Hampir Semua Pelaku Selingkuh Punya Satu Kesamaan, dan Itu Bukan Cara Mereka Berselingkuh

Riset psikologi mengungkap mekanisme disonansi kognitif di balik rasionalisasi perselingkuhan, sekaligus membedah kelemahan argumen evolusioner yang sering dipakai untuk membenarkan perilaku tersebut secara "biologis".

Giostanovlatto
By
Giostanovlatto
Giostanovlatto adalah pendiri Bali Reporter yang lebih sering bertanya "kenapa?" daripada "gimana?". Ia percaya berita yang bagus bukan yang paling cepat bikin heboh, tapi yang paling...
- Founder
psikologi rasionalisasi selingkuh
Highlights
  • Disonansi kognitif membuat pelaku selingkuh membingkai ulang tindakannya sebagai hal "di luar karakter aslinya"
  • Semakin sering merasionalisasi, semakin mudah perselingkuhan berulang tanpa rasa bersalah besar
  • Argumen "biologi memaksa laki-laki selingkuh" dinilai lemah karena minim bukti empiris yang kuat

Hampir semua pelaku perselingkuhan punya satu kesamaan. Bukan cara mereka berselingkuh, melainkan cara mereka menjelaskan kenapa mereka melakukannya.

ā€œIni memang sudah dari sananya, laki-laki memang begini.ā€

Kedengarannya seperti fakta ilmiah. Tapi ternyata, klaim ini jauh lebih rapuh dari yang dibayangkan kebanyakan orang.

Otak Manusia Ternyata Ahli Membenarkan Diri Sendiri

Sebelum bicara soal biologi, ada satu fenomena psikologis yang lebih mendasar dan justru lebih didukung riset: disonansi kognitif.

Konsep ini pertama kali diperkenalkan psikolog Leon Festinger, menjelaskan rasa tidak nyaman yang muncul ketika keyakinan seseorang bertabrakan dengan perilakunya sendiri. Untuk mengurangi ketidaknyamanan ini, orang cenderung membenarkan pilihannya dengan melebih-lebihkan sisi baik dari keputusan yang diambil.

Pada kasus perselingkuhan, konfliknya sangat jelas. Seseorang yakin dirinya orang baik, sekaligus yakin selingkuh itu salah, tapi tetap melakukannya. Untuk tetap merasa konsisten dengan citra diri sebagai orang bermoral, banyak pelaku akhirnya membingkai ulang perselingkuhannya sebagai sesuatu yang ā€œdi luar karakter aslinyaā€, bukan cerminan siapa dirinya sebenarnya.

Masalahnya, rasionalisasi ini tidak berhenti sekali jalan.

Sekali Berhasil Membenarkan Diri, Selanjutnya Jadi Lebih Mudah

Yang jarang disadari, kemampuan merasionalisasi justru berkembang seiring waktu, bukan menghilang.

Semakin efektif seseorang membenarkan ketidakjujurannya, semakin ternormalisasi perilaku itu baginya, membentuk pola psikologis yang berbahaya.

Studi terhadap ribuan pengguna platform perselingkuhan menemukan pola yang menarik. Semakin sering seseorang berselingkuh secara langsung, justru bukan trivialisasi atau penyangkalan tanggung jawab yang paling efektif meredakan rasa bersalahnya, melainkan perubahan konsep diri, meyakinkan diri sendiri bahwa hubungan baru ini membuatnya jadi pribadi yang lebih menarik atau hidup.

Di sinilah letak yang jarang dibahas soal fenomena ini. Bukan berarti pelaku selingkuh tidak merasa bersalah sama sekali, tapi mekanisme pembenaran diri inilah yang membuat perasaan bersalah itu bisa dikelola, sehingga perilakunya bisa terus berulang tanpa harus menghadapi konflik batin penuh setiap kali.

psikologi rasionalisasi selingkuh
psikologi rasionalisasi selingkuh

Lalu, Bagaimana dengan Argumen ā€œBiologiā€?

Selama bertahun-tahun, teori evolusi sering dipakai untuk menjelaskan kenapa laki-laki lebih mudah tergoda berselingkuh. Alasannya terdengar sederhana: sejak zaman purba, laki-laki dianggap terdorong menyebarkan gen sebanyak mungkin.

Masalahnya, banyak ilmuwan modern menilai penjelasan itu terlalu sederhana. Hubungan manusia hari ini jauh lebih rumit daripada sekadar naluri reproduksi. Budaya, nilai hidup, pengalaman masa kecil, sampai kemampuan mengendalikan diri juga ikut membentuk keputusan seseorang.

Sejumlah filsuf sains bahkan menilai teori semacam ini sering kekurangan bukti yang benar-benar bisa membuktikan bahwa perilaku manusia hari ini memang diwariskan langsung dari naluri purba.

Bahkan di kalangan yang mendukung sudut pandang evolusioner sendiri, muncul catatan penting. Meski dorongan seksual purba mungkin memang lebih kuno dari kemampuan rasional otak manusia modern, itu tidak berarti dorongan itu harus lebih dominan. Sama seperti manusia sudah belajar menghargai monogami dan empati, manusia juga bisa melatih diri mengatasi impuls paling primitif sekalipun.

Kenapa Argumen Ini Terus Dipakai Meski Lemah

Masalahnya, argumen ā€œbiologiā€ ini punya satu fungsi psikologis yang sangat efektif: memindahkan tanggung jawab dari pilihan pribadi ke sesuatu yang terdengar di luar kendali.

Kritik yang paling tajam menyebut pola pikir ini sebagai kebiasaan mengambil perilaku buruk lalu mengarang cerita evolusioner untuk menjelaskan kenapa perilaku itu ā€œbergunaā€ secara biologis, alih-alih menyebutnya sebagai perilaku buruk apa adanya. ā€œAku tidak bisa menahan diriā€ adalah alasan yang lemah, karena manusia selalu punya pilihan untuk menahan diri dan memahami konsekuensi dari pilihannya.

Riset-riset psikologi menunjukkan, manusia memang punya naluri. Tapi naluri bukanlah vonis. Yang membedakan seseorang dengan orang lain bukan dorongan yang ia miliki, melainkan keputusan yang ia ambil ketika dorongan itu datang.

Jadi mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan, ā€œApakah manusia memang diciptakan untuk berselingkuh?ā€

Melainkan, ā€œKenapa kita begitu pandai menciptakan alasan agar pilihan kita sendiri terasa benar?ā€

Share This Article
Follow:
Giostanovlatto adalah pendiri Bali Reporter yang lebih sering bertanya "kenapa?" daripada "gimana?". Ia percaya berita yang bagus bukan yang paling cepat bikin heboh, tapi yang paling mudah dipahami. Kalau lagi nggak nulis, biasanya lagi surfing, ngopi, sunsetan, kadang liputan, kadang nyamar jadi CEO, curhat sama anjingnya, atau bengong di trotoar Renon sambil mencari ide. Belum pernah menang giveaway, tapi tetap optimis. Kalau chat-nya centang dua tapi nggak dibalas, anggap saja sedang mengejar rekor tidur.