Ada satu hal menarik soal grup yang sudah bertahan lebih dari satu dekade. Semakin lama mereka bersama, semakin sulit membedakan mana suara individu, mana suara kelompok.
Itulah yang selama ini terjadi pada Atarashii Gakko!, kuartet asal Jepang yang sudah 11 tahun menari dan bernyanyi bersama sejak masih duduk di bangku SMP. Tapi di album terbaru mereka, āFrom Tokyo With Loveā, sesuatu yang baru akhirnya terjadi. Untuk pertama kalinya, masing-masing personel tampil sendiri lewat lagu solo.
Ketika Empat Suara Akhirnya Dipisah

Selama ini, formula panggung mereka selalu sama. Kalau Suzuka bernyanyi, tiga anggota lain tetap menari di belakangnya. Kalau cuma Mizyu dan Kanon yang bernyanyi, dua personel lain tetap ikut di atas panggung.
Mizyu menjelaskan, pola itu justru membuat mereka mulai berpikir soal karakter vokal masing-masing anggota, sesuatu yang selama ini sering tenggelam di balik formasi grup.
Bagi Rin, keputusan memberi ruang solo ini bukan berarti melemahkan identitas grup, justru sebaliknya. Menurutnya, kepribadian Atarashii Gakko! sebagai grup dan kepribadian masing-masing personel adalah dua hal yang sama-sama kaya warna, tapi berbeda. Ketika salah satu dari mereka disorot sendirian, warna dan tekstur yang muncul justru tidak akan pernah terlihat ketika mereka bernyanyi berempat.
Di sinilah letak yang jarang dibahas soal fenomena girl group Jepang. Alih-alih menonjolkan keseragaman seperti banyak grup idola lain, AG justru memilih jalan yang lebih personal, mempertaruhkan keunikan tiap anggota demi memperkuat keseluruhan citra grup.

Single Utama yang Lahir dari Nostalgia
Single utama album ini, āOi AG!ā, punya nuansa groovy yang sengaja dirancang membangkitkan rasa nostalgia. Grup ini pertama kali membawakannya secara langsung di Los Angeles, dalam festival musik Jepang bernama Zipangu, Mei lalu.
Kanon menceritakan tantangan membawakan lagu baru di depan penonton yang belum familiar dengan nuansanya. Tapi ternyata di Los Angeles, penonton justru langsung larut mengikuti energi lagu tersebut tanpa butuh waktu adaptasi lama.
Rin menambahkan, momen pertama membawakan āOi AG!ā di depan publik meninggalkan kesan mendalam baginya, sensasi ketika penonton dan penampil terasa seperti satu detak jantung yang sama.
Album yang Merangkum Dua Evolusi Sekaligus
Yang menarik, āFrom Tokyo With Loveā sebenarnya bercerita soal dua evolusi yang berjalan beriringan: perjalanan AG sebagai grup, dan perjalanan musik Jepang di panggung global.
Suzuka menjelaskan, sepanjang 11 tahun awal karier mereka, fokus utama selalu ada di sisi tarian. Panggung mereka dulu didesain dance-oriented, karena format itu yang dirasa paling cocok dengan karakter grup.
Namun seiring bertambahnya diskografi, mereka mulai memperhatikan sisi vokal secara lebih serius. Pertanyaan yang muncul bukan lagi sekadar koreografi apa yang cocok, tapi gaya vokal seperti apa yang pas, energi macam apa yang ingin ditampilkan, dan bagaimana membangun pertunjukan yang menyeimbangkan keduanya.
Mizyu menambahkan, tahun ini mereka akan menjelajah negara-negara baru untuk konser, dan album ini jadi kesempatan mengambil tantangan baru dalam mengekspresikan diri. Kalau sebelumnya lagu-lagu mereka selalu tentang bagaimana menampilkan kekuatan berempat, kali ini ada juga ruang khusus untuk masing-masing individu.

Rahasia Bertahan 11 Tahun: Saling Jujur di Belakang Panggung
Pertanyaan paling menarik justru datang di bagian akhir wawancara, soal bagaimana mereka saling membantu berkembang selama bertahun-tahun.
Kanon bercerita, sejak dibentuk saat masih SMP, mereka nyaris selalu bersama, bahkan di saat-saat tidak sibuk sekalipun. Obrolan mereka tidak melulu soal grup, tapi juga soal kehidupan pribadi masing-masing, tempat mereka bisa saling bertanya dan berbagi kegelisahan.
Menurutnya, kejujuran semacam ini yang jadi alasan utama kenapa mereka bisa terus tumbuh bersama sebagai grup, bukan sekadar rutinitas latihan atau jadwal manggung yang padat.
Kalau dipikir-pikir, cerita Atarashii Gakko! ini sebenarnya menawarkan perspektif berbeda soal apa yang membuat sebuah grup musik bertahan lama. Bukan cuma soal formula lagu yang hits atau koreografi yang seragam, tapi soal keberanian membiarkan setiap individu punya ruang untuk didengar sendiri-sendiri, tanpa kehilangan kekuatan saat mereka kembali bersatu di atas panggung.







