum pernah sepakat soal tempat ngopi terbaik di Bali. Tapi untuk satu hal, kami selalu kompak: berita harus enak dibaca.