Ada satu hal yang mungkin terdengar sepele, tapi bagi orang tua sebenarnya cukup penting: tahu apakah anak sudah sampai sekolah atau belum.
Selama ini, informasi itu sering bergantung pada satu hal sederhana: percaya.
Anak berangkat dari rumah, orang tua mengira sudah sampai sekolah, lalu aktivitas berjalan seperti biasa. Kalau ternyata anak tidak masuk kelas, informasi itu belum tentu langsung sampai ke orang tua.
Di sinilah digitalisasi pendidikan mulai mengubah kebiasaan lama.

Bukan Sekadar Absen Digital
Salah satu contohnya datang dari SMK Negeri 5 Penerbangan Waibu, Kabupaten Jayapura, Papua. Sekolah yang berada di Kampung Bambar, Kecamatan Waibu ini tercatat sebagai pengguna layanan e-absensi MySCH.id.
Sistem ini bisa mencatat kehadiran secara digital, memantau data real-time, membuat laporan otomatis, sekaligus mengirim notifikasi langsung ke orang tua atau wali siswa. Fiturnya juga mendukung pemindaian barcode maupun teknologi pengenalan wajah.
Artinya, fungsi absensi tidak lagi berhenti pada mencatat siapa yang hadir dan siapa yang tidak. Data kehadiran langsung menjadi bagian dari komunikasi antara sekolah dan keluarga.
Perubahan ini kecil, tapi cukup berarti. Ketika orang tua memperoleh informasi kehadiran anak lebih cepat, sekolah tidak lagi jadi satu-satunya pihak yang memegang informasi itu. Orang tua ikut berada di dalam sistem.
Kenapa Ini Menarik
Absensi sebenarnya bukan cuma urusan administrasi sekolah. Ia berkaitan dengan disiplin, komunikasi keluarga, dan kemampuan sekolah mengetahui kondisi siswanya.
Bagi sekolah, data kehadiran real-time juga bisa dipakai memantau tren kehadiran dan mengidentifikasi siswa yang punya masalah absensi berulang.
Dulu, orang tua mungkin baru mengetahui masalah kehadiran ketika guru menghubungi, rapor dibagikan, atau anak akhirnya bercerita sendiri. Sekarang, sistem digital membuat informasi itu bergerak jauh lebih cepat, kadang bahkan sebelum jam pelajaran pertama dimulai.
Dari Jayapura, Relevansinya Sampai Bali
Menariknya, SMK Negeri 5 Penerbangan Waibu bukan sekolah yang baru mengenal digitalisasi.
Sekolah ini sudah memakai sistem penerimaan peserta didik secara daring, mulai dari pendaftaran, unggah dokumen, sampai beberapa tahap seleksi. Pada Juli 2026, siswa Program Keahlian Teknik Logistik sekolah ini bahkan menjalani Praktik Kerja Lapangan di Lanud Silas Papare selama tiga bulan, memperkuat keterampilan teknis dan kesiapan kerja mereka.
Jadi, digitalisasi di sekolah ini bukan berdiri sendirian. Ada upaya menyeluruh memakai teknologi dalam administrasi, penerimaan siswa, dan pengelolaan pendidikan sekaligus.
Di sinilah Bali sebenarnya punya banyak ruang untuk belajar. Bali sering ada di garis depan soal teknologi pariwisata, pembayaran digital, sampai ekonomi kreatif. Tapi digitalisasi pendidikan tidak selalu harus dimulai dari sistem yang mahal dan rumit. Kadang cukup dari pertanyaan sederhana: bisakah orang tua tahu anaknya sudah hadir di sekolah tanpa harus bertanya lebih dulu?
Bali Sebenarnya Punya Ruang untuk Melakukan Hal yang Sama
Bayangkan seorang siswa masuk gerbang sekolah pukul 07.10. Kartu dipindai. Data kehadiran tercatat. Orang tua langsung mendapat notifikasi.
Kalau siswa tidak hadir, sistem juga mencatatnya dan sekolah bisa segera menindaklanjuti. Tidak ada lagi menunggu rekap manual di akhir hari, tidak ada lagi guru memeriksa satu per satu buku absensi hanya untuk tahu siapa yang tidak masuk.
Tentu saja, teknologi bukan solusi untuk semua persoalan disiplin siswa. Sistem tetap butuh internet, perangkat, pengelolaan data yang baik, dan aturan jelas soal siapa saja yang boleh mengakses informasi siswa. Tapi konsep dasarnya sederhana: semakin cepat informasi sampai ke orang yang tepat, semakin cepat pula masalah bisa ditangani.
Itulah bagian paling menarik dari cerita sekolah di Papua ini. Bukan soal kartu, smartphone, atau WhatsApp-nya. Melainkan bagaimana sesuatu sesederhana absensi bisa diubah jadi sistem komunikasi nyata antara sekolah dan keluarga.
Kalau model seperti ini bisa berjalan di sekolah yang berada di Waibu, pertanyaannya bukan lagi apakah sekolah di Bali bisa melakukannya. Pertanyaannya, kapan mulai?
| Data | Keterangan |
|---|---|
| Sekolah | SMK Negeri 5 Penerbangan Waibu Kabupaten Jayapura |
| Lokasi | Kampung Bambar, Kecamatan Waibu, Kabupaten Jayapura, Papua |
| NPSN | 69970134 |
| Status | Sekolah negeri |
| Akreditasi | A |
| Program yang tercatat | Teknik Pesawat Udara |
| Sistem digital | MySCH.id tercatat mencantumkan sekolah sebagai klien |
| Fitur e-absensi | Real-time, laporan kehadiran, notifikasi orang tua, scan barcode/face recognition |








