Coba ingat-ingat, apakah pernah ada orang di sekitarmu yang selalu tersenyum, selalu menawarkan bantuan, tapi entah kenapa kamu selalu pulang dengan perasaan lebih kecil dari sebelumnya?
- Kenapa Ada Orang yang Justru Merasa Lebih Baik Saat Kamu Jatuh
- Tanda Pertama: Rasa Percaya Dirimu Perlahan Terkikis
- Tanda Kedua: Empatinya Terasa Kosong
- Tanda Ketiga: Kata āMaafā Terasa Sangat Mahal Buat Mereka
- Tanda Keempat: Simpatik di Depan, Lega di Belakang
- Jangan Ragu Menjaga Jarak, Tapi Jangan Juga Terlalu Cepat Menghakimi
Kalau pernah, kamu mungkin baru saja bertemu dengan tipe orang yang psikolog sebut mengalami schadenfreude, perasaan senang diam-diam ketika melihat orang lain kesulitan. Bukan berarti mereka jahat secara terang-terangan. Justru yang membuatnya sulit dikenali, mereka sering tampil sebagai sosok yang paling suportif di permukaan.
Kenapa Ada Orang yang Justru Merasa Lebih Baik Saat Kamu Jatuh

Menurut riset dari Leiden University, orang dengan harga diri rendah lebih rentan mengalami schadenfreude. Melihat orang lain gagal membuat mereka merasa hidup mereka sendiri tidak seburuk yang mereka kira.
Di sinilah letak yang jarang dibahas soal fenomena ini. Perasaan senang melihat orang lain kesulitan bukan tanda seseorang itu jahat sejak lahir, tapi lebih sering jadi cerminan dari rasa tidak aman yang belum pernah mereka selesaikan dengan diri sendiri.
Masalahnya, ketidaknyamanan batin itu jarang tampak jelas. Mereka justru pandai menyembunyikannya di balik sikap ramah, sampai pola perilakunya baru terlihat setelah waktu berjalan cukup lama.
Tanda Pertama: Rasa Percaya Dirimu Perlahan Terkikis

Ada orang yang merasa lebih baik tentang dirinya sendiri justru ketika berhasil membuat orang lain merasa lebih kecil.
Biasanya, ini muncul lewat komentar yang terdengar seperti candaan ringan, tapi perlahan mengikis rasa percaya diri lawan bicaranya. Di balik sikap seperti ini, biasanya tersimpan rasa insecure yang cukup besar, dan cara mereka menutupinya adalah menjatuhkan orang di sekitarnya agar terasa lebih unggul.
Satu hal yang perlu diperhatikan, cara mereka bersikap saat hidupmu sedang baik-baik saja. Kalau seseorang hanya muncul saat kamu bermasalah, tapi menjauh begitu kamu berhasil atau bahagia, itu sinyal yang cukup jelas bahwa dukungan mereka mungkin tidak seiklas yang terlihat.
Tanda Kedua: Empatinya Terasa Kosong

Empati seharusnya membuat seseorang ikut merasakan apa yang kamu alami. Sayangnya, tidak semua orang punya kemampuan ini dengan baik.
Saat kamu menghadapi masa sulit, orang yang minim empati biasanya tidak benar-benar peduli dengan perasaanmu. Alih-alih memberi dukungan, mereka justru terlihat acuh, atau lebih buruk lagi, meremehkan apa yang sedang kamu rasakan.
Yang lebih rumit, dalam beberapa kasus mereka sebenarnya mampu membantu, tapi kondisi sulitmu justru memberi keuntungan emosional bagi mereka sendiri. Tanpa empati, seseorang tidak punya banyak alasan untuk berhenti menyakiti, atau merasa bersalah setelah melakukannya.
Tanda Ketiga: Kata āMaafā Terasa Sangat Mahal Buat Mereka

Salah satu ciri hubungan yang sehat adalah kemampuan mengakui kesalahan.
Orang yang diam-diam senang melihatmu terpuruk biasanya justru sulit, bahkan enggan, melakukan hal ini. Mereka lebih sering berpura-pura tidak bersalah, atau malah membuatmu merasa terlalu sensitif atas apa yang kamu rasakan.
Kalau seseorang berkali-kali menyakitimu tapi tidak pernah mau meminta maaf, atau menganggapnya sebagai hal biasa, mungkin ini saatnya mempertanyakan ulang kualitas hubungan tersebut. Setiap orang berhak diperlakukan dengan hormat, termasuk mendapat permintaan maaf yang tulus ketika benar-benar disakiti.
Tanda Keempat: Simpatik di Depan, Lega di Belakang

Ini mungkin tanda yang paling sulit dikenali dari semuanya.
Di hadapanmu, mereka tampak prihatin, seolah ikut bersedih. Tapi di baliknya, mereka justru merasa lebih baik ketika melihat hidupmu tidak berjalan mulus. Kadang mereka bahkan memberi saran yang terdengar membantu, tapi ujung-ujungnya justru membuat masalah semakin rumit.
Kalau ada seseorang yang terlihat terlalu tenang, terlalu penasaran, atau bahkan seolah menikmati momen ketika kamu sedang kesulitan, mungkin memang perlu lebih hati-hati membaca situasinya.
Jangan Ragu Menjaga Jarak, Tapi Jangan Juga Terlalu Cepat Menghakimi
Menghadapi orang seperti ini memang tidak sederhana, apalagi kalau ia adalah teman dekat, rekan kerja, atau bahkan keluarga sendiri.
Satu hal yang perlu diingat, tanda-tanda di atas paling berarti kalau muncul berulang dan konsisten, bukan sekadar satu momen buruk yang bisa terjadi pada siapa saja. Menjaga kesehatan mental berarti belajar memilah, bukan langsung memutus semua hubungan berdasarkan satu kejadian.
Orang yang tulus akan ikut bahagia saat kamu berhasil, dan hadir memberi dukungan saat kamu jatuh. Mengurangi interaksi dengan orang yang justru diam-diam menikmati kesulitanmu bukan bentuk egois, melainkan cara menghargai diri sendiri. Pada akhirnya, kamu berhak dikelilingi orang-orang yang benar-benar ingin melihatmu tumbuh, bukan sekadar menunggu momen kamu terpuruk untuk merasa lebih baik tentang diri mereka sendiri.







