Kenapa Desa Penglipuran Selalu Masuk Daftar Desa Terbaik Dunia?

Penglipuran bukan menjadi desa terbaik dunia karena promosi, melainkan karena puluhan tahun menjaga aturan, budaya, dan lingkungan sebelum wisatawan datang.

By
Tim Redaksi
Tim Redaksi Bali Reporter adalah kumpulan orang yang masih belum pede wajahnya dipajang di halaman bio. Alasannya macam-macam: takut ketemu debt collector, mantan yang tiba-tiba ngajak...
Kenapa Desa Penglipuran Selalu Masuk Daftar Desa Terbaik Dunia?
Highlights
  • Penglipuran membangun aturan jauh sebelum dunia datang memberikan penghargaan.
  • Saat desa wisata lain bergulat dengan overtourism, Penglipuran memilih menjaga identitasnya.
  • Kunci keberhasilannya bukan promosi, melainkan konsistensi, awig-awig, dan tata kelola yang kuat.

Hampir semua desa wisata di Indonesia punya strategi promosi. Penglipuran punya sesuatu yang jauh lebih membosankan.

Aturan.

Sejak awal 1990-an, jauh sebelum Instagram ada, jauh sebelum UNWTO memberikan penghargaan apa pun, warga Penglipuran sudah lebih dulu menerapkan 14 kategori pemilahan sampah di setiap rumah tangga.

Mereka sudah lebih dulu menetapkan zona bebas kendaraan bermotor di kawasan permukiman inti. Mereka sudah lebih dulu menjatuhkan sanksi adat bagi siapa pun yang menebang pohon sembarangan atau mencemari sungai.

Tidak ada tim pemasaran di balik semua itu. Yang ada hanyalah sebuah komunitas yang memutuskan menjaga cara hidup mereka sendiri, dengan disiplin yang nyaris keras kepala.

Pertanyaan yang Dihadapi Setiap Desa Kecil yang Tiba-Tiba Terkenal

Desa Penglipuran
Desa Penglipuran

Ketika satu juta wisatawan datang setiap tahun ke sebuah desa berpenduduk hanya sekitar seribu jiwa, apakah desa itu masih bisa bertahan menjadi dirinya sendiri?

Ini bukan pertanyaan hipotetis. Ini pertanyaan yang sudah menghancurkan banyak desa cantik lain di dunia.

Ambil Hallstatt di Austria. Desa tepi danau yang jadi inspirasi Arendelle di film Frozen ini dihuni kurang dari 800 penduduk, tapi menerima lebih dari satu juta wisatawan setiap tahun, dengan puncak hingga 10.000 pengunjung dalam satu hari.

Tahun lalu, sekitar seratus warga memblokade akses masuk kota mereka sendiri sebagai bentuk protes. Wali kotanya bahkan sempat memasang pagar kayu untuk menghalangi spot foto paling ikonik, hanya untuk dibongkar lagi karena reaksi keras di media sosial.

ā€œTidak ada yang sanggup menangani massa sebanyak ini. Hallstatt terlalu kecil untuk orang sebanyak ini,ā€ kata sang wali kota kepada media.

Cerita serupa terjadi di Shirakawa-go, Jepang. Desa dengan rumah-rumah beratap gassho-zukuri yang jadi Situs Warisan Dunia UNESCO ini hanya dihuni sekitar 500 penduduk, tapi menerima lebih dari dua juta kunjungan pada 2024 saja.

Survei pemerintah setempat mencatat, hampir 60 persen warga kini punya kesan negatif terhadap wisatawan asing, bukan karena benci wisatawan, tapi karena kualitas hidup mereka sendiri terasa semakin terancam.

Penglipuran menerima lebih dari satu juta kunjungan pada 2024, angka yang nyaris identik dengan Hallstatt. Tapi tidak ada blokade jalan. Tidak ada pagar anti-selfie yang dipasang lalu dibongkar. Tidak ada survei yang menunjukkan mayoritas warga merasa terganggu oleh kehadiran wisatawan.

Pertanyaannya jadi jelas: apa yang membuat Penglipuran berbeda?

Penghargaan yang Datang Belakangan, Bukan Tujuan Awal

Desa Penglipuran
Desa Penglipuran

Jawabannya ada di urutan waktu yang sering terbalik dari yang kita duga. Kalpataru, penghargaan lingkungan tertinggi Indonesia, diberikan kepada Penglipuran pada 1995, ketika desa ini bahkan belum dikenal sebagai destinasi wisata sama sekali.

Predikat ā€œDesa Terbersih ke-3 Duniaā€ versi majalah internasional Bombastic baru menyusul pada 2016. Pengakuan UNWTO sebagai ā€œBest Tourism Villageā€ baru datang pada 2023, hampir tiga dekade setelah komitmen awal itu dimulai.

Penglipuran tidak membangun dirinya untuk memenangkan penghargaan. Penghargaan itu yang akhirnya menemukan Penglipuran, sebagai konsekuensi dari sesuatu yang jauh lebih sederhana: konsistensi yang dijaga jauh sebelum ada yang menonton.

