Dua Gunung di NTT Meletus Berjarak Cuma Dua Menit, Ini yang Terjadi

Gunung Ile Lewotobi Laki-laki dan Gunung Ile Lewotolok di NTT meletus nyaris bersamaan dengan selisih waktu dua menit, memicu imbauan menjauhi radius 2 kilometer dari kedua gunung tersebut.

By
Tim Redaksi
Tim Redaksi Bali Reporter adalah kumpulan orang yang masih belum pede wajahnya dipajang di halaman bio. Alasannya macam-macam: takut ketemu debt collector, mantan yang tiba-tiba ngajak...
Gunung Lewotobi Ile Lewotolok meletus
Highlights
  • Gunung Lewotobi Laki-laki dan Ile Lewotolok meletus hanya berjarak dua menit di siang yang sama
  • Lewotobi Laki-laki lontarkan abu setinggi 800 meter, sementara Lewotolok mencapai 500 meter
  • Warga dan wisatawan diminta jauhi radius 2 km dari Ile Lewotolok yang kini berstatus Waspada

Bayangkan dua gunung berapi di kabupaten yang bertetangga, meletus nyaris di waktu yang sama, seolah saling bersahutan.

Itu yang benar-benar terjadi di Nusa Tenggara Timur, Jumat (7/8/2026) siang. Gunung Ile Lewotobi Laki-laki di Flores Timur dan Gunung Ile Lewotolok di Lembata sama-sama meletus, dengan selisih waktu hanya dua menit.

Lewotobi Meletus Duluan, Lewotolok Menyusul

Gunung Ile Lewotobi Laki-laki jadi yang pertama meletus, pukul 14.18 WITA.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Lewotobi Laki-laki, Emanuel Rofinus Bere, menjelaskan gunung berstatus Level III atau Siaga ini melontarkan kolom abu setinggi sekitar 800 meter di atas puncak, atau kurang lebih 2.384 meter di atas permukaan laut.

Kolom abu yang teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal, condong ke arah barat dan barat laut.

ā€œErupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 29.6 mm dan durasi ± 2 menit 11 detik,ā€ ujar Emanuel dalam keterangan resmi yang diterima detikBali, Jumat.

Dua menit kemudian, tepat pukul 14.20 WITA, giliran Gunung Ile Lewotolok yang meletus. Kolom abunya lebih rendah, sekitar 500 meter di atas puncak atau 1.923 meter di atas permukaan laut, dengan warna kelabu pekat yang condong ke arah barat daya.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Ile Lewotolok, Yeremias Kristianto Pugel, mencatat erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 40 mm dan durasi sekitar 52 detik.

Kenapa Dua Gunung Bisa Meletus Nyaris Bersamaan?

Masalahnya, kedekatan waktu letusan ini wajar menimbulkan pertanyaan, apakah kedua gunung ini saling memicu satu sama lain.

Sejauh ini, belum ada keterangan resmi dari petugas pos pengamatan yang mengaitkan langsung kedua erupsi ini sebagai satu rangkaian sebab-akibat. Yang jelas, keduanya memang berada di kabupaten bertetangga di jalur Cincin Api Pasifik, kawasan yang memang dikenal padat aktivitas vulkanik dan sering mencatat lebih dari satu gunung aktif dalam kondisi siaga di waktu bersamaan.

Di sinilah letak yang jarang dibahas soal fenomena kegunungapian di NTT. Kepadatan gunung berapi aktif di provinsi ini membuat kemungkinan dua letusan terjadi berdekatan bukan hal yang benar-benar mengejutkan bagi ahli vulkanologi, meski tetap jadi pemandangan langka bagi masyarakat awam.

Status Waspada, Radius Aman yang Wajib Dipatuhi

Yeremias menegaskan, Gunung Ile Lewotolok saat ini berstatus Level II atau Waspada.

Untuk itu, masyarakat sekitar, pengunjung, pendaki, dan wisatawan diimbau tidak memasuki maupun melakukan aktivitas apa pun dalam radius 2 kilometer dari pusat aktivitas gunung.

ā€œMewaspadai potensi ancaman bahaya guguran/longsoran lava dan awan panas pada sektor selatan dan tenggara, sektor barat, serta sektor timur laut Gunung Ile Lewotolok,ā€ tandasnya.

Sementara itu, Gunung Ile Lewotobi Laki-laki tetap berada di status yang lebih tinggi, Level III Siaga, yang biasanya disertai radius larangan lebih luas mengingat riwayat letusannya yang lebih intens dibanding Lewotolok.

Bagi warga di sekitar kedua gunung, situasi ini jadi pengingat untuk terus memantau informasi resmi dari pos pengamatan setempat, terutama karena aktivitas dua gunung berapi yang berdekatan seperti ini berpotensi menimbulkan dampak abu vulkanik yang saling tumpang tindih di wilayah sekitarnya.

Share This Article
Follow:
Tim Redaksi Bali Reporter adalah kumpulan orang yang masih belum pede wajahnya dipajang di halaman bio. Alasannya macam-macam: takut ketemu debt collector, mantan yang tiba-tiba ngajak balikan, atau mertua yang mendadak jadi pembaca setia. Di luar itu, kami juga sibuk mencari colokan, WiFi yang kencang, tempat ngopi yang enak, dan alasan kenapa deadline selalu datang lebih cepat daripada jam pulang. Sampai hari ini kami belum pernah sepakat soal tempat ngopi terbaik di Bali. Tapi untuk satu hal, kami selalu kompak: berita harus enak dibaca.