Kalau kamu pikir kembalinya āMade in Koreaā cuma soal melanjutkan cerita lama, coba pikir lagi. Sutradara Woo Min Ho sendiri yang menegaskan, musim kedua ini bukan sekadar sekuel, melainkan pergeseran total dari genre yang dibangun di musim pertama.
Dalam konferensi pers di Korea, Woo Min Ho membeberkan perbedaan mendasar yang membuat penonton lama musim pertama mungkin perlu menyesuaikan ekspektasi.
āJadi, season pertama terasa seperti setiap episodenya merupakan film yang berdiri sendiri. Namun, season 2 seperti keenam episodenya mengalir seperti satu film utuh. Jadi, saya rasa itulah perbedaannya. Dan season pertama lebih seperti musim perkelahian, sementara season 2 adalah perebutan kekuasaan yang sesungguhnya antara orang-orang dewasa,ā ujar Woo Min Ho.
Detail soal enam episode yang mengalir sebagai satu kesatuan ini penting dipahami. Berbeda dari format episodik yang biasa ditemui di serial Korea, pendekatan ini lebih mendekati struktur film panjang yang dipecah jadi beberapa bagian, sebuah pilihan yang biasanya dipakai ketika cerita punya kompleksitas plot yang perlu dibangun perlahan tanpa jeda konklusi di setiap episode.
Latar waktu cerita sendiri melompat sembilan tahun setelah musim perdana, dan lompatan waktu ini membawa transformasi signifikan pada karakter-karakter utamanya, dimulai dari Baek Ki Tae yang diperankan Hyun Bin.
Meski sudah menggenggam kekayaan dan posisi yang jauh lebih tinggi dibanding musim pertama, ambisi Baek Ki Tae justru digambarkan semakin membara. Kekuasaan yang sudah didapat bukannya membuatnya tenang, malah menyeretnya ke benturan baru dengan berbagai kubu yang berusaha menjatuhkannya.
āAda kekuatan-kekuatan lain yang berusaha menghentikannya. Ada banyak benturan antara dirinya dan para pemain lainnya. Jadi, terkadang dia merasa kesepian, terkadang dia harus menghadapi pilihan-pilihan yang sangat berani, dan terkadang dia ditempatkan dalam situasi yang sangat berbahaya. Jadi, saya berfokus pada semua aspek tersebut untuk menggambarkan berbagai sisi dirinya,ā ungkap Hyun Bin.
Yang membuat musim kedua ini terasa lebih emosional, transformasi paling drastis justru datang dari karakter Jang Geon Young yang diperankan Jung Woo Sung. Setelah sembilan tahun absen dari layar, sosok ini kembali dengan wajah yang jauh berbeda dari yang diingat penonton musim pertama, dari seorang pencari keadilan, kini berubah jadi sosok yang haus dendam.
Perubahan ini bukan tanpa alasan. Titik terendah yang dialami Jang Geon Young di penghujung musim pertama disebut menjadi pemicu utama transformasi besar karakter ini.
āOrang ini, Geon Young, telah kehilangan segalanya di akhir season pertama, dia ditinggalkan dalam perjuangannya. Dia berada di titik terendah dalam hidupnya dan dipenuhi rasa dendam. Sekarang, dia ingin membalas dendam,ā jelas Jung Woo Sung.
Dengan dua karakter utama yang sama-sama membawa beban psikologis berat, satu berjuang mempertahankan kekuasaan yang sudah diraih, satu lagi bergerak dengan dendam yang membara, musim kedua āMade in Koreaā tampaknya siap menawarkan drama politik dan personal yang jauh lebih kompleks dibanding pendahulunya. Penggemar drakor kini tinggal menunggu tanggal tayang resmi untuk membuktikan sendiri seberapa besar pergeseran nada cerita yang dijanjikan sang sutradara.







