Terlalu Lama Mikirin Uang? Ahli Keuangan Bilang Ini Penyebabnya dan Cara Mengatasinya  

Mengelola keuangan yang berantakan ternyata bisa menghabiskan lebih dari 13 jam setiap minggu. Para ahli membagikan cara sederhana, mulai dari membangun dana darurat hingga mengotomatisasi pembayaran, agar waktu dan pikiran tidak terus terkuras.

By
Tim Redaksi
Tim Redaksi Bali Reporter adalah kumpulan orang yang masih belum pede wajahnya dipajang di halaman bio. Alasannya macam-macam: takut ketemu debt collector, mantan yang tiba-tiba ngajak...
Leopatrizi | E+ | Getty Images
Highlights
  • Riset menemukan sebagian orang bisa menghabiskan lebih dari 13 jam seminggu hanya untuk mengurus keuangan pribadi.
  • Orang yang lebih paham mengelola uang rata-rata hanya menghabiskan sekitar 4 jam per minggu.
  • Otomatisasi pembayaran dan tabungan disebut sebagai salah satu cara paling efektif menghemat waktu.
  • Bukan sekadar soal uang, tetapi juga soal mengurangi stres yang terus membebani pikiran.

Pernah merasa baru saja memikirkan tagihan listrik, lalu ingat cicilan, belum selesai itu muncul lagi notifikasi kartu kredit atau dompet digital?

Kalau iya, ternyata kamu tidak sendirian.

Sebuah riset dari TIAA Institute menemukan orang dengan pemahaman keuangan yang rendah bisa menghabiskan rata-rata lebih dari 13 jam setiap minggu hanya untuk memikirkan dan mengurus masalah keuangan. Sebaliknya, mereka yang lebih memahami cara mengelola uang hanya menghabiskan sekitar empat jam seminggu.

Selisihnya hampir setara satu hari kerja.

Yang menarik, para ahli mengatakan masalahnya bukan semata-mata karena seseorang tidak mengerti investasi atau sulit menghitung anggaran bulanan.

Menurut Christine Benz, Direktur Personal Finance and Retirement Planning di Morningstar, banyak orang menghabiskan waktu karena terus “memadamkan api”. Hari ini memindahkan saldo rekening agar cukup membayar tagihan, besok mencari cara menutup cicilan, lalu minggu depan menghadapi pengeluaran tak terduga. Siklus itu membuat pikiran tidak pernah benar-benar tenang.

Lalu bagaimana cara memutusnya?

Hal pertama yang disarankan adalah memiliki dana darurat, meski jumlahnya belum besar. Menyisihkan uang sedikit demi sedikit setiap bulan bisa mengurangi kepanikan saat ban kendaraan bocor, motor rusak, atau tiba-tiba harus berobat.

Dengan begitu, kamu tidak perlu terus memutar otak mencari uang setiap kali muncul pengeluaran mendadak.

Langkah berikutnya justru terdengar sederhana: otomatisasi keuangan.

Ahli perencana keuangan Doug Boneparth menyarankan pembayaran tagihan, cicilan, hingga tabungan dilakukan secara otomatis jika memungkinkan. Semakin sedikit keputusan kecil yang harus dibuat setiap minggu, semakin sedikit pula energi yang terkuras.

Logikanya sederhana. Kalau tagihan sudah dibayar otomatis dan tabungan langsung dipotong saat gajian, kamu tidak perlu mengingatnya setiap hari.

Bukan cuma itu.

Terlalu banyak rekening bank, kartu kredit, atau dompet digital juga bisa membuat seseorang lebih sering membuka aplikasi keuangan hanya untuk memastikan semuanya baik-baik saja. Karena itu, menyederhanakan jumlah akun dan menggunakan aplikasi yang bisa menampilkan seluruh kondisi keuangan dalam satu dashboard juga dinilai membantu menghemat waktu.

Kalau dipikir-pikir, tujuan akhirnya bukan sekadar membuat uang bertambah.

Yang sebenarnya ingin dicapai adalah membeli kembali waktu dan ketenangan pikiran.

Karena semakin sedikit waktu yang habis untuk terus-menerus memikirkan uang, semakin banyak waktu yang bisa dipakai untuk bekerja, belajar, menikmati keluarga, atau bahkan mencari peluang penghasilan baru.

Share This Article
Follow:
Tim Redaksi Bali Reporter adalah kumpulan orang yang masih belum pede wajahnya dipajang di halaman bio. Alasannya macam-macam: takut ketemu debt collector, mantan yang tiba-tiba ngajak balikan, atau mertua yang mendadak jadi pembaca setia. Di luar itu, kami juga sibuk mencari colokan, WiFi yang kencang, tempat ngopi yang enak, dan alasan kenapa deadline selalu datang lebih cepat daripada jam pulang. Sampai hari ini kami belum pernah sepakat soal tempat ngopi terbaik di Bali. Tapi untuk satu hal, kami selalu kompak: berita harus enak dibaca.