Liburan Jessica Mila di Pulau Padar Jadi Sorotan, Padahal Aksesnya Sedang Ditutup

Jessica Mila dan Merdi Sahetapy memicu sorotan usai pamer liburan di Pulau Padar saat pelayaran wisata sedang dibatasi akibat gelombang tinggi. Warganet pertanyakan izin berlayar kapal rombongan tersebut.

By
Tim Redaksi
Tim Redaksi Bali Reporter adalah kumpulan orang yang masih belum pede wajahnya dipajang di halaman bio. Alasannya macam-macam: takut ketemu debt collector, mantan yang tiba-tiba ngajak...
Jessica Mila liburan Pulau Padar
Highlights
  • Jessica Mila dan Merdi Sahetapy pamer liburan di Pulau Padar saat pelayaran wisata sedang dibatasi
  • Pembatasan berlaku sejak 6-10 Agustus akibat gelombang tinggi hingga 2,6 meter di perairan Komodo
  • Warganet pertanyakan surat izin berlayar kapal rombongan, KSOP Labuan Bajo belum beri penjelasan resmi

Foto liburan yang biasanya cuma dapat likes dan komentar pujian, kali ini justru berbuah pertanyaan besar buat dua pasangan artis Tanah Air.

Jessica Mila bersama suaminya, Yakup Hasibuan, dan Merdi Octav Sahetapy bersama suaminya, Rama Sahetapy, mengunggah momen liburan di Pulau Padar, Taman Nasional Komodo, Minggu (9/8/2026). Masalahnya, unggahan itu muncul tepat saat akses pelayaran wisata ke Pulau Padar sedang dibatasi ketat.

Momen Liburan yang Muncul di Waktu yang Salah

Foto Merdi Octav Sahetapy saat di padar
Foto Merdi Octav Sahetapy saat Berfoto di padar

Dari unggahan Instagram Story yang beredar, rombongan tersebut terlihat berada di Pulau Padar bersama anak-anak mereka pada Minggu sore.

Merdi bahkan sempat membagikan video dirinya berada di puncak Pulau Padar, spot foto ikonis yang selama ini jadi incaran wisatawan yang datang ke Labuan Bajo.

Sayangnya, momen liburan yang terlihat indah ini justru langsung memicu pertanyaan begitu dibandingkan dengan kondisi sebenarnya di lapangan.

Warganet Ramai-Ramai Pertanyakan Izin Pelayaran

Sejumlah akun media sosial mulai membagikan ulang unggahan para artis tersebut, sambil menandai akun Instagram resmi KSOP Labuan Bajo.

Pertanyaan utamanya sederhana tapi tajam: bagaimana bisa rombongan itu sampai ke Pulau Padar, kalau pembatasan pelayaran masih berlaku? Salah satu akun bahkan secara spesifik mempertanyakan surat persetujuan berlayar atau SPB yang digunakan kapal pembawa rombongan tersebut.

Sorotan ini dengan cepat berkembang jadi bahan perbincangan di kalangan pelaku pariwisata Labuan Bajo sendiri. Di sinilah letak konteks yang jarang dibahas soal kasus semacam ini. Bagi pelaku usaha wisata yang sehari-hari harus patuh pada aturan pembatasan pelayaran, kemunculan rombongan artis yang tampak bebas berlayar ke area terlarang tentu terasa tidak adil, apalagi kalau memang benar tidak mengantongi izin resmi.

Kenapa Pulau Padar Sedang Ditutup?

Pembatasan ini bukan kebijakan tiba-tiba tanpa alasan jelas.

KSOP Labuan Bajo sebelumnya sudah mengeluarkan maklumat pelayaran yang membatasi akses wisata menuju Pulau Padar dan Pulau Komodo, berlaku sejak 6 hingga 10 Agustus 2026. Penyebabnya, kondisi cuaca buruk dengan gelombang tinggi mencapai 2,6 meter di perairan sekitar kawasan tersebut.

Pembatasan ini berlaku menyeluruh untuk semua jenis kapal wisata, mulai dari kapal phinisi, kapal open deck, sampai speedboat. Selama masa pembatasan, KSOP Labuan Bajo hanya melayani penerbitan SPB untuk kapal yang menuju Pulau Rinca, bukan Pulau Padar maupun Pulau Komodo.

Artinya, kalau memang rombongan artis ini benar-benar berhasil sampai ke Pulau Padar dalam rentang tanggal tersebut, ada pertanyaan besar soal bagaimana proses perizinan kapal mereka bisa lolos, atau jangan-jangan justru tidak melalui mekanisme resmi sama sekali.

Foto Tangkapan Layar Larangan Izin Berlayar ke Pulau Padar dan Komodo
Foto Tangkapan Layar Larangan Izin Berlayar ke Pulau Padar dan Komodo

Belum Ada Penjelasan Resmi

Sampai berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari KSOP Kelas III Labuan Bajo soal unggahan para artis tersebut, maupun status kapal yang mereka gunakan untuk mencapai Pulau Padar.

Ketiadaan klarifikasi ini justru membuat spekulasi publik makin liar. Sebagian menduga ada jalur khusus yang dipakai rombongan, sebagian lain mempertanyakan apakah aturan pembatasan benar-benar ditegakkan secara konsisten untuk semua pihak, termasuk figur publik dengan pengaruh besar di media sosial.

Publik kini menunggu klarifikasi resmi dari otoritas pelabuhan, sekaligus mempertanyakan apakah kasus ini akan berbuntut sanksi, atau justru berlalu begitu saja tanpa konsekuensi apa pun bagi pihak yang terlibat.

Share This Article
Follow:
Tim Redaksi Bali Reporter adalah kumpulan orang yang masih belum pede wajahnya dipajang di halaman bio. Alasannya macam-macam: takut ketemu debt collector, mantan yang tiba-tiba ngajak balikan, atau mertua yang mendadak jadi pembaca setia. Di luar itu, kami juga sibuk mencari colokan, WiFi yang kencang, tempat ngopi yang enak, dan alasan kenapa deadline selalu datang lebih cepat daripada jam pulang. Sampai hari ini kami belum pernah sepakat soal tempat ngopi terbaik di Bali. Tapi untuk satu hal, kami selalu kompak: berita harus enak dibaca.