Ada pemandangan yang tidak biasa di Flores pagi ini.
Bukan di dalam gereja seperti biasanya, tapi di pelataran terbuka, di bawah langit langsung. Ratusan umat Katolik memilih mengikuti misa Minggu sambil berdiri di area terbuka, sementara bangunan gereja di belakang mereka tetap kosong.
Kenapa Ibadah Dipindah ke Luar?
Alasannya bukan soal cuaca atau renovasi. Ini soal keselamatan.
Setelah gempa magnitudo 7,7 mengguncang Flores kemarin, sejumlah gereja memutuskan menggelar misa di luar ruangan sebagai antisipasi gempa susulan. Bangunan gerejanya sendiri masih berdiri utuh, tidak roboh atau retak parah, tapi pihak gereja tetap memilih jalan aman.
Gereja Paroki Maria Bunda Segala Bangsa (MBSB) Waeksambi di Labuan Bajo, Manggarai Barat, jadi salah satu yang mengambil langkah ini. Gereja di Kisol, Manggarai Timur, melakukan hal serupa.
βKarena kondisi pasca gempa kemarin belum benar-benar kondusif,β ujar Pastor Paroki MBSB Waeksambi, Romo Dominikus Risno Maden, Minggu.
Bangunan Bertingkat, Risiko Lebih Besar
Ada alasan teknis di balik keputusan ini yang penting untuk dipahami.
Gereja Paroki Waeksambi punya struktur bangunan dua tingkat. Menurut Romo Risno, struktur seperti ini justru lebih rentan terdampak jika terjadi guncangan susulan, dibanding bangunan satu lantai biasa.
βApalagi struktur bangunan Gereja Paroki Wae Sambi bertingkat,β jelasnya.
Karena pertimbangan itulah, misa Minggu ini akhirnya dipindahkan ke pelataran depan Patung Bunda Maria, persis di sisi barat gereja. Ratusan umat pagi ini terpantau khusyuk mengikuti ibadah di ruang terbuka tersebut, doa tetap berjalan seperti biasa, hanya tempatnya yang berubah.
Gempa yang Mengubah Rutinitas Warga Flores
Untuk memahami kenapa kewaspadaan ini begitu tinggi, perlu melihat kembali skala gempa yang terjadi.
Gempa magnitudo 7,7 mengguncang Flores pada Sabtu (15/8/2026) pagi, dengan pusat gempa di laut, kedalaman 15 kilometer, sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo. Getarannya terasa kuat sampai ke NTB dan Sulawesi Selatan.
Di Labuan Bajo, dampaknya terlihat jelas. Sejumlah bangunan rusak, termasuk resor dan hotel bintang empat. Tamu hotel berhamburan keluar, warga pesisir buru-buru mengungsi karena takut tsunami menyusul.
Hingga tadi malam, tercatat 47 korban jiwa dan puluhan lainnya luka-luka. Sebagian korban masih dalam proses evakuasi karena tertimbun reruntuhan.
Doa yang Tidak Berhenti Meski di Ruang Terbuka
Yang menarik dari momen ini, ketakutan akan gempa susulan tidak membuat warga berhenti beribadah.
Mereka hanya memindahkan tempatnya. Dari dalam bangunan yang mungkin berisiko, ke halaman terbuka yang lebih aman. Sebuah penyesuaian kecil yang menunjukkan bagaimana warga Flores tetap menjalankan keyakinan mereka, bahkan di tengah situasi yang belum sepenuhnya pulih.
Belum ada kepastian sampai kapan pola ibadah di luar ruangan ini akan berlangsung. Yang jelas, selama gempa susulan masih jadi ancaman nyata, kehati-hatian tetap jadi prioritas utama warga Flores.







