Hampir semua pelaku perselingkuhan punya satu kesamaan. Bukan cara mereka berselingkuh, melainkan cara mereka menjelaskan kenapa mereka melakukannya.
āIni memang sudah dari sananya, laki-laki memang begini.ā
Kedengarannya seperti fakta ilmiah. Tapi ternyata, klaim ini jauh lebih rapuh dari yang dibayangkan kebanyakan orang.
Otak Manusia Ternyata Ahli Membenarkan Diri Sendiri
Sebelum bicara soal biologi, ada satu fenomena psikologis yang lebih mendasar dan justru lebih didukung riset: disonansi kognitif.
Konsep ini pertama kali diperkenalkan psikolog Leon Festinger, menjelaskan rasa tidak nyaman yang muncul ketika keyakinan seseorang bertabrakan dengan perilakunya sendiri. Untuk mengurangi ketidaknyamanan ini, orang cenderung membenarkan pilihannya dengan melebih-lebihkan sisi baik dari keputusan yang diambil.
Pada kasus perselingkuhan, konfliknya sangat jelas. Seseorang yakin dirinya orang baik, sekaligus yakin selingkuh itu salah, tapi tetap melakukannya. Untuk tetap merasa konsisten dengan citra diri sebagai orang bermoral, banyak pelaku akhirnya membingkai ulang perselingkuhannya sebagai sesuatu yang ādi luar karakter aslinyaā, bukan cerminan siapa dirinya sebenarnya.
Masalahnya, rasionalisasi ini tidak berhenti sekali jalan.
Sekali Berhasil Membenarkan Diri, Selanjutnya Jadi Lebih Mudah
Yang jarang disadari, kemampuan merasionalisasi justru berkembang seiring waktu, bukan menghilang.
Semakin efektif seseorang membenarkan ketidakjujurannya, semakin ternormalisasi perilaku itu baginya, membentuk pola psikologis yang berbahaya.
Studi terhadap ribuan pengguna platform perselingkuhan menemukan pola yang menarik. Semakin sering seseorang berselingkuh secara langsung, justru bukan trivialisasi atau penyangkalan tanggung jawab yang paling efektif meredakan rasa bersalahnya, melainkan perubahan konsep diri, meyakinkan diri sendiri bahwa hubungan baru ini membuatnya jadi pribadi yang lebih menarik atau hidup.
Di sinilah letak yang jarang dibahas soal fenomena ini. Bukan berarti pelaku selingkuh tidak merasa bersalah sama sekali, tapi mekanisme pembenaran diri inilah yang membuat perasaan bersalah itu bisa dikelola, sehingga perilakunya bisa terus berulang tanpa harus menghadapi konflik batin penuh setiap kali.

Lalu, Bagaimana dengan Argumen āBiologiā?
Selama bertahun-tahun, teori evolusi sering dipakai untuk menjelaskan kenapa laki-laki lebih mudah tergoda berselingkuh. Alasannya terdengar sederhana: sejak zaman purba, laki-laki dianggap terdorong menyebarkan gen sebanyak mungkin.
Masalahnya, banyak ilmuwan modern menilai penjelasan itu terlalu sederhana. Hubungan manusia hari ini jauh lebih rumit daripada sekadar naluri reproduksi. Budaya, nilai hidup, pengalaman masa kecil, sampai kemampuan mengendalikan diri juga ikut membentuk keputusan seseorang.
Sejumlah filsuf sains bahkan menilai teori semacam ini sering kekurangan bukti yang benar-benar bisa membuktikan bahwa perilaku manusia hari ini memang diwariskan langsung dari naluri purba.
Bahkan di kalangan yang mendukung sudut pandang evolusioner sendiri, muncul catatan penting. Meski dorongan seksual purba mungkin memang lebih kuno dari kemampuan rasional otak manusia modern, itu tidak berarti dorongan itu harus lebih dominan. Sama seperti manusia sudah belajar menghargai monogami dan empati, manusia juga bisa melatih diri mengatasi impuls paling primitif sekalipun.
Kenapa Argumen Ini Terus Dipakai Meski Lemah
Masalahnya, argumen ābiologiā ini punya satu fungsi psikologis yang sangat efektif: memindahkan tanggung jawab dari pilihan pribadi ke sesuatu yang terdengar di luar kendali.
Kritik yang paling tajam menyebut pola pikir ini sebagai kebiasaan mengambil perilaku buruk lalu mengarang cerita evolusioner untuk menjelaskan kenapa perilaku itu ābergunaā secara biologis, alih-alih menyebutnya sebagai perilaku buruk apa adanya. āAku tidak bisa menahan diriā adalah alasan yang lemah, karena manusia selalu punya pilihan untuk menahan diri dan memahami konsekuensi dari pilihannya.
Riset-riset psikologi menunjukkan, manusia memang punya naluri. Tapi naluri bukanlah vonis. Yang membedakan seseorang dengan orang lain bukan dorongan yang ia miliki, melainkan keputusan yang ia ambil ketika dorongan itu datang.
Jadi mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan, āApakah manusia memang diciptakan untuk berselingkuh?ā
Melainkan, āKenapa kita begitu pandai menciptakan alasan agar pilihan kita sendiri terasa benar?ā







