Kalau kamu sudah merencanakan mampir ke Museum Bali bulan depan, ada baiknya cek dulu jadwalnya sebelum berangkat.
Mulai Senin (10/8/2026), museum yang berlokasi di Jalan Mayor Wisnu, Denpasar ini resmi tutup untuk wisatawan. Bukan tutup sebentar, tapi sampai akhir November, hampir empat bulan penuh.
Tiga Gedung, Satu Material yang Sama Persis
Kepala UPTD Museum Bali, Ida Ayu Made Sutariani, menjelaskan ada tiga bangunan yang jadi sasaran renovasi kali ini: Gedung Buleleng, Tabanan, dan Karangasem.
āKami akan mengganti atap bangunan itu dengan ijuk yang baru,ā ujarnya kepada detikBali, Selasa (4/8/2026).
Kedengarannya sederhana, ganti atap. Tapi masalahnya tidak semudah itu.
Museum Bali berstatus objek diduga cagar budaya, warisan dari masa ketika museum ini diinisiasi Asisten Residen Bali Selatan, W. F. J. Koon. Artinya, tim renovasi tidak bisa asal ganti material atau ubah desain sesuka hati.
āJadi material bangunan dan ukurannya harus sama,ā tegas Dayu, sapaan akrabnya.
Di sinilah letak yang jarang dibahas soal renovasi bangunan cagar budaya. Proses yang seharusnya bisa cepat kalau memakai material modern, justru harus melalui jalur yang jauh lebih rumit, karena setiap detail wajib mempertahankan bentuk aslinya persis seperti dulu.
Layanan Penelitian Tetap Jalan, Cuma Rekreasi yang Berhenti
Meski tutup untuk wisatawan, bukan berarti seluruh operasional Museum Bali ikut mati suri.
Selama masa renovasi, administrasi, perpustakaan, dan layanan untuk penelitian tetap dibuka seperti biasa. Jadi kalau ada peneliti atau akademisi yang butuh akses ke koleksi arsip museum, mereka masih bisa datang seperti sebelumnya.
Yang berhenti sepenuhnya cuma aktivitas rekreasi wisatawan, alias kunjungan untuk sekadar melihat-lihat koleksi museum.
Anggaran Rp5 Miliar dan Tema Baru yang Menanti
Untuk proyek renovasi ini, Museum Bali menganggarkan Rp5 miliar.
Angka ini terasa cukup besar untuk sekadar ganti atap tiga gedung, tapi masuk akal kalau mengingat bahan ijuk tradisional dan proses pengerjaan yang harus mengikuti standar cagar budaya, bukan sekadar renovasi bangunan biasa.
Kabar baiknya, penantian hampir empat bulan ini tidak akan berakhir tanpa kejutan. Dayu menyebut Museum Bali akan menghadirkan tema baru saat kembali dibuka untuk para pelancong.
Belum ada detail lebih lanjut soal seperti apa tema baru itu nantinya. Tapi bagi wisatawan yang biasa menjadikan Museum Bali sebagai destinasi edukasi budaya di tengah kota Denpasar, penantian sampai akhir November ini sepertinya akan terbayar dengan pengalaman yang tidak sama seperti kunjungan-kunjungan sebelumnya.







