Kalau suatu hari penerbanganmu tertunda padahal langit cerah tanpa hujan, jangan buru-buru menyalahkan maskapai.
Ternyata, cuaca yang terlalu panas justru bisa menjadi masalah serius bagi sebuah pesawat.
Kedengarannya memang aneh. Bukankah pesawat lebih sulit terbang saat badai atau hujan deras?
Faktanya, suhu ekstrem juga bisa membuat proses lepas landas menjadi jauh lebih rumit. Bahkan dalam kondisi tertentu, maskapai harus mengurangi jumlah penumpang, kargo, atau bahan bakar agar pesawat tetap bisa terbang dengan aman.
Masalahnya Ada di Udara yang Terlalu Tipis
Yang membuat cerita ini menarik, penyebabnya bukan mesin pesawat.
Melainkan udara.
Menurut Ross Aimer, mantan kapten United Airlines sekaligus CEO Aero Consulting Experts, suhu yang sangat tinggi membuat kepadatan udara menurun atau menjadi lebih tipis.
Akibatnya, mesin jet menghasilkan daya dorong yang lebih kecil. Pada saat yang sama, sayap pesawat juga menghasilkan gaya angkat yang lebih rendah.
Sederhananya, pesawat membutuhkan lintasan yang lebih panjang dan tenaga yang lebih besar untuk bisa mengudara dengan aman.
Kenapa Penumpang Bisa Diminta Turun?

Pilot sebenarnya sudah menghitung berbagai faktor sebelum pesawat diizinkan lepas landas.
Menurut Alan Price, mantan kapten Delta Air Lines, ada beberapa hal yang selalu diperhitungkan, yaitu berat pesawat, suhu udara, ketinggian bandara dari permukaan laut, hingga panjang landasan pacu.
Kalau hasil perhitungan menunjukkan pesawat terlalu berat untuk kondisi cuaca saat itu, maskapai memiliki beberapa pilihan.
Mereka bisa:
| Pilihan Maskapai | Tujuannya |
|---|---|
| Mengurangi kargo | Mengurangi berat pesawat |
| Mengisi bahan bakar lebih sedikit | Membuat bobot lebih ringan |
| Menunggu suhu lebih dingin | Meningkatkan performa lepas landas |
| Memindahkan sebagian penumpang ke penerbangan lain | Menjamin keselamatan penerbangan |
American Airlines mengakui prosedur seperti ini memang dilakukan ketika suhu berada pada level yang sangat tinggi.
Maskapai juga menyebut kompensasi bagi penumpang yang sukarela berpindah penerbangan merupakan praktik yang sudah umum di industri penerbangan.
Tidak Semua Bandara Menghadapi Risiko yang Sama

Bandara dengan landasan pendek, berada di dataran tinggi, dan memiliki suhu ekstrem menjadi lokasi yang paling rentan.
Contohnya adalah Denver International Airport di Amerika Serikat yang berada di ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut.
Bandara Phoenix Sky Harbor juga menghadapi tantangan serupa. Dalam beberapa tahun terakhir, kota tersebut mengalami suhu di atas 43 derajat Celsius selama rata-rata 43 hari setiap tahun.
Semakin tinggi lokasi bandara dan semakin panas cuacanya, semakin sulit pula pesawat menghasilkan gaya angkat yang dibutuhkan saat lepas landas.
Perubahan Iklim Diperkirakan Memperburuk Situasi
Masalahnya bukan hanya terjadi hari ini.
Sejumlah penelitian memperkirakan kondisi tersebut akan semakin sering terjadi seiring meningkatnya suhu global.
Studi yang dilakukan NASA Goddard Institute for Space Studies bersama Logistics Management Institute pada 2017 memperkirakan bahwa pada tahun 2050, sejumlah bandara bisa menerapkan pembatasan berat pesawat hingga 10 hingga 30 persen untuk penerbangan yang berlangsung pada jam-jam terpanas.
Penelitian lain bahkan memperkirakan beberapa bandara di Eropa mungkin harus mengurangi beban setara sekitar 10 penumpang dalam setiap penerbangan pada pertengahan abad ini.
Lalu Apa Artinya Buat Penumpang?

Bagi sebagian besar orang, perubahan ini mungkin hanya terasa sebagai jadwal yang mundur beberapa jam atau pemberitahuan bahwa penerbangan mengalami penyesuaian kapasitas.
Namun di balik layar, keputusan itu diambil karena satu alasan yang tidak bisa ditawar: keselamatan.
Semakin panas bumi, tantangan dunia penerbangan tampaknya tidak lagi hanya soal badai atau turbulensi. Kini, langit yang cerah dan matahari yang terik pun bisa menjadi alasan mengapa sebuah pesawat harus menunggu lebih lama sebelum akhirnya meninggalkan landasan.







