60 Tahun Menunggu, Jalan yang Menghubungkan Dua Banjar di Tabanan Akhirnya Dibuka

Setelah hampir 60 tahun menunggu, warga Sangketan, Tabanan, akhirnya memiliki akses jalan sekitar 1,5 kilometer yang membuka jalur ke sekolah, fasilitas kesehatan, pura, dan kawasan pertanian.

By
Tim Redaksi
Tim Redaksi Bali Reporter adalah kumpulan orang yang masih belum pede wajahnya dipajang di halaman bio. Alasannya macam-macam: takut ketemu debt collector, mantan yang tiba-tiba ngajak...
Pembukaan Jalan Sangketan Tabanan
Highlights
  • Warga Sangketan menunggu hampir 60 tahun untuk memiliki akses jalan penghubung yang layak.
  • Jalan sepanjang sekitar 1,5 kilometer akan membuka akses ke sekolah, fasilitas kesehatan, pertanian hingga pura.
  • Pemilik lahan ikut membuka jalan dengan menyerahkan sebagian tanahnya untuk kepentingan masyarakat.

Ada jalan yang dibangun dalam hitungan bulan. Ada juga jalan yang prosesnya menunggu puluhan tahun.

Di Desa Sangketan, Kecamatan Penebel, Tabanan, warga akhirnya melihat penantian hampir 60 tahun mulai menemukan ujungnya. Akses jalan sepanjang sekitar 1,5 kilometer mulai dibuka untuk menghubungkan kawasan Munduk Dawa, Puring dan Pekandalen dengan wilayah sekitarnya.

Yang membuat cerita ini menarik, jalan tersebut bukan sekadar membuka jalur baru. Ia menyambungkan kehidupan sehari-hari warga yang selama ini terkendala akses.

Bukan Cuma Jalan, Tapi Akses Kehidupan

Pembukaan badan jalan dilakukan secara gotong royong bersama masyarakat dan mendapat dukungan kader Partai Demokrat Bali.

Ketua Demokrat Bali Made Mudarta mengatakan masyarakat sudah lama menginginkan akses tersebut.

ā€œHampir 60 tahun masyarakat di sini mengidam-idamkan agar jalan ini ada. Baru hari ini bisa terselenggara,ā€ kata Mudarta.

Jalan dengan lebar sekitar lima meter itu nantinya diharapkan menjadi jalur penting bagi warga, termasuk untuk mengangkut hasil pertanian seperti salak, cokelat, kelapa dan pisang.

Bagi petani, akses yang lebih baik berarti perjalanan angkut hasil panen bisa lebih mudah dan biaya logistik berpotensi turun.

Di situlah nilai jalan ini terasa. Bukan hanya soal kendaraan bisa lewat, tetapi soal berapa banyak waktu dan biaya yang bisa dihemat warga setiap hari.

Petinggi Demokrat Bali, saat meresmikan pembukaan jalan di Tabanan
60 Tahun Menunggu, Jalan yang Menghubungkan Dua Banjar di Tabanan Akhirnya Dibuka 1

Ada Sekolah, Puskesmas hingga Pura

Jalur tersebut juga dirancang menghubungkan warga dengan berbagai fasilitas penting, termasuk SD Negeri 6 Penatahan dan Pura Luhur Tamba Waras.

Akses menuju fasilitas kesehatan seperti puskesmas, rumah sakit dan posyandu juga akan menjadi lebih mudah.

Pengerjaan saat ini sudah menggunakan alat berat. Tahap berikutnya adalah penimbunan limestone dan pemadatan badan jalan. Mudarta menargetkan pekerjaan awal tersebut dapat diselesaikan sekitar satu bulan.

Namun, jalan belum sepenuhnya selesai.

Tahap akhirnya masih akan dibahas bersama masyarakat, termasuk pilihan apakah badan jalan akan diaspal atau dicor.

WhatsApp Image 2026 09 12 at 18.10.28
60 Tahun Menunggu, Jalan yang Menghubungkan Dua Banjar di Tabanan Akhirnya Dibuka 2

Jalan Ini Dibuka Karena Warga Mau Berbagi Lahan

Ada satu bagian penting yang sering luput ketika membicarakan pembangunan jalan: tanah.

Menurut Kepala Desa Sangketan I Nyoman Sugiarta, sejumlah pemilik lahan bersedia memberikan sebagian tanah mereka untuk dijadikan akses masyarakat.

Kesediaan itu menjadi salah satu kunci terbukanya jalur yang selama puluhan tahun dinantikan.

Sementara Ketua PAC Demokrat Penebel I Made Suka Wijaya mengatakan pengerjaan jalan semula ditargetkan sekitar enam hari. Namun medan di lapangan membuat pekerjaan memasuki hari kedelapan dan jalur tersebut belum sepenuhnya tembus.

Setelah jalan ini selesai, pekerjaan berikutnya bukan berarti berhenti. Pemerintah desa masih berharap sejumlah akses lain, termasuk ruas yang menjadi kewenangan pemerintah kabupaten, ikut mendapat perhatian.

Karena bagi warga Sangketan, satu jalan yang terbuka hari ini mungkin baru langkah pertama setelah enam dekade menunggu.

Laporan: Dio Ndut

Share This Article
Follow:
Tim Redaksi Bali Reporter adalah kumpulan orang yang masih belum pede wajahnya dipajang di halaman bio. Alasannya macam-macam: takut ketemu debt collector, mantan yang tiba-tiba ngajak balikan, atau mertua yang mendadak jadi pembaca setia. Di luar itu, kami juga sibuk mencari colokan, WiFi yang kencang, tempat ngopi yang enak, dan alasan kenapa deadline selalu datang lebih cepat daripada jam pulang. Sampai hari ini kami belum pernah sepakat soal tempat ngopi terbaik di Bali. Tapi untuk satu hal, kami selalu kompak: berita harus enak dibaca.