Minggu pagi biasanya jadi waktu paling tenang untuk siapa pun yang sedang berlayar.
Tapi bagi 271 penumpang dan awak KMP Mutiara Sentosa 2, pagi itu berubah jadi perjuangan hidup dan mati.
Kapal yang berlayar dari Surabaya menuju Makassar itu dilaporkan terbakar di perairan Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, Minggu (02/08).
Yang Sebenarnya Terjadi

Berdasarkan data terbaru dari Kantor SAR Surabaya per Senin (03/08) pukul 09.41 WIB, insiden ini telah menewaskan lima orang.
Sebanyak 229 orang dilaporkan selamat, sementara 37 orang lainnya masih belum diketahui nasibnya.
Dari jumlah korban selamat, 111 orang dan dua jenazah dievakuasi melalui Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, pada Minggu malam. Sembilan korban lainnya dibawa ke Pelabuhan Kalianget, Sumenep, pada Senin dini hari pukul 00.25 WIB.
Setiap korban yang turun dari kapal penolong menjalani triase oleh tim kesehatan untuk memeriksa kondisi fisik mereka.
Kronologi Kebakaran, Jam demi Jam

Menurut Kepala Kantor SAR Surabaya, Nanang Sigit, informasi kebakaran pertama kali diterima perusahaan pelayaran dari nakhoda kapal sekitar pukul 06.00 WIB, Minggu pagi.
Setelah itu, nakhoda tidak dapat dihubungi kembali.
Kantor SAR Surabaya baru menerima informasi resmi soal kebakaran pada pukul 08.24 WIB, dari Syahbandar Tanjung Perak. Tim SAR langsung berkoordinasi untuk memastikan posisi terakhir kapal.
Sekitar pukul 09.45 WIB, petugas di Kapal Meratus Project 3 melaporkan posisi Mutiara Sentosa 2 berada sekitar 19 mil laut di utara Pulau Burung, Sapudi. Namun kapal ini tidak bisa mendekat karena sedang mengangkut muatan yang mudah terbakar.
Saat laporan itu diterima, sebagian badan kapal sudah terbakar. Para penumpang bertahan di anjungan dan haluan sambil menunggu pertolongan datang.
Situasi makin genting sekitar pukul 10.20 WIB. Sejumlah penumpang memutuskan melompat ke laut demi menyelamatkan diri, sebelum kapal-kapal penolong sempat merapat sepenuhnya.
Menurut laporan Kantor SAR Surabaya, penumpang yang melompat ke laut kemudian dievakuasi oleh TB Hasnur 26 dan Kapal British Mentor. Di sekitar lokasi kejadian, total ada empat kapal yang ikut merapat membantu proses evakuasi.
Kenapa Pendataan Butuh Waktu Lama

Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, menjelaskan pemerintah saat ini fokus mencocokkan data manifes resmi perusahaan dengan jumlah korban yang berhasil dievakuasi oleh berbagai kapal penolong.
āSemua kapal itu masuk ke sini, kita akan cocokkan dengan manifes dari perusahaan, apakah memang sudah semua terevakuasi atau masih ada yang belum terevakuasi, mungkin masih harus dilakukan pencarian,ā ujarnya.
Proses ini ternyata tidak sesederhana kelihatannya. Beberapa kapal penolong masih dalam perjalanan menuju daratan dan terkendala sinyal komunikasi di tengah laut.
Ditambah lagi, ada proses pemindahan korban antar-kapal yang terjadi di tengah operasi penyelamatan, sehingga data jumlah dan lokasi korban terus berubah dari jam ke jam.
Sebelumnya, Kepala Seksi Operasi Kantor SAR Surabaya, Didit Arie Ristandy, sempat menyebut ada sekitar 40 hingga 45 penumpang yang belum berhasil dievakuasi dari total 232 penumpang dan 39 ABK di kapal tersebut.
Upaya yang Masih Berjalan

Direktur Jenderal Perhubungan Laut, Muhammad Masyhud, menegaskan keselamatan penumpang dan awak kapal jadi prioritas utama pemerintah saat ini.
Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai mengerahkan kapal patroli KN Grantin P.211 menuju lokasi kejadian, sementara Distrik Navigasi menyiapkan KN Masalembo untuk mendukung operasi di lapangan sesuai kebutuhan.
Kantor SAR Surabaya sendiri memperkirakan butuh sekitar enam jam bagi KN SAR 249 Permadi untuk mencapai titik kejadian.
Sampai laporan terakhir diterima, proses evakuasi terhadap penumpang dan pencarian korban yang belum ditemukan masih terus berlangsung. Pemerintah belum bisa memastikan kapan proses validasi data akan tuntas sepenuhnya, mengingat kompleksnya koordinasi antar-kapal penolong yang tersebar di beberapa titik perairan Sumenep.







