81 Bendera Merah Putih Berkibar di Bawah Laut Lembongan dan Tebing Kelingking

Polsek Nusa Penida mengibarkan 81 bendera Merah Putih di bawah laut Nusa Lembongan dan tebing Pantai Kelingking untuk memperingati HUT RI ke-81, melibatkan polisi, tenaga kesehatan, mahasiswa KKN, dan siswa sekolah dasar setempat.

By
Tim Redaksi
Tim Redaksi Bali Reporter adalah kumpulan orang yang masih belum pede wajahnya dipajang di halaman bio. Alasannya macam-macam: takut ketemu debt collector, mantan yang tiba-tiba ngajak...
bendera Merah Putih Nusa Penida
Highlights
  • 81 bendera Merah Putih dipasang di bawah laut Lembongan dan tebing Kelingking melambangkan usia kemerdekaan RI
  • Acara melibatkan polisi, tenaga kesehatan, mahasiswa KKN, hingga anak sekolah dasar
  • Kapolsek Nusa Penida ajak masyarakat dan wisatawan ikut kibarkan bendera di lingkungan masing-masing

Coba bayangkan begini. Kamu lagi snorkeling santai di Nusa Lembongan, terus di bawah air kelihatan kibaran Merah Putih.

Bukan di tiang bendera biasa. Tapi di dasar laut.

Itulah yang terjadi akhir pekan ini di Nusa Penida, Klungkung. Bukan cuma satu dua bendera, tapi 81 bendera Merah Putih dipasang serentak, di laut Nusa Lembongan sampai tebing Pantai Kelingking yang selama ini jadi ikon foto wisatawan dari seluruh dunia.

Kenapa Harus 81 Bendera?

Angka itu bukan sembarang pilih.

81 melambangkan usia kemerdekaan Indonesia tahun ini. Jadi setiap bendera yang berkibar, entah tertiup angin laut di Kelingking atau melambai pelan di bawah air Lembongan, mewakili satu tahun perjalanan bangsa.

Yang menarik, ini bukan proyek seremonial kaku ala upacara kantor kecamatan. Polsek Nusa Penida sengaja memilih dua lokasi yang secara visual paling ā€œmenjualā€ di pulau itu, spot bawah laut yang jadi favorit turis, dan tebing karang yang selalu ramai diburu kamera.

Foto: Pengibaran bendera merah putih di laut Nusa Lembongan oleh anggota Polsek Nusa Penida, di Kecamatan Nusa Penida, Klungkung, Bali. (Dok. Polsek Nusa Penida)
Foto: Pengibaran bendera merah putih di laut Nusa Lembongan oleh anggota Polsek Nusa Penida, di Kecamatan Nusa Penida, Klungkung, Bali. (Dok. Polsek Nusa Penida)

Bukan Cuma Urusan Polisi

Ini yang bikin acaranya terasa beda dari peringatan HUT RI kebanyakan.

Yang turun tangan bukan cuma jajaran kepolisian. Tenaga kesehatan ikut terlibat, mahasiswa KKN turun langsung ke lapangan, bahkan anak-anak sekolah dasar setempat diajak jadi bagian dari momen ini.

Di situlah letak makna sebenarnya. Nasionalisme bukan cuma soal upacara berdiri tegak di lapangan, tapi bisa lahir dari kolaborasi lintas generasi di tengah keindahan alam Bali sendiri.

Kapolsek Nusa Penida, Kompol I Ketut Kesuma Jaya, menyebut pemilihan lokasi ini memang dirancang supaya rasa cinta tanah air menyatu langsung dengan alam. Menurutnya, generasi muda perlu terus ditanamkan semangat itu, dan cara paling efektif adalah menghubungkannya dengan sesuatu yang mereka lihat dan banggakan sehari-hari, keindahan Lembongan dan Kelingking.

Ketika Alam dan Nasionalisme Jadi Satu Frame

Kalau dipikir-pikir, ini strategi yang cerdas.

Nusa Penida selama ini dikenal dunia lewat tebing karang raksasa dan air lautnya yang biru jernih, bukan lewat isu kebangsaan. Tapi dengan menempatkan Sang Saka di titik-titik ikonik itu, gambar yang tersebar ke media sosial otomatis membawa dua pesan sekaligus, keindahan Indonesia dan kebanggaan menjadi bagian darinya.

Masalahnya, momen seperti ini gampang lewat begitu saja kalau cuma jadi berita satu hari. Polsek Nusa Penida sepertinya sadar soal itu, makanya mereka juga mengajak masyarakat dan wisatawan yang sedang berkunjung untuk ikut mengibarkan Merah Putih di lingkungan masing-masing.

Fakta Singkat Acara

DetailKeterangan
LokasiBawah laut Nusa Lembongan dan tebing Pantai Kelingking
Jumlah bendera81, melambangkan usia kemerdekaan RI
PenyelenggaraPolsek Nusa Penida
Pihak terlibatPolisi, tenaga kesehatan, mahasiswa KKN, siswa SD
WaktuMinggu, 16 Agustus 2026

Tebing karang itu sudah berdiri jutaan tahun, menyaksikan air laut pasang surut tanpa henti. Tahun ini, untuk sesaat, ia jadi saksi lain, ribuan kain merah putih kecil yang mengingatkan semua orang bahwa kemerdekaan bukan cuma catatan sejarah, tapi sesuatu yang terus dirayakan, bahkan di titik paling terpencil sekalipun.

Share This Article
Follow:
Tim Redaksi Bali Reporter adalah kumpulan orang yang masih belum pede wajahnya dipajang di halaman bio. Alasannya macam-macam: takut ketemu debt collector, mantan yang tiba-tiba ngajak balikan, atau mertua yang mendadak jadi pembaca setia. Di luar itu, kami juga sibuk mencari colokan, WiFi yang kencang, tempat ngopi yang enak, dan alasan kenapa deadline selalu datang lebih cepat daripada jam pulang. Sampai hari ini kami belum pernah sepakat soal tempat ngopi terbaik di Bali. Tapi untuk satu hal, kami selalu kompak: berita harus enak dibaca.