Rasanya menyebalkan sekali ketika seseorang yang tadinya rajin membalas chat, tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa penjelasan.
Fenomena ini punya nama, ghosting, dan hampir semua orang pernah mengalaminya dari sisi manapun, entah sebagai korban yang ditinggalkan tanpa kabar, atau bahkan sebagai pelaku yang memilih diam daripada bicara. Yang menarik, ternyata ada alasan psikologis di balik perilaku ini, dan para terapis hubungan sudah lama mempelajarinya.
Bukan Soal Jahat, Tapi Soal Belum Siap Secara Emosional
Alasan pertama ini mungkin terdengar klise, tapi ternyata cukup mendasar.
Mengatakan langsung bahwa perasaan sudah berubah bukan percakapan yang mudah dilakukan. Butuh keterampilan komunikasi dan kematangan emosional yang tidak semua orang punya.
āGhosting sering terjadi ketika seseorang tidak memiliki keterampilan yang cukup untuk mengelola emosinya dan menyampaikan kebutuhannya dengan cara yang sehat,ā kata terapis berlisensi Taylor Chodash, mengutip laman Brides.
Lari dari Konflik Terasa Lebih Mudah Ketimbang Menghadapinya
Di sinilah letak alasan kedua yang cukup masuk akal, meski tetap menyakitkan buat yang ditinggalkan.
Ghosting sering jadi strategi pasif untuk menghindari konfrontasi. Daripada berhadapan langsung dengan kemungkinan penolakan atau perdebatan, sebagian orang memilih jalan pintas, menghilang tanpa jejak.
āBuat orang itu menjauh mungkin terasa lebih mudah daripada mengungkapkannya secara langsung karena takut mendapat penolakan atau perdebatan,ā ujar Chodash.
Budaya Serba Cepat Ikut Andil Membentuk Kebiasaan Ini
Alasan ketiga ini menarik karena menunjukkan bahwa ghosting bukan cuma soal individu, tapi juga cerminan gaya hidup zaman sekarang.
Media sosial, tuntutan pekerjaan, tanggung jawab keluarga, sampai derasnya arus informasi membuat banyak orang kehabisan waktu dan energi mental. Ketika sebuah hubungan tidak berjalan sesuai harapan, ghosting akhirnya dianggap sebagai jalan tercepat untuk mengakhirinya.
Terapis pernikahan Brittany Jenkins bahkan menyebut pola ini sudah merambah dunia kerja.
āBahkan di dunia kerja, perusahaan sering menghilang begitu saja setelah proses rekrutmen dan tidak memberi kabar kepada pelamar. Perilaku ini akhirnya menjadi sesuatu yang dianggap normal,ā katanya.
Takut Terlihat Rentan, Jadi Memilih Kabur
Alasan keempat ini lebih personal dan berkaitan dengan gaya keterikatan seseorang dalam hubungan.
Menurut Chodash, orang dengan gaya keterikatan menghindar atau avoidant attachment style cenderung menarik diri saat mulai merasa terlalu dekat secara emosional dengan orang lain. Daripada menunjukkan kerentanan dan membicarakan perasaan yang rumit, mereka memilih mengakhiri hubungan dengan cara menghilang begitu saja.
Kecenderungan ini biasanya bukan muncul begitu saja, tapi berakar dari pengalaman masa kecil atau pola hubungan yang dialami seseorang saat tumbuh dewasa.
Mencari Kepuasan Instan, Ogah Berinvestasi Waktu
Alasan terakhir ini terasa relevan banget dengan gaya hidup masa kini.
Sebagian orang kurang bersedia berinvestasi dalam proses membangun hubungan jangka panjang. Mereka lebih tertarik mencari kecocokan instan dan kepuasan cepat, mirip pola konsumsi konten di media sosial yang serba instan.
Akibatnya, begitu hubungan mulai terasa rumit, membingungkan, atau menimbulkan stres, ghosting jadi pilihan yang dianggap lebih praktis daripada berusaha menyelesaikan masalah atau menghadapi kecemasan yang muncul.
Memahami lima alasan ini setidaknya bisa membantu kita melihat ghosting bukan semata soal kejahatan personal, tapi juga cerminan dari kombinasi kematangan emosional, pola attachment, dan budaya serba cepat yang membentuk cara kita berhubungan satu sama lain hari ini.







