Disebut “Londo Ireng” oleh Prabowo, Jurnalis Bali Turun ke Puputan Renon

Solidaritas Jurnalis Bali menggelar aksi di Puputan Renon, Denpasar, menolak pelabelan londo ireng oleh Presiden Prabowo terhadap jurnalis dan mendesak permintaan maaf terbuka.

Giostanovlatto
By
Giostanovlatto
Giostanovlatto adalah pendiri Bali Reporter yang lebih sering bertanya "kenapa?" daripada "gimana?". Ia percaya berita yang bagus bukan yang paling cepat bikin heboh, tapi yang paling...
- Founder
Foto Ilustrasi Aksi Protes Solidaritas Jurnalis Bali Prabowo Londo Ireng
Highlights
  • Solidaritas Jurnalis Bali gelar aksi di Puputan Renon protes ucapan londo ireng dari Presiden Prabowo
  • Aksi berlangsung bersamaan car free day, warga ikut membubuhkan tanda tangan dukungan
  • SJB desak Prabowo minta maaf dan hentikan narasi yang menstigma pers dan kelompok kritis

Sebuah kata bisa jadi pemicu aksi besar kalau disampaikan oleh orang yang salah, di momen yang salah.

Itulah yang terjadi setelah Presiden Prabowo Subianto menyebut jurnalis, wartawan, LSM, dan pengamat dengan istilah ā€œlondo irengā€ dalam pidatonya di puncak peringatan Hari Lahir ke-28 PKB, 23 Juli 2026 lalu.

Kecaman terus berdatangan sejak saat itu, dan Minggu (2/8) pagi giliran Solidaritas Jurnalis Bali (SJB) yang turun ke jalan.

Kenapa Dipilih di Tengah Car Free Day?

Foto Aksi jurnalis Bali protes londo ireng Prabowo
Image Credit: Solidaritas Jurnalis Bali

Momen aksi ini sengaja dipilih bersamaan dengan pelaksanaan car free day di kawasan Puputan Renon, Denpasar.

Bukan kebetulan. Di sinilah letak strategi yang jarang dibahas soal aksi semacam ini, memilih ruang publik yang sudah ramai orang beraktivitas justru memperbesar jangkauan pesan, tanpa harus mengganggu ketertiban umum secara berlebihan.

Warga yang sedang berolahraga maupun sekadar jalan pagi ikut memperhatikan aksi ini. Beberapa bahkan turut membubuhkan tanda tangan dukungan di atas kain putih yang dibentangkan di lokasi.

Poster dan Teatrikal yang Jadi Sorotan

Foto Aksi jurnalis Bali protes londo ireng Prabowo
Image Credit: Solidaritas Jurnalis Bali

Poster-poster yang dibawa peserta aksi cukup lugas menyampaikan pesan mereka: ā€œWowo Jurnalis Bukan Londo Irengā€, ā€œKulit Kami Memang Ireng Tapi Bukan Londo Irengā€, ā€œPresiden Harus Minta Maafā€, hingga ā€œMengungkap Fakta Bukan Dosaā€.

Ada juga teatrikal dengan topeng wajah Prabowo Subianto, Puan Maharani, dan Sufmi Dasco Ahmad, sebagai sindiran atas apa yang mereka sebut kongkalikong antara eksekutif dan legislatif.

Salah satu warga yang ikut membubuhkan tanda tangan, Moch Decky Apriadi, menyebut aksi ini memang perlu digelar. Menurutnya, jurnalis harus tetap mengabarkan yang sebenarnya, baik atau buruk, apa adanya. Kalau jurnalis sudah jadi corong pemerintah, informasi yang sampai ke publik tidak akan lagi berimbang, dan itu jadi ancaman serius bagi demokrasi.

Kenapa Pers Disebut Benteng Terakhir Demokrasi?

Foto Aksi jurnalis Bali protes londo ireng Prabowo
Image Credit: Solidaritas Jurnalis Bali

Koordinator aksi, Rizki Setyo Samudero, menegaskan SJB mengutuk keras pelabelan londo ireng tersebut.

Menurutnya, di tengah kondisi ketika lembaga legislatif dinilai justru tumpul menjalankan fungsi pengawasan terhadap pemerintah, pers sejatinya jadi benteng terakhir demokrasi. Menyerang pers dengan stigma negatif, menurutnya, sama saja dengan meruntuhkan pertahanan terakhir masyarakat dalam mengawasi jalannya kekuasaan.

Di sinilah letak konteks yang sering hilang dari perdebatan soal kebebasan pers, bukan cuma soal profesi jurnalis yang tersinggung, tapi soal fungsi pengawasan yang sebenarnya melindungi kepentingan masyarakat luas, termasuk orang-orang yang bahkan tidak berprofesi sebagai jurnalis sekalipun.

Apa yang Sebenarnya Dituntut SJB?

Foto Aksi jurnalis Bali protes londo ireng Prabowo
Image Credit: Solidaritas Jurnalis Bali

SJB menyoroti pola retorika yang menurut mereka kerap dipakai Prabowo, memandang jurnalis atau pengamat kritis sebagai ancaman lewat narasi antek-antek asing atau media tidak netral, demi mendelegitimasi liputan independen yang sebenarnya bertujuan membangun.

Tuntutan utama SJB jelas: mendesak Prabowo Subianto meminta maaf secara terbuka, dan menghentikan narasi yang berpotensi memicu stigmatisasi terhadap insan pers maupun masyarakat sipil yang kritis.

ā€œKritik dari pers dan masyarakat sipil bukanlah ancaman, melainkan cermin jujur dari kondisi publik yang membutuhkan perhatian sungguh-sungguh dari pemimpinnya,ā€ tegas Rizki.

Sampai saat ini, belum ada tanggapan resmi dari Istana atau pihak Prabowo terkait tuntutan permintaan maaf yang disuarakan SJB maupun sejumlah organisasi pers lain di berbagai daerah. Yang jelas, aksi di Puputan Renon ini menambah panjang daftar kecaman publik yang terus bergulir sejak pernyataan itu pertama kali dilontarkan dua minggu lalu.

Share This Article
Follow:
Giostanovlatto adalah pendiri Bali Reporter yang lebih sering bertanya "kenapa?" daripada "gimana?". Ia percaya berita yang bagus bukan yang paling cepat bikin heboh, tapi yang paling mudah dipahami. Kalau lagi nggak nulis, biasanya lagi surfing, ngopi, sunsetan, kadang liputan, kadang nyamar jadi CEO, curhat sama anjingnya, atau bengong di trotoar Renon sambil mencari ide. Belum pernah menang giveaway, tapi tetap optimis. Kalau chat-nya centang dua tapi nggak dibalas, anggap saja sedang mengejar rekor tidur.