Wae Rebo Ditutup, Jalur Menuju “Surga di Atas Awan” Terancam Longsor

Destinasi wisata Wae Rebo di Manggarai, NTT, ditutup sementara pasca gempa magnitudo 7,7 di Nagekeo. Jalur trekking berpotensi longsor dan rumah adat Mbaru Niang tengah disurvei sebelum dibuka kembali untuk wisatawan.

Giostanovlatto
By
Giostanovlatto
Giostanovlatto adalah pendiri Bali Reporter yang lebih sering bertanya "kenapa?" daripada "gimana?". Ia percaya berita yang bagus bukan yang paling cepat bikin heboh, tapi yang paling...
- Founder
Wae Rebo ditutup gempa
Highlights
  • Wae Rebo ditutup sementara sejak Sabtu pagi akibat potensi longsor pasca gempa M7,7
  • Jalur trekking dan tujuh rumah adat Mbaru Niang sedang disurvei keamanannya
  • Gempa Nagekeo menyebabkan 47 korban jiwa dan kerusakan bangunan di Labuan Bajo

Kalau kamu sedang menyusun rencana ke Wae Rebo dalam waktu dekat, ada kabar yang perlu kamu tahu dulu sebelum berangkat.

Desa wisata yang selama ini dijuluki surga di atas awan itu untuk sementara tidak menerima kunjungan wisatawan. Bukan karena alasan administratif atau musiman, tapi karena gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores kemarin membuat jalur trekking menuju desa itu berpotensi longsor.

Kenapa Harus Ditutup?

Jawabannya sederhana, keselamatan dulu, foto belakangan.

Ketua Lembaga Pelestari Budaya Wae Rebo, Mikael Tonso, menjelaskan penutupan ini murni soal risiko. Jalur trekking menuju desa yang berada di ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut itu belum dipastikan aman usai guncangan besar kemarin.

ā€œPotensi longsor karena gempa. Jalur treking belum dipastikan aman,ā€ ujar Mikael, Minggu (16/8/2026) pagi.

Penutupan sudah berlaku sejak kemarin pagi, tepat setelah gempa mengguncang. Bukan keputusan dadakan hari ini, tapi respons cepat begitu getaran pertama terasa.

waerebo
Wae Rebo Ditutup, Jalur Menuju "Surga di Atas Awan" Terancam Longsor 1

Rumah Niang Juga Ikut Diperiksa

Ini yang menarik. Bukan cuma jalur trekking yang jadi perhatian.

Tim pengelola juga akan memeriksa kondisi rumah adat Mbaru Niang, tujuh bangunan berbentuk kerucut yang selama ini jadi ikon paling dikenal dari Wae Rebo. Bangunan-bangunan ini bukan sekadar objek foto turis, tapi rumah tinggal warga sekaligus warisan budaya yang dijaga turun-temurun.

Mikael menyebut desa baru akan dibuka kembali setelah survei menyeluruh terhadap jalur treking maupun kondisi rumah niang selesai dilakukan.

ā€œSetelah survey jalur treking dan pengecekan rumah niang secara menyeluruh, nanti baru akan di-update lagi kapan buka,ā€ jelasnya.

Belum ada kepastian kapan proses ini rampung. Yang jelas, keselamatan wisatawan dan warga jadi prioritas sebelum jalur dibuka kembali.

Gempa yang Mengguncang Separuh Indonesia Timur

Untuk memahami skala kejadian ini, perlu diketahui dulu seberapa besar gempa yang memicunya.

Gempa magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, NTT, pada Sabtu (15/8/2026) pagi. Pusatnya berada di laut, kedalaman 15 kilometer, sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo. Getarannya bukan cuma terasa di NTT, tapi merambat sampai NTB dan Sulawesi Selatan.

Dampaknya tidak main-main. Di Labuan Bajo, sejumlah bangunan rusak, termasuk resor dan hotel bintang empat. Tamu hotel berhamburan keluar, sementara warga pesisir buru-buru meninggalkan rumah karena takut tsunami menyusul.

Hingga tadi malam, tercatat 47 korban jiwa dan puluhan orang luka-luka. Sebagian korban masih dalam proses pencarian karena tertimbun reruntuhan.

Yang Perlu Diperhatikan Wisatawan

Kalau kamu sudah punya rencana perjalanan ke Manggarai atau Labuan Bajo dalam waktu dekat, ada baiknya cek dulu update terbaru sebelum berangkat.

Poin PentingKeterangan
Status Wae ReboDitutup sementara sejak Sabtu pagi
AlasanPotensi longsor jalur trekking pasca gempa
Yang diperiksaJalur treking dan rumah adat Mbaru Niang
Waktu buka kembaliBelum ditentukan, menunggu hasil survei
Sumber informasi resmiLembaga Pelestari Budaya Wae Rebo

Wae Rebo sudah berdiri ratusan tahun di atas awan, menyimpan cerita panjang tentang warga yang menjaga tujuh rumah kerucutnya dari generasi ke generasi. Kali ini, gunung dan alam sekitarnya sedang meminta waktu untuk memastikan semuanya kembali aman, sebelum kembali membagikan pemandangannya yang selama ini bikin orang rela mendaki berjam-jam hanya untuk melihatnya dari dekat.

Share This Article
Follow:
Giostanovlatto adalah pendiri Bali Reporter yang lebih sering bertanya "kenapa?" daripada "gimana?". Ia percaya berita yang bagus bukan yang paling cepat bikin heboh, tapi yang paling mudah dipahami. Kalau lagi nggak nulis, biasanya lagi surfing, ngopi, sunsetan, kadang liputan, kadang nyamar jadi CEO, curhat sama anjingnya, atau bengong di trotoar Renon sambil mencari ide. Belum pernah menang giveaway, tapi tetap optimis. Kalau chat-nya centang dua tapi nggak dibalas, anggap saja sedang mengejar rekor tidur.