Tiga Harmoni yang Diterjemahkan Menjadi Aturan Sehari-hari

Desa Penglipuran
Desa Penglipuran

Fondasi dari semua ini adalah Tri Hita Karana, filosofi Hindu Bali tentang tiga keseimbangan: manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia, dan manusia dengan alam. Ini bukan konsep baru. Hampir semua desa di Bali mengenal filosofi ini.

Yang membedakan Penglipuran bukan filosofinya, melainkan keberanian mereka menerjemahkan filosofi itu menjadi aturan yang benar-benar ditegakkan, bukan sekadar slogan yang dipajang di gapura desa.

Dimensi Parahyangan diwujudkan lewat empat upacara adat rutin setiap bulan. Dimensi Pawongan diwujudkan lewat musyawarah banjar dengan partisipasi 100 persen warga, bukan sekadar formalitas kehadiran. Dan dimensi Palemahan diwujudkan paling nyata lewat konservasi hutan bambu seluas 45 hektare, hampir 40 persen dari total luas desa yang hanya 112 hektare.

Ketika Aturan Adat Lebih Kuat dari Godaan Ekonomi

Desa Penglipuran
Desa Penglipuran

Sistem awig-awig, aturan adat desa, di Penglipuran bukan sekadar himbauan moral. Ia punya sanksi nyata. Penebangan liar dilarang keras.

Pencemaran sungai dilarang keras. Perburuan satwa dilarang keras. Dan aturan ini diterapkan setara kepada seluruh 280 kepala keluarga, tanpa pengecualian, bahkan ketika kunjungan wisatawan meledak dari 146.745 orang pada 2021 menjadi lebih dari satu juta pada 2024.

Bandingkan dengan Hallstatt, di mana godaan komersialisasi akhirnya melampaui kapasitas desa untuk menahannya, sampai warganya sendiri harus turun ke jalan memblokade akses masuk kota mereka.

Penglipuran menghadapi lonjakan angka yang serupa, tapi menahan godaan yang sama dengan cara yang jauh lebih senyap: bukan lewat protes setelah kerusakan terjadi, melainkan lewat aturan yang sudah ditegakkan jauh sebelum kerusakan itu punya kesempatan untuk dimulai.

Tiga Institusi, Satu Arah yang Sama

Desa Penglipuran
Desa Penglipuran

Penelitian tentang keberhasilan ekowisata di Penglipuran menunjukkan satu faktor kunci yang jarang dibahas secara terbuka: kelembagaan yang solid.

Tiga institusi, Pemerintah Desa Adat yang mengurus keputusan adat dan awig-awig, Pemerintah Desa Dinas yang mengurus regulasi formal, dan Pengelola Pariwisata yang mengurus operasional wisata, bekerja secara sinergis, bukan saling tumpang tindih.

Struktur seperti ini terdengar teknis dan membosankan untuk dibahas. Tapi justru di situlah letak kejeniusannya: mereka menyelesaikan masalah tata kelola ini jauh sebelum masalah itu sempat menjadi krisis, alih-alih membentuk badan pengelola setelah viral dan kewalahan seperti yang terjadi di banyak desa wisata lain, di Indonesia maupun di dunia.

Pelajaran yang Sebenarnya Ingin Disampaikan Desa Ini

Penglipuran tidak menolak modernitas. Homestay ada. UMKM suvenir, kuliner, dan kerajinan bambu berkembang. Pasar tradisional Pelipur Lara tetap hidup berdampingan dengan gelombang wisatawan asing. Yang mereka tolak bukan kemajuan, melainkan godaan untuk mengorbankan nilai inti mereka demi kemajuan yang instan.

Mungkin itulah ironi terbesar Penglipuran.

Ketika banyak tempat sibuk membangun citra agar dunia datang, Penglipuran justru sibuk menjaga dirinya sendiri.

Dan mungkin justru karena itu, dunia tidak pernah berhenti datang.

Ditulis oleh Giostanovlatto

Pendiri Hey Bali dan Bali Reporter, serta Koordinator Aliansi Jurnalis Bali. Menulis tentang Bali, pariwisata, kebijakan publik, budaya, dan berbagai perubahan yang membentuk masa depan pulau ini.

Share This Article
Follow:
Tim Redaksi Bali Reporter adalah kumpulan orang yang masih belum pede wajahnya dipajang di halaman bio. Alasannya macam-macam: takut ketemu debt collector, mantan yang tiba-tiba ngajak balikan, atau mertua yang mendadak jadi pembaca setia. Di luar itu, kami juga sibuk mencari colokan, WiFi yang kencang, tempat ngopi yang enak, dan alasan kenapa deadline selalu datang lebih cepat daripada jam pulang. Sampai hari ini kami belum pernah sepakat soal tempat ngopi terbaik di Bali. Tapi untuk satu hal, kami selalu kompak: berita harus enak dibaca.