Bayangkan sebuah film yang belum sempat tayang di bioskop tiba-tiba menghilang.
Bukan karena dibajak di internet, melainkan karena hard drive yang menyimpan film tersebut dicuri dari kantor perusahaan sebesar Netflix.
Itulah kasus yang kini menyeret raksasa streaming itu ke meja hijau dengan nilai gugatan yang fantastis, mencapai US$105 juta atau sekitar Rp1,7 triliun.
Film yang menjadi pusat sengketa berjudul Fortitude, sebuah thriller mata-mata berlatar Perang Dunia II yang dibintangi Nicolas Cage, Matthew Goode, Ed Skrein, Alice Eve, dan Jordi MollĆ .
Menurut gugatan yang diajukan produser sekaligus penulis Simon Afram, salinan utama film diserahkan langsung ke kantor Netflix di Los Angeles pada Juni lalu untuk keperluan penayangan internal.
Produser mengaku sudah memberi tahu bahwa hard drive tersebut tidak dienkripsi dan meminta file dihapus setelah selesai diputar. Namun, sekitar sepuluh hari kemudian, Netflix mengabarkan bahwa perangkat itu ikut hilang dalam aksi pencurian di kantor mereka.
Yang membuat situasi semakin rumit, produser menilai hilangnya salinan film bisa merusak masa depan proyek tersebut.
Mereka berargumen bahwa setiap calon distributor kini harus diberi tahu bahwa versi master film pernah dicuri sebelum resmi dirilis. Hal itu dikhawatirkan memengaruhi negosiasi penjualan, perlindungan asuransi, strategi pemasaran, hingga meningkatkan risiko film bocor ke internet sebelum jadwal penayangan.

Netflix punya pandangan berbeda.
Perusahaan menyatakan tidak bertanggung jawab atas hilangnya film tersebut karena salinan yang diterima disebut tidak dilindungi dengan standar keamanan industri. Meski begitu, Netflix mengaku telah melakukan investigasi internal dan menawarkan bantuan untuk memantau situs-situs pembajakan jika sewaktu-waktu film itu muncul secara ilegal.
Kasus ini juga memunculkan pertanyaan besar tentang keamanan aset digital di industri hiburan.
Di era ketika satu hard drive bisa berisi proyek bernilai jutaan dolar, perlindungan data bukan lagi sekadar urusan teknologi, melainkan bagian penting dari bisnis film itu sendiri.
Bagi industri kreatif di Indonesia, cerita ini juga menjadi pengingat. Semakin banyak film lokal diproduksi untuk platform digital dan pasar internasional. Artinya, keamanan file produksi kini sama pentingnya dengan proses syuting atau promosi.
Karena terkadang, ancaman terbesar bagi sebuah film bukan datang setelah tayang, tetapi justru sebelum penonton sempat melihat adegan pertamanya.







