Kisah Dokter yang Dulu Tukang Bersih-Bersih Rumah Sakit, Kini Kembali Menolong Pasien di Tempat yang Sama

Shay Taylor-Allen pernah bekerja sebagai petugas kebersihan di Yale New Haven Hospital. Bertahun-tahun kemudian ia kembali ke rumah sakit yang sama sebagai dokter, membawa kisah perjuangan, utang pendidikan miliaran rupiah, dan mimpi membantu pasien seperti ibunya.

Giostanovlatto
By
Giostanovlatto
Giostanovlatto adalah pendiri Bali Reporter yang lebih sering bertanya "kenapa?" daripada "gimana?". Ia percaya berita yang bagus bukan yang paling cepat bikin heboh, tapi yang paling...
- Founder
Kisah Inspirasi : Shay Taylor-Allen, 32 tahun, adalah seorang dokter di Yale New Haven Hospital, tempat ia pernah bekerja sebagai petugas kebersihan. (Valentina Duarte)
Highlights
  • Selama 10 tahun ia bekerja sebagai petugas kebersihan di rumah sakit yang kini mempekerjakannya sebagai dokter.
  • Perjalanan menjadi dokter membuatnya menanggung utang pendidikan lebih dari Rp9,6 miliar.
  • Pengalaman melihat sang ibu kesulitan mendapat diagnosis mengubah arah hidupnya.
  • Kini ia bertekad membangun masa depan bersama suaminya sambil melunasi utang dan membantu lebih banyak pasien.

Ada momen dalam hidup yang terasa seperti lingkaran penuh. Bagi Shay Taylor-Allen, momen itu datang ketika ia kembali berjalan di lorong sebuah rumah sakit. Bedanya, kali ini bukan membawa sapu atau kantong sampah.

Di dadanya kini terpasang kartu identitas bertuliskan satu kata yang dulu hanya bisa ia impikan: Doctor.

Rumah sakit itu adalah Yale New Haven Hospital, tempat ia dilahirkan, kemudian bekerja sebagai petugas kebersihan selama hampir satu dekade, dan kini menjadi lokasi ia menjalani pendidikan dokter spesialis anestesi.

ā€œRasanya seperti mimpi,ā€ katanya.

Mimpi Besar yang Dimulai dari Lorong Rumah Sakit

Shay mulai bekerja di rumah sakit tersebut pada usia 18 tahun. Saat itu ia bahkan belum yakin akan kuliah.

Pekerjaan sebagai petugas kebersihan dianggap cukup menjanjikan. Gajinya sekitar 14 dolar AS per jam, dengan fasilitas kerja yang baik dan peluang karier jangka panjang.

Namun setiap hari bekerja di rumah sakit, ia melihat sesuatu yang mengubah hidupnya.

Ibunya menjalani perawatan di rumah sakit yang sama setelah mengalami luka bakar serius akibat kebakaran rumah keluarga mereka. Berkali-kali sang ibu mengeluhkan kondisinya, tetapi menurut Shay, keluhannya sering tidak dianggap serius.

Pengalaman itu membuatnya bertanya-tanya mengapa sebagian pasien sulit dipercaya ketika menjelaskan rasa sakit yang mereka alami.

Saat itulah tujuan hidupnya berubah.

ā€œAku ingin menjadi dokter yang dulu seharusnya membantu ibuku,ā€ kenangnya.


Taylor-Allen dan suaminya, Rob, mengelola keuangan rumah tangga sebagai sebuah tim.

Taylor-Allen dan suaminya, Rob, mengelola keuangan rumah tangga sebagai sebuah tim.

Perjalanan yang Dibayar Sangat Mahal

Untuk mengejar cita-cita tersebut, Shay mengambil kuliah, melanjutkan program magister, lalu masuk sekolah kedokteran.

Harga yang harus dibayar tidak kecil.

Total utang pendidikannya mencapai lebih dari 590 ribu dolar AS, atau sekitar Rp9,6 miliar jika dikonversi ke nilai saat ini.

Selama sekolah kedokteran, ia hidup hampir sepenuhnya dari pinjaman pendidikan sekitar 30 ribu dolar AS per tahun. Uang itu harus cukup untuk membayar sewa, kebutuhan sehari-hari, hingga biaya hidup selama enam bulan sekaligus.

Situasinya berubah ketika ia bertemu Rob, pria yang kemudian menjadi suaminya.

Sebagai pensiunan veteran militer Amerika Serikat, Rob menggunakan penghasilannya untuk membantu membayar sewa rumah, tagihan listrik, hingga kebutuhan harian agar Shay bisa fokus menyelesaikan pendidikan.

Kini Saatnya Membangun Masa Depan

Setelah resmi diterima sebagai dokter residen anestesi di Yale New Haven Hospital, Shay memperoleh gaji awal sekitar 88 ribu dolar AS per tahun.

Digabungkan dengan tunjangan yang diterima suaminya, pendapatan keluarga mereka kini mencapai sekitar 150 ribu dolar AS setiap tahun.

Meski begitu, prioritas mereka bukan membeli barang mewah.

Mereka ingin membangun kembali tabungan yang sempat terkuras, melunasi utang pendidikan, kemudian memulai kehidupan baru bersama keluarga yang mereka impikan.

Shay bahkan memperkirakan setelah menyelesaikan program residensi beberapa tahun lagi, pendapatannya bisa meningkat hingga 350 ribu sampai 700 ribu dolar AS per tahun.


Taylor-Allen memperkirakan pada akhirnya akan memperoleh penghasilan sebesar $350.000 hingga $700.000 per tahun sebagai dokter anestesi.

Taylor-Allen memperkirakan pada akhirnya akan memperoleh penghasilan sebesar $350.000 hingga $700.000 per tahun sebagai dokter anestesi.

Tak Pernah Lupa Dari Mana Ia Berasal

Di tengah perjalanan karier barunya, ada satu hal yang tidak ingin dilupakan Shay.

Ia pernah berdiri di sisi lain rumah sakit itu.

Ia pernah mengosongkan tempat sampah di ruang pemeriksaan yang kini menjadi tempatnya menangani pasien.

Karena itulah, setiap bertemu pasien, ia selalu mengingat bahwa mereka mungkin berasal dari lingkungan yang sama dengannya.

ā€œSaya mengerti kehidupan mereka karena saya pernah berada di posisi itu,ā€ katanya.

Mungkin justru pengalaman itulah yang membuat Shay bukan hanya kembali ke rumah sakit yang sama, tetapi juga kembali dengan cara yang benar-benar berbeda.

Share This Article
Follow:
Giostanovlatto adalah pendiri Bali Reporter yang lebih sering bertanya "kenapa?" daripada "gimana?". Ia percaya berita yang bagus bukan yang paling cepat bikin heboh, tapi yang paling mudah dipahami. Kalau lagi nggak nulis, biasanya lagi surfing, ngopi, sunsetan, kadang liputan, kadang nyamar jadi CEO, curhat sama anjingnya, atau bengong di trotoar Renon sambil mencari ide. Belum pernah menang giveaway, tapi tetap optimis. Kalau chat-nya centang dua tapi nggak dibalas, anggap saja sedang mengejar rekor tidur.