Internet Makin Dipenuhi Konten AI, Startup Ini Punya Cara Membedakannya dari Tulisan Manusia

Pangram memperoleh pendanaan US$9 juta untuk mengembangkan teknologi pendeteksi konten AI. Di tengah membanjirnya tulisan dan gambar buatan AI, alat seperti ini diprediksi semakin dibutuhkan oleh media, kampus, perusahaan, dan pembaca di Indonesia.

By
Tim Redaksi
Tim Redaksi Bali Reporter adalah kumpulan orang yang masih belum pede wajahnya dipajang di halaman bio. Alasannya macam-macam: takut ketemu debt collector, mantan yang tiba-tiba ngajak...
Image Credit: Pangram

Pernah membaca sebuah artikel, lalu tiba-tiba muncul pikiran, ā€œIni benar ditulis manusia atau AI?ā€

Kalau pertanyaan itu semakin sering muncul, ternyata Anda tidak sendirian.

Internet memang sedang berubah. Konten buatan AI bermunculan di mana-mana, mulai dari artikel, unggahan media sosial, hingga gambar yang sekilas terlihat benar-benar nyata. Melihat tren itu, sebuah startup asal New York bernama Pangram justru membangun bisnis dengan tujuan yang berbeda: membantu orang mengetahui mana konten yang dibuat manusia dan mana yang dibuat AI.

Pangram Yakin Kebutuhan Deteksi AI Akan Terus Naik

Pangram baru saja memperoleh pendanaan US$9 juta untuk mengembangkan teknologi pendeteksi konten AI.

Perusahaan ini juga meluncurkan model terbaru bernama Pangram 4, yang diklaim mampu mendeteksi tulisan yang dibuat atau dibantu AI dengan tingkat akurasi lebih dari 99 persen. Tak hanya teks, Pangram juga mulai mengembangkan sistem yang dapat mengenali gambar hasil kecerdasan buatan.

Menariknya, teknologi ini tidak mencari watermark atau metadata tersembunyi. Pangram melatih modelnya menggunakan jutaan dokumen buatan manusia, lalu membandingkannya dengan versi yang ditulis AI untuk mempelajari pola, gaya bahasa, dan pilihan kata yang khas.

Kenapa Isu Ini Penting untuk Indonesia?

Penggunaan AI di Indonesia berkembang sangat cepat.

Mahasiswa memakainya untuk membantu tugas, pekerja memanfaatkannya menyusun laporan, sementara kreator konten menggunakannya untuk membuat artikel, caption, hingga gambar dalam hitungan menit.

Masalahnya, ketika semakin banyak konten AI beredar tanpa penjelasan, pembaca menjadi semakin sulit membedakan mana informasi yang benar-benar ditulis, diteliti, dan dipertanggungjawabkan oleh manusia.

Bagi media, kampus, hingga perusahaan di Indonesia, kemampuan mengenali penggunaan AI bisa menjadi hal yang semakin penting untuk menjaga kualitas dan kepercayaan publik.

Foto Tangkapan Layar Pengunaan Pangram untuk mendeteksi tulisan ai
Foto Tangkapan Layar Pengunaan Pangram untuk mendeteksi tulisan AI

Bukan Melarang AI, Tapi Mendorong Transparansi

Yang menarik, Pangram tidak menganggap semua penggunaan AI sebagai sesuatu yang salah.

Menurut pendirinya, AI boleh saja membantu memperbaiki tata bahasa atau merapikan tulisan. Yang menjadi masalah adalah ketika konten sepenuhnya dibuat AI tetapi disajikan seolah-olah merupakan hasil pemikiran manusia.

Karena itu, Pangram mencoba membedakan apakah sebuah tulisan dibuat sepenuhnya oleh AI atau hanya mendapatkan sedikit bantuan selama proses penyuntingan.

Masa Depan Internet Mungkin Akan Berubah

Kini Pangram sudah digunakan oleh berbagai pihak, mulai dari platform digital, penerbit, universitas, hingga perusahaan teknologi. Bahkan platform newsletter Substack telah mengintegrasikan teknologinya untuk memberi tahu pembaca apakah sebuah tulisan menggunakan bantuan AI.

Persaingan di bidang ini juga semakin ramai, dengan hadirnya layanan seperti GPTZero, Copyleaks, Winston AI, dan Originality.ai.

Semakin canggih AI menghasilkan tulisan dan gambar, semakin besar pula kebutuhan akan alat yang bisa memverifikasi keasliannya. Mungkin beberapa tahun lagi, bukan hanya artikel berita yang memiliki label fakta, tetapi juga penanda sederhana yang memberi tahu kita apakah sebuah konten lahir dari kreativitas manusia, kecerdasan buatan, atau gabungan keduanya.

Share This Article
Follow:
Tim Redaksi Bali Reporter adalah kumpulan orang yang masih belum pede wajahnya dipajang di halaman bio. Alasannya macam-macam: takut ketemu debt collector, mantan yang tiba-tiba ngajak balikan, atau mertua yang mendadak jadi pembaca setia. Di luar itu, kami juga sibuk mencari colokan, WiFi yang kencang, tempat ngopi yang enak, dan alasan kenapa deadline selalu datang lebih cepat daripada jam pulang. Sampai hari ini kami belum pernah sepakat soal tempat ngopi terbaik di Bali. Tapi untuk satu hal, kami selalu kompak: berita harus enak dibaca.