Biasanya kalau seseorang ingin menyimpan lagu, pilihannya sederhana: simpan di ponsel, laptop, flashdisk, atau cloud. Tapi seorang maker bernama Makestreme punya ide yang terdengar seperti datang dari masa depan sekaligus masa lalu.
Ia mencetak sebuah lagu berdurasi sekitar dua menit ke selembar kertas.
Bukan liriknya. Bukan not musiknya. Melainkan data yang memungkinkan lagu tersebut diputar kembali.
Triknya adalah mengubah lagu menggunakan EnCodec, codec audio berbasis jaringan saraf buatan Meta. Dalam eksperimen tersebut, file MP3 berukuran sekitar 2,9 MB dipadatkan menjadi sekitar 21 KB, lalu dibagi ke dalam delapan QR code yang dicetak di kedua sisi kertas. Proyek ini dijuluki semacam āpaper cassetteā.
QR Code-nya Menyimpan Bukan Suara, Melainkan āBahasaā Audio
Di sinilah eksperimennya menjadi menarik.
EnCodec tidak sekadar mengecilkan file seperti kompresi MP3 biasa. Sistem ini mengubah gelombang suara menjadi rangkaian token digital yang jauh lebih ringkas. Token tersebut kemudian dapat diterjemahkan kembali menjadi audio menggunakan decoder EnCodec. Meta memang merancang EnCodec sebagai codec audio neural yang mampu mengompresi audio dan merekonstruksinya kembali menggunakan jaringan saraf.
Dalam proyek Makestreme, setiap QR code menampung sekitar 3 KB data. Delapan QR code tersebut kemudian menjadi semacam ākasetā digital yang bisa dibaca kembali.
Namun ada konsekuensinya.
QR code dibuat dengan tingkat koreksi kesalahan paling rendah untuk memaksimalkan kapasitas. Artinya, hampir tidak ada ruang cadangan. Jika salah satu kode rusak atau tidak terbaca, lagu tersebut bisa ikut hilang.
Bisa Dikirim Tanpa Internet, Tapi Harus Sabar
Eksperimen ini bahkan tidak berhenti pada kertas.
File 21 KB tersebut juga dikirim dari satu papan ESP32 ke ESP32 lainnya menggunakan radio LoRa. Sistem menggunakan modul RYLR998 dan memecah data menjadi paket-paket kecil dengan mekanisme pengiriman ulang jika terjadi kesalahan.
Hasilnya? Sekitar 90 menit untuk mengirim satu lagu.
Lambat memang. Tapi justru itu yang membuat eksperimen ini menarik. Sebuah lagu yang biasanya berpindah dalam hitungan detik kini bisa dikirim lewat radio berdaya rendah tanpa koneksi internet.
Kertas Bisa Bertahan, Tapi Apakah Lagunya Bisa?
Ada ironi kecil di balik proyek ini.
Kertasnya mungkin masih bisa dibaca puluhan atau bahkan ratusan tahun mendatang. Tetapi QR code tersebut sebenarnya tidak menyimpan suara dalam bentuk yang bisa diputar begitu saja.
Untuk menghidupkan kembali lagu itu, diperlukan decoder EnCodec yang sesuai. Jadi yang benar-benar menentukan apakah lagu tersebut bisa didengar lagi bukan hanya kertasnya, tetapi apakah teknologi yang mampu menerjemahkan token tersebut masih tersedia.
Dan di situlah eksperimen sederhana ini berubah menjadi pertanyaan yang lebih besar:
Kalau teknologi yang kita gunakan untuk membaca data sudah hilang, apakah data itu masih bisa disebut tersimpan?







