Apple Mulai Kehilangan Mesin Uangnya, Penjualan App Store Melambat

Apple mencatat rekor pendapatan layanan, tetapi pertumbuhannya meleset dari ekspektasi. Perlambatan App Store dan perubahan aturan pembayaran aplikasi menjadi penyebab utama, sekaligus menandai perubahan besar dalam strategi bisnis Apple ke depan.

By
Tim Redaksi
Tim Redaksi Bali Reporter adalah kumpulan orang yang masih belum pede wajahnya dipajang di halaman bio. Alasannya macam-macam: takut ketemu debt collector, mantan yang tiba-tiba ngajak...
Foto Ilustrasi Kantor Apple inc

Selama ini, banyak orang mengira iPhone adalah sumber uang terbesar Apple.

Padahal, ada ā€œmesin uangā€ lain yang diam-diam terus mencetak miliaran dolar setiap kuartal: layanan digital seperti App Store, Apple Music, iCloud, Apple TV+, hingga AppleCare.

Namun kali ini, mesin itu mulai melambat.

Apple baru saja mengumumkan pendapatan divisi Services sebesar US$30,74 miliar pada kuartal fiskal ketiga 2026. Angka tersebut memang masih mencetak rekor baru, tetapi tetap berada di bawah ekspektasi analis Wall Street yang memperkirakan pendapatan mencapai US$31,22 miliar.

App Store Tak Lagi Tumbuh Sekencang Dulu

Menurut Chief Financial Officer Apple, Kevan Parekh, ada beberapa faktor yang membuat pertumbuhan bisnis layanan tidak sekuat biasanya.

Salah satunya datang dari App Store.

Apple mengakui belanja pengguna untuk game mobile mulai melambat. Padahal selama bertahun-tahun, kategori game menjadi penyumbang terbesar transaksi di App Store.

Di saat yang sama, Apple juga mulai merasakan dampak perubahan aturan di Amerika Serikat yang kini mengizinkan pengembang aplikasi menerima pembayaran langsung dari pengguna tanpa harus melalui App Store.

Artinya, sebagian transaksi kini tidak lagi menghasilkan komisi untuk Apple.

Apa Dampaknya bagi Pengguna Indonesia?

Sekilas, perubahan ini mungkin terdengar jauh dari kehidupan pengguna iPhone di Indonesia.

Namun sebenarnya ada dampak yang cukup menarik.

Jika semakin banyak pengembang memakai sistem pembayaran sendiri, pengguna berpotensi mendapatkan pilihan harga yang lebih kompetitif karena pengembang tidak lagi harus membayar komisi kepada Apple.

Di sisi lain, App Store kemungkinan akan mengalami perubahan model bisnis dalam beberapa tahun ke depan jika aturan serupa mulai diterapkan di lebih banyak negara.

Bagi pengguna Indonesia, hal ini bisa memengaruhi cara berlangganan aplikasi, membeli game, atau melakukan pembelian digital melalui perangkat Apple.

Foto Ilustrasi App Strore
Foto Ilustrasi App Strore (TechCrunch)

Apple Masih Punya Lebih dari 1,5 Miliar Pelanggan Berbayar

Meski pertumbuhannya melambat, Apple menegaskan bisnis layanannya masih berada di posisi yang sangat kuat.

Perusahaan mengungkapkan kini memiliki lebih dari 1,5 miliar langganan berbayar, naik signifikan dibanding sekitar satu miliar pada awal 2025.

Beberapa layanan seperti Apple Music, Apple TV+, AppleCare, Apple Ads, hingga App Store masih mencatatkan rekor pendapatan untuk periode kuartal Juni.

Apple TV+ bahkan disebut meraih jumlah penonton tertinggi sepanjang sejarah platform tersebut.

Apple Sudah Menyiapkan Mesin Uang Berikutnya

Apple tampaknya sadar bahwa masa depan bisnis mereka tidak bisa lagi hanya bergantung pada App Store.

Karena itu, perusahaan mulai memperluas layanan baru, mulai dari Creator Studio, fitur pembayaran di Apple Cash, hingga program Apple Upgrade yang memungkinkan pelanggan mengganti perangkat secara berkala melalui skema pembiayaan.

Strategi itu menunjukkan satu hal yang menarik. Di masa depan, Apple kemungkinan akan semakin fokus menjual layanan, bukan sekadar perangkat keras. Dan bagi jutaan pengguna iPhone di Indonesia, perubahan itu bisa berarti semakin banyak fitur, langganan, dan layanan baru yang menjadi bagian dari ekosistem Apple.

Share This Article
Follow:
Tim Redaksi Bali Reporter adalah kumpulan orang yang masih belum pede wajahnya dipajang di halaman bio. Alasannya macam-macam: takut ketemu debt collector, mantan yang tiba-tiba ngajak balikan, atau mertua yang mendadak jadi pembaca setia. Di luar itu, kami juga sibuk mencari colokan, WiFi yang kencang, tempat ngopi yang enak, dan alasan kenapa deadline selalu datang lebih cepat daripada jam pulang. Sampai hari ini kami belum pernah sepakat soal tempat ngopi terbaik di Bali. Tapi untuk satu hal, kami selalu kompak: berita harus enak dibaca.