Pernah kepikiran kenapa belakangan ini orang sudah tidak lagi buru-buru ganti HP setiap tahun? Kalau iya, ternyata kamu tidak sendirian. Di balik kebiasaan baru itu, Apple dan Samsung justru sedang menyiapkan cara baru agar orang tetap rutin memakai perangkat terbaru, tanpa harus benar-benar membelinya.
Beli HP putus ternyata mulai kehilangan daya tarik. Yang perlahan naik daun justru model langganan atau sewa, konsep yang selama ini lebih akrab dengan layanan seperti Netflix atau Spotify.
Beli Putus atau Bayar Bulanan?

Minggu ini, Apple resmi meluncurkan program Apple Upgrade di Amerika Serikat bekerja sama dengan Klarna. Lewat program ini, pelanggan bisa menggunakan iPhone, Mac, iPad, atau Apple Watch dengan biaya bulanan. Setelah masa tertentu, mereka bebas memilih untuk meng-upgrade ke perangkat baru, mengembalikannya, atau membeli perangkat tersebut sepenuhnya.
Samsung sebenarnya sudah lebih dulu mencoba pendekatan serupa melalui program Galaxy Forever di India. Skema ini menggabungkan pembiayaan dengan jaminan buyback, sehingga pengguna flagship Galaxy bisa berganti perangkat dengan biaya yang lebih terprediksi.
Menurut CEO Apple Tim Cook, program Upgrade dibuat untuk pelanggan yang memang terbiasa berganti perangkat secara berkala. Nilai jual kembali produk Apple yang relatif tinggi juga membuat model seperti ini dinilai lebih masuk akal.
Kenapa Semua Beralih ke Langganan?

Masalahnya bukan semata-mata harga smartphone yang terus naik. Orang memang mulai menggunakan ponselnya jauh lebih lama.
Data Counterpoint Research memperkirakan rata-rata siklus penggantian smartphone global akan mencapai empat tahun pada 2026, naik dari sekitar 3,5 tahun pada 2025. Di Amerika Serikat, IDC mencatat pengguna ponsel premium kini rata-rata mempertahankan perangkatnya hingga 42 bulan, lebih lama dibanding kisaran 38ā40 bulan beberapa tahun sebelumnya.
Bagi produsen, ini menjadi tantangan besar. Semakin lama konsumen menahan diri untuk upgrade, semakin sedikit perangkat baru yang terjual. Di saat yang sama, pasokan ponsel bekas untuk pasar refurbished juga ikut berkurang.
Analis Creative Strategies, Max Weinbach, menilai program sewa dan buyback sebenarnya bukan sekadar mempermudah pembayaran. Skema ini juga memastikan perangkat lama tetap kembali ke pasar bekas yang kini tumbuh semakin besar.
Siapa yang Paling Untung?
Program seperti ini ternyata tidak otomatis menguntungkan semua orang.
Menurut Matt Schulz dari LendingTree, pengguna yang biasanya memakai smartphone selama tiga hingga lima tahun tetap lebih hemat jika membeli perangkat secara langsung.
Namun ceritanya berbeda bagi mereka yang memang terbiasa berganti HP setiap satu atau dua tahun. Dalam kondisi itu, biaya langganan sering kali tidak jauh berbeda dengan membeli lalu melakukan trade-in, bahkan bisa lebih murah untuk model berkapasitas penyimpanan besar yang nilai jual kembalinya cepat turun.
Yang Dijual Bukan Lagi HP
Di balik program-program baru ini, sebenarnya ada strategi yang lebih besar.
Apple dan Samsung bukan hanya ingin menjual smartphone, tetapi juga mempertahankan pelanggan agar tetap berada di dalam ekosistem mereka.
Analis IDC, Navkendar Singh, menyebut tujuan utamanya bukan mempercepat siklus upgrade, melainkan menjaga margin keuntungan sekaligus mempertahankan loyalitas pengguna. Alih-alih membayar puluhan juta rupiah sekaligus, konsumen diarahkan ke cicilan bulanan yang terasa lebih ringan dan mudah diprediksi.
Bedanya dengan masa lalu, kini hubungan tersebut mulai dibangun langsung oleh produsen, bukan lagi melalui operator seluler.
Indonesia Bisa Menyusul?

Perubahan ini tidak hanya terjadi di Amerika Serikat.
Di Inggris, Raylo menawarkan layanan sewa smartphone bulanan, sementara Grover di Jerman mengembangkan model serupa untuk berbagai perangkat elektronik. Di India, startup BytePe bahkan mengklaim lebih dari 80 persen pelanggannya memilih sistem langganan dibanding membeli langsung.
Melihat tren tersebut, bukan tidak mungkin model serupa akan mulai berkembang di Indonesia. Apalagi, pengguna smartphone premium terus bertambah dan budaya membeli gadget dengan cicilan sudah semakin lazim di kalangan profesional muda.
Cara Kita Memiliki HP Sedang Berubah

Meski begitu, membeli HP secara langsung belum akan hilang dalam waktu dekat.
CEO Cashify, Mandeep Manocha, meyakini model beli putus, trade-in, hingga langganan akan hidup berdampingan. Sementara itu, analis IDC Nabila Popal memperkirakan program Upgrade Apple justru berpotensi memberi dampak lebih besar pada penjualan Mac dibanding iPhone.
Satu hal mulai terlihat jelas. Dulu pertanyaannya selalu, āHP apa yang mau dibeli?ā Beberapa tahun lagi, pertanyaannya mungkin berubah menjadi, āPaket langganan mana yang paling cocok?ā Kalau itu benar terjadi, perubahan cara memiliki smartphone bisa jadi sama besarnya dengan saat layar sentuh pertama kali menggantikan ponsel berkeypad.







