Kalau selama ini kita terbiasa melihat pariwisata Bali dari satu angka, mungkin sudah waktunya cara pandangnya digeser.
Bukan lagi sekadar berapa juta wisatawan yang datang, tetapi apa yang sedang dilakukan Bali ketika jutaan orang itu terus berdatangan.
Sebab di balik hotel yang penuh, restoran yang ramai dan kawasan wisata yang makin populer, ada pekerjaan rumah yang tidak ikut pergi ketika wisatawan pulang.
Sampah masih harus diurus. Jalan masih harus menampung kendaraan. Infrastruktur harus mengejar pertumbuhan. Dan beberapa kawasan sudah mulai merasakan tekanan karena pertumbuhan wisatawan lebih cepat daripada kemampuan wilayah tersebut menampungnya.
Dr. Yoga Iswara, Wakil Ketua Umum Indonesia Hotel General Manager Association (IHGMA) sekaligus anggota Kelompok Ahli Gubernur Bali bidang Pariwisata, punya satu cara menarik untuk menggambarkan kondisi itu.
āBali itu tidak diam, Bali itu sedang mengeram.ā
Mengeram?
Kedengarannya memang tidak biasa.
Tapi maksudnya cukup jelas. Bali sedang berada dalam sebuah proses. Tidak semua masalah langsung selesai, tetapi ada gerakan untuk memperbaikinya.
Dan menurut Yoga, justru proses itulah yang seharusnya mulai diperlihatkan kepada dunia.
Jangan cuma hitung turis
Selama bertahun-tahun, keberhasilan pariwisata sering terasa seperti perlombaan angka.
Tahun ini berapa juta wisatawan?
Tahun depan bisa naik berapa?
Lalu setelah angka naik, selesai.
Padahal menurut Yoga, pendekatan seperti itu mulai tidak cukup.
āKita juga tidak boleh mengukur keberhasilan pariwisata itu dari angka saja,ā ujarnya. Ia bahkan menilai pendekatan kuantitatif dalam mengukur kesuksesan pariwisata sudah tidak relevan jika berdiri sendiri.
Bukan berarti Bali harus berhenti menerima wisatawan.
Justru sebaliknya.
Bali perlu memastikan pertumbuhan wisatawan berjalan bersama dengan kemampuan Bali mengelola dampaknya.
Yoga menyebut konsepnya sederhana: jangan sampai pertumbuhan berjalan lebih cepat sementara pekerjaan rumah tertinggal.
āJangan sampai pertumbuhannya lewat, PR-nya tertinggal, lebih baik jalan bersamaan,ā katanya.
Ini penting karena dampak pertumbuhan pariwisata akhirnya tidak hanya dirasakan wisatawan.
Orang yang paling lama tinggal di Bali justru masyarakat yang hidup di sini.
Canggu dan Nusa Penida adalah contoh
Yoga melihat persoalan over tourism bukan semata-mata karena wisatawannya terlalu banyak.
Masalah muncul ketika pertumbuhan wisatawan tidak diimbangi kemampuan infrastruktur.
Canggu dan Uluwatu disebut sebagai contoh kawasan yang berkembang sangat cepat. Nusa Penida juga mengalami lonjakan kunjungan karena berhasil menjadi destinasi yang semakin populer. Tetapi ketika infrastruktur tidak tumbuh dengan kecepatan yang sama, muncul jarak antara kebutuhan dan kemampuan kawasan tersebut.
Di situlah masalahnya.
Bali berhasil menarik orang datang, tetapi pekerjaan berikutnya adalah memastikan tempat yang mereka datangi tetap mampu menampung mereka.
Kalau tidak, popularitas justru bisa menjadi masalah baru.
Sampah bisa menjadi cerita, bukan sesuatu yang disembunyikan
Ada satu bagian lain dari wawancara Yoga yang menarik.
Ia mencontohkan persoalan sampah yang selama puluhan tahun menjadi pekerjaan rumah Bali. Menurutnya, rencana waste to energy yang ditargetkan berjalan pada akhir 2027 atau awal 2028 bisa menjadi bagian dari cerita perubahan Bali.
Di tingkat industri, hotel juga disebut mulai melakukan berbagai langkah, mulai dari pengolahan sampah berbasis sumber, pemilahan hingga mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Bagi Yoga, wisatawan tidak harus melihat Bali sebagai tempat yang semua masalahnya sudah selesai.
Yang penting, mereka bisa melihat bahwa Bali sedang bergerak menyelesaikannya.
Dan ini mungkin justru cara yang lebih masuk akal untuk membangun citra Bali.
Tidak perlu berpura-pura semuanya sempurna.
Tunjukkan prosesnya.
Karena promosi terbaik bisa datang dari perubahan
Yoga punya pemikiran yang cukup menarik soal ini.
Menurutnya, Bali sebenarnya tidak perlu terlalu sibuk mengatakan kepada dunia bahwa jumlah wisatawan harus terus meningkat.
Ketika berbagai persoalan Bali ditangani dengan baik, proses tersebut justru bisa menjadi promosi tersendiri.
āKarena apa yang terjadi di Bali, proses rejugenasi, perbaikan, apapun itu, itu akan menjadi promosi yang bagus buat Bali,ā ujarnya.
Analogi yang digunakannya juga sederhana.
Dalam permainan tenis, kata Yoga, orang tidak hanya melihat skor. Yang diperhatikan adalah bolanya.
Begitu pula dengan pariwisata.
Angka kunjungan adalah skor. Persoalan Bali adalah bolanya.
Kalau hanya mengejar skor, kita bisa lupa permainan sebenarnya.
Lalu, apa artinya buat anak muda Bali?
Mungkin ini bagian yang paling penting.
Perubahan pariwisata Bali hari ini bukan hanya urusan pemerintah, hotel atau wisatawan asing.
Generasi muda Bali akan menjadi orang yang hidup dengan hasil dari keputusan tersebut.
Kalau lingkungan membaik, mereka yang menikmati.
Kalau infrastruktur semakin tertinggal, mereka yang menghadapi.
Kalau budaya semakin kuat, mereka yang mewarisinya.
Dan kalau Bali terlalu lama mengejar pertumbuhan sambil membiarkan pekerjaan rumah menumpuk, generasi berikutnya pula yang harus membereskannya.
Karena itu, āBali sedang mengeramā bukan berarti Bali sedang diam.
Justru sebaliknya.
Ada sesuatu yang sedang dipersiapkan.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi berapa banyak wisatawan yang akan datang berikutnya.
Tetapi Bali seperti apa yang sedang kita siapkan ketika mereka datang?